
Setelah berhasil menuntaskan hasrat yang ditinggal saat nikmat-nikmatnya, Dariush pun mengangkat tubuh Alceena hingga wanita itu merasa seperti melayang.
“Kau mau mengajakku ke mana?” tanya Alceena yang pasrah saja digotong oleh sang kekasih, justru tangan melingkar di leher Dariush.
“Mandi bersama,” jawab Dariush dengan wajahnya yang menyengir.
“Tumben langsung mengajakku membersihkan tubuh. Biasanya juga tidur dulu sebentar, baru ke kamar mandi.”
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan di daerah sini, bukankah liburan bersama adalah keinginanmu?” Dariush merebahkan tubuh ibu hamil itu ke dalam bath up yang masih kosong. Kemudian tangan kekarnya menghidupkan air hingga perlahan bath up tersebut mulai terisi.
Dariush ikut bergabung di dalam bath up, duduk di belakang sang kekasih. Karena air di dalam sana belum terisi penuh, dia berinisiatif untuk membasahi tubuh Alceena menggunakan tangan yang meraup air.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” ucap Dariush.
“Apa?” Alceena sedikit menengok ke samping di mana kepala Dariush sedang bersandar pada pundaknya.
__ADS_1
“Misalkan aku memiliki sebuah rahasia besar yang menyangkut hidupmu, apakah suatu saat kau akan membenciku jika tahu akan hal tersebut?” Dariush bertanya sembari membaluri tubuh Alceena dengan sabun.
Alceena nampak mengedikkan bahu. “Tergantung tingkat rahasianya seperti apa. Kalau sangat fatal, bisa jadi aku kembali membencimu. Tapi, kalau rahasia kecil dan memang itu demi kebaikan yang mungkin tak bisa kau ungkapkan padaku, sepertinya aku akan baik-baik saja,” jelasnya seraya menarik ke atas kran shower yang berada tepat di atas kepalanya. Menunggu bath up penuh cukup lama, dia sudah ingin segera keramas.
Dariush terdengar menghembuskan napas. Pria yang biasanya berani melakukan apa pun pada wanita pujaan hatinya itu, kini sedang bingung mencari moment yang tepat untuk mengungkap bahwa dirinya adalah pendonor cairan saat Alceena inseminasi.
Anak Tuan Dominique itu tak menanggapi lagi penjelasan sang kekasih. Dia mematikan dua kran air dan mengambil shampo untuk membersihkan rambut Alceena.
Dariush terus saja memikirkan rencana yang diusulkan oleh Delavar untuk membuktikan bagaimana perasaan Alceena padanya. Kembarannya memberikan ide agar dirinya mengungkap siapa Daddy dari anak yang sedang dikandung oleh wanita itu. Jika Alceena tak marah saat mengetahui hal tersebut dan justru terlihat senang, berarti memang ada rasa cinta. Tapi, kalau sebaliknya, berarti semua kemanjaan Alceena adalah dorongan dari bayi yang sedang dikandung oleh wanita itu.
“Aku hanya sedang bertanya tentang pendapatmu saja,” kilah Dariush. Dadanya saat ini tengah berdebar. Maju mundur terus ingin jujur pada wanitanya.
“Oh, ku pikir kau akan mengatakan sebuah kejujuran padaku,” balas Alceena. Dengan perutnya yang buncit dan pergerakan yang tak segesit dahulu, dia memutar tubuh untuk berganti memandikan Dariush. “Sekarang giliranku.”
Kebiasaan mereka yang sering dilakukan setelah bercinta adalah mandi bersama walaupun tak ada adegan mengulangi setiap gerakan penyatuan tubuh. Namun, hal itu juga menyenangkan untuk membangun chemistry.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan tubuh, Dariush dan Alceena berganti pakaian yang lebih santai. Keduanya lanjut berjalan kaki menuju danau yang ada di dekat desa tempat mereka menginap.
“Sepertinya tempat ini akan menjadi lokasi kesukaanku untuk liburan,” ucap Alceena setelah mendudukkan pantat di atas rumput. Dia menyenderkan kepala ke bahu kokoh sang kekasih. “Bisa melihat danau yang indah, salju abadi di pegunungan Alpen, rerumputan hijau, dan yang pasti sangat sedikit polusi di sini. Udaranya sangat segar.”
“Jelas saja, coba kalau kita datang saat musim salju, mana bisa melihat rerumputan hijau seperti ini, yang ada putih semua,” balas Dariush seraya mengusap lengan Alceena penuh kasih.
“Mungkin suatu saat kita bisa datang ke sini lagi ketika musim salju.” Ucapan Dariush justru memberikan ide liburan untuk Alceena.
“Bisa diatur.”
Kedua anak manusia itu tak berbicara lagi. Kalau Alceena sedang asyik memfoto dan video setiap pemandangan di sana, lain hal dengan Dariush. Pria itu tengah meyakinkan diri sendiri kalau sekarang adalah saat yang tepat untuk mengungkap rahasia yang sudah dia tutupi selama enam bulan lebih.
...*****...
...Tenang Ayang, kalo Alceena marah, kamu bisa datang ke aku. Yakin seratus persen, aku siap menerima semua kondisimu, asalkan kamu tetep jadi anak sultan aja sih. Mon maap, maklum aja karna aku rada mata duitan shay wkwkwk no money no honey...
__ADS_1
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...