
Setelah yakin kalau orang yang tenggelam di danau adalah Dariush, kekasihnya yang sedang dia diamkan, barulah Alceena menunjukkan wajah tegang karena rasa panik serta takut terjadi hal-hal yang buruk pada pria yang sudah menemaninya selama beberapa bulan belakangan ini.
Alceena segera menutup pintu chalet, bahkan dia tak ingat untuk mengunci. “Ayo tunjukkan padaku di mana lokasi kekasihku tenggelam,” ajaknya dengan tak sabaran.
“Mari.” Wilona mengayunkan kaki secara perlahan karena dia pikir ibu hamil harus hati-hati. Ternyata, Alceena justru berjalan cepat-cepat.
“Ayo, kau lama sekali,” omel Alceena seraya menengok ke belakang.
“Pelan-pelan saja, Nona. Aku takut berjalan cepat dengan ibu hamil,” balas Wilona.
“Ck! Ini nyawa orang yang penting dalam hidupku, mana bisa aku pelan.” Alceena terus saja mengayunkan kaki. Walaupun lebih cepat dari biasanya, dia tetap berhati-hati.
Wilona pun mau tak mau mengikuti langkah Alceena. “Biar aku gandeng.” Dia berinisiatif melingkarkan tangan pada lengan ibu hamil tersebut.
__ADS_1
Kedua wanita itu pun berjalan bersamaan menuju danau.
“Bagaimana kejadiannya sampai kekasihku tenggelam?” Sembari menuju lokasi kejadian, Alceena bertanya kronologinya terlebih dahulu.
“Aku tak tahu persis, sepertinya kekasihmu kram saat berenang di sana,” jawab Wilona secara asal. Tapi bagusnya karena wajah sangat meyakinkan, tidak terlihat sedang bersandiwara.
“Ck! Anak Tuan Dominique satu itu, kenapa melakukan hal berbahaya, berenang di danau, seperti tak memiliki kolam renang saja di mansionnya.” Karena terlalu khawatir dan panik, Alceena sampai mengomel sendiri.
Perjalanan menuju ke danau rasanya sangat lama, padahal sudah secepat mungkin melangkahkan kaki. “Apa kekasihku sudah ada yang menolong?” tanyanya memastikan. Kalau belum, dia akan segera mencari bantuan agar bisa terselamatkan.
Saat jarak Alceena dengan danau sudah sangat dekat, matanya bisa melihat ada seorang pria yang sedang mencoba membawa Dariush ke tepi. Dadanya semakin berdebar kala menyaksikan sang kekasih lemas dan tak bergerak sedikit pun.
“Itu benar Dariush.” Alceena menunjuk seorang pria yang baru saja direbahkan ke atas tanah di tepi danau. Entah kenapa wanita itu otomatis menangis, mungkin karena terlalu sedih.
__ADS_1
Akhirnya Alceena pun sampai juga di tubuh sang kekasih yang lemas tak berdaya dan pucat. Dia langsung bersimpuh di bawah dengan air mata yang sudah mengucur deras. “Bagaimana keadaannya?” tanyanya pada pria yang menolong Dariush.
Pria itu berpura-pura memegang denyut nadi di tangan dan leher. “Detaknya sangat lemah, sepertinya dia terlalu banyak kemasukan air,” ungkapnya.
“Tolong keluarkan airnya, sebelum dia mati. Aku tak ingin kehilangan kekasihku,” pinta Alceena dengan sangat panik. Dia sampai memegang tangan Dariush yang terasa dingin dan lemas.
Padahal, orang yang dikhawatirkan bisa mendengar semua yang diucapkan oleh Alceena. Dalam hatinya sedang tertawa karena rencana yang diberikan oleh Daddy Davis berhasil juga. ‘Sekarang saja takut kehilangan, kemarin mendiamkanku terus,’ gumamnya dalam hati.
“Bertahan Sayang, kau harus kuat demi anak-anak kita. Jangan meninggalkan kami begitu saja.” Sembari dada Dariush ditekan oleh pria yang menolong, Alceena mengusap punggung tangan sang kekasih dan memberikan kecupan secara terus menerus sebagai bentuk semangat dan menyalurkan rasa cinta kasih. “Ingat, katamu anak-anak kita butuh Daddy, kalau kau tiada, memangnya rela jika mereka mempunyai Daddy baru?”
‘Sialan, dalam kondisi seperti ini masih saja teringat untuk mencari penggantiku,’ batin Dariush. Tapi dia masih bersandiwara, membiarkan Alceena mengeluarkan semua isi dalam hati.
...*****...
__ADS_1
...Dariush dah mulai peningkatan ya, bisa menjiwai sandiwara, udah kursus sama Daddy Davis tuh kayanya wkwkwk...