My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 63


__ADS_3

“Pestanya selesai jam berapa?” tanya Alceena seraya menelungkupkan garpu.


Dariush menjawab dengan kedikan bahu. “Kenapa?”


“Tak apa. Bisakah kita kembali ke hotel setelah acara selesai dan suasana di sana sepi?” pinta Alceena. Tentu saja dia ingin menghindari agar tak ada orang yang melihat kebersamaannya.


Dariush mengulum senyum curiga. “Kau mulai kecanduan bersamaku, ya? Pasti masih ingin berada di dekatku terus, ‘kan?” tebaknya dengan menggoda Alceena. Dia menaik turunkan alis dan tangan yang menoel dagu wanitanya.


Alceena mencubit bibir Dariush yang selalu mengeluarkan kalimat sesuka hati. “Aku masih ingin keliling Kota Munich.” Dia berusaha untuk berkilah agar tak ketahuan maksud yang sesungguhnya.


Dariush masih tersenyum menggoda, seakan tak percaya dengan alasan Alceena. “Baiklah, kita menyusuri jalan Kota Munich menggunakan mobil.” Tentu saja anak Tuan Dominique itu akan menuruti keinginan wanitanya, mana bisa dia menolak.


“Namanya jalan-jalan ya pakai kaki, kalau naik mobil sudah beda lagi,” protes Alceena.


“Kau sedang hamil muda, Ceena, nanti kalau kandunganmu bermasalah, bagaimana? Memangnya kau mau terjadi hal buruk dengan anakmu?” Dariush mencoba memberikan penjelasan dengan memancarkan sorot teduh pada sang wanita.


“Tidak, aku membayar mahal agar bisa hamil dengan inseminasi. Tentu saja akan ku jaga sampai akhir, walaupun tak tahu siapa pria yang bersedia mendonorkan cairannya,” balas Alceena seraya mengelus perut dan menceritakan awal mula proses kehamilannya.

__ADS_1


Dariush mengulurkan tangan untuk membantu Alceena berdiri seraya bertanya sesuatu. “Apa kau tidak ingin mencoba mencari orang itu?”


Alceena menerima uluran tangan tersebut, keduanya saling menggenggam. “Tidak.”


“Kenapa?” tanya Dariush sembari mengayunkan kaki.


“Karena aku tak ingin saja. Lebih baik seperti ini, tidak terikat dengan siapapun.”


Dariush terdiam, tak mengajukan pertanyaan lagi. Sebab, semakin lama dia menggali informasi dari Alceena, pasti akan menimbulkan kecurigaan.


“Senyaman itu kau saat di dekatku, tapi tetap saja masih tak menerimaku untuk menjadi suamimu,” tutur Dariush seraya mengelus rambut pirang Alceena yang sedang tertidur berbantal pahanya.


Dariush tak ingin membangunkan wanitanya. Dia menggendong Alceena hingga ke lantai tempatnya menginap.


Keturunan Dominique tersebut hendak membawa Alceena ke dalam kamarnya. Tapi, wanita itu sudah bangun terlebih dahulu sebelum berhasil masuk ke ruangan yang sudah berada di hadapannya.


“Kita sudah sampai, ya?” tanya Alceena seraya mengucek mata.

__ADS_1


“Sudah.” Dariush menjawab tanpa berniat menurunkan Alceena. Justru dia membuka pintu kamar sendiri.


Alceena yang sadar bahwa yang dibuka oleh Dariush bukanlah kamarnya pun segera mengajukan protes. “Tolong turunkan aku, kamarku ada di sebelah.”


“Kau tak ingin tidur denganku saja? Bukankah katamu nyaman saat berada di sampingku?” tawar Dariush. Dia mengurungkan niat untuk mengayunkan kaki ke dalam, tapi tidak menurunkan Alceena.


Alceena segera menggeleng. “Aku ingin tidur di kamarku saja.”


Dariush menghela napas kecewa. Dia kira sudah bisa tidur berdua dengan Alceena setelah melewati malam yang sangat manis. “Baiklah, aku tak akan memaksamu.”


Anak Tuan Dominique itu pun menutup kembali pintu kamarnya dan membawa Alceena ke ruangan yang berada di sebelah. Segera masuk saat Alceena sudah menempelkan kartu untuk membuka kunci. Dengan hati-hati, Dariush merebahkan sang wanita di ranjang.


...*****...


...Dah kalian cengar cengir dulu aja sama kemanisan mereka. Sebelum badai topan mulai menerpa wkwkwk...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...

__ADS_1


__ADS_2