
“Aku harus memberi tahu hal ini pada keluargaku,” gumam Dariush. Sembari menunggu mobil yang melaju sangat cepat itu sampai ke bandara, dia menelepon Daddy Davis.
“Apa?” tanya Daddy Davis yang acara bermesraan dengan sang istri menjadi terganggu karena Dariush menelepon.
“Aku akan menikah dengan Alceena, sekarang juga!”
“Memangnya orang tua dia sudah memberimu izin?” Daddy Davis tidak langsung percaya begitu saja, karena informasi itu datang terlalu dadakan.
“Ya, asalkan aku datang ke Badan Kependudukan dua jam tiga puluh menit lagi.”
“Jadi, kau merelakan proyek besar demi menikah dengan Alceena?”
“Ya, uang bisa ku cari lagi. Tapi kesempatan menikah dengan wanita yang ku cintai belum tentu datang dua kali.”
__ADS_1
“Good, itu baru anakku,” puji Daddy Davis. Dia tak masalah kehilangan kontrak kerja sama, asal untuk alasan yang benar-benar penting untuk diperjuangkan melebihi uang.
“Daddy datang ke Badan Kependudukan segera, sebagai saksi karena aku dan Alceena akan menikah di sana,” pinta Dariush.
Dariush yang membawa kabar baik pun langsung membuat Daddy Davis lega bercampur senang. “Oke, kita tunggu di sana.”
Tuan Dominique beserta seluruh anggota keluarganya pasti akan menjadi saksi di peristiwa bersejarah untuk Dariush. Dia segera menghubungi anak-anaknya yang lain agar meninggalkan kegiatan demi salah satu anggota keluarga tercinta.
Sedangkan Dariush, pria itu berjalan sangat cepat memasuki jet pribadi keluarganya. Untung saja dia tak perlu membeli tiket pesawat komersil untuk perjalanan udara. Sehingga tak perlu cemas kehabisan jam terbang.
Dariush mencoba untuk tetap tenang, walaupun hati juga harap-harap cemas. “Sepertinya ini adalah salah satu ujian yang diberikan oleh Tuan Pattinson untuk melihat seberapa yakin dan seriusnya aku.” Dia menarik sebelah sudut bibir karena calon mertuanya seakan belum tahu sifatnya yang pantang menyerah. “Mau badai datang atau aku mendapatkan musibah pun pasti ku usahakan datang, selagi ragaku masih berjiwa, tak ada yang bisa menghentikan tekadku.”
Dariush terus meyakinkan diri bahwa tak ada halangan yang bisa memisahkan cintanya dengan Alceena. Kecuali takdir yang bisa memberikan jarak pada keduanya.
__ADS_1
Selama dua jam penuh, Dariush berada di atas udara. Dan dia buru-buru melepas sabuk pengaman saat jet pribadi telah mendarat sempurna di landasan pacu. Pria itu sampai mengabaikan sang sekretaris yang mengajukan pertanyaan karena dirinya seperti orang terburu-buru.
Dariush saat ini tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Pria itu berlari menuju tempat parkir di mana mobilnya terparkir.
“Shitt! Sepuluh menit lagi. Tak akan bisa terkejar waktunya kalau aku mengendarai mobil.” Dariush mengurungkan niat untuk masuk ke dalam kendaraan pribadinya. Dia justru beralih melihat situasi sekitar dan mata itu terhenti pada motor besar berwarna hitam yang baru saja berhenti menurunkan seseorang di area bandara.
Dariush segera menghampiri orang tersebut sebelum pergi. “Bisa kita bertukar kendaraan? Aku sangat butuh motor,” pintanya dengan suara yang tergesa-gesa.
Pemilik motor itu sampai menaikkan sebelah alis. Pasalnya, Dariush menyodorkan kunci mobil yang sangat mahal. “Kau serius ingin menukar kendaraanmu dengan milikku?”
“Ya! Cepat turun, dan bawa saja mobilku.” Dariush menarik tangan pemilik motor itu dan meletakkan kunci di sana. Dia mengibaskan tangan agar pria di hadapannya segera menyingkir.
...*****...
__ADS_1
...Harusnya aku yang naik motor di sana ya, gausah diganti sama mobil. Aku boncengin aja, tapi gak ku anterin ke Badan Kependudukan. Langsung ku antar ke surga agar tak ada yang bisa memilikimu....