
“Aku turun dulu, sebelum ada yang melihat kita.” Merasa tak enak hati pada Dariush karena belum bisa membalas ungkapan cinta pria itu, Alceena memilih berpamitan.
Anak Tuan Pattinson yang kedua itu langsung mengambil koper yang ada di bagasi. Berjalan masuk ke dalam bangunan utama sebelum ada keluarganya yang memergoki. Walaupun mobil Dariush tak tembus pandang dari luar, tapi tetap saja rasanya tak enak jika ketahuan menjilat ludah sendiri.
Sedangkan Dariush tak segera pergi. Dia menatap punggung Alceena setelah wanita itu melambaikan tangan padanya.
“Aku tak bisa membayangkan jika kau hadir dalam hidupku hanya karena anak-anakku yang ada di rahimmu. Apakah saat mereka sudah lahir, kau akan memusuhiku lagi? Atau kau akan membenciku ketika tahu aku adalah Daddy dari anak-anakmu?” gumam Dariush. Pria itu menghela napas saat keresahan mulai melanda hatinya.
“Semoga, cinta akan segera hadir dalam hatimu, agar kau bisa menerimaku sebagai pasangan seutuhnya, dan merawat anak kita bersama.” Dariush menghidupkan mesin mobilnya lagi dan menginjak pedal gas setelah Alceena sudah tak terjangkau oleh pandangannya.
Saat ini hanya usaha dan doa saja yang bisa Dariush lakukan. Meskipun Alceena sangat manis dan jinak padanya, tapi untuk mengungkapkan rahasia dibalik inseminasi wanita itu, anak Tuan Dominique yang kedua belum memiliki nyali dan siap menghadapi sebuah kekecewaan jika tak berjalan sesuai ekspektasinya.
Sementara itu, Alceena berjalan sedikit cepat memasuki bangunan utama mansion keluarganya. Dia tak fokus dengan saudara-saudaranya yang sudah berkumpul.
__ADS_1
“Ceena, sini,” panggil Cathleen seraya melambaikan tangan.
“Wait, aku ingin buang air besar.” Alceena meninggalkan koper di tengah-tengah ruangan. Sedangkan dirinya menuju ke toilet terdekat.
Beberapa menit kemudian, Alceena kembali lagi menemui keluarganya yang sudah berkumpul di ruang keluarga. Matanya menyapu satu persatu orang yang ada di sana, seraya memposisikan duduk senyaman mungkin di sofa.
Alceena bisa melihat wajah Selena yang terus menunduk, tak berani meluruskan pandangan. Dari pengamatannya sejak tadi, sang kakak terus memainkan dua jempol tangan. Sepertinya wanita itu sedang merasa gelisah atau ketakutan.
“Mama dan Papa mana?” tanya Alceena saat tak mendapati orang tuanya.
“Oh.” Jawab Alceena singkat, tapi dia terus mengamati gerak gerik Selena, tanpa mengucapkan apa pun pada kakaknya itu. Dari penglihatannya, sepertinya anak tertua Mamanya sedang merasa bersalah juga.
Karena merasa tak enak dengan kakaknya yang terus menunduk seperti orang yang ketakutan, akhirnya Alceena pun mengajak Selena berbicara. “Aku sudah memaafkanmu, Selena. Kau tak perlu cemas. Kami hanya ingin memberi tahu tentang hubunganmu dengan Brandon pada Mama dan Papa. Perihal penyebar rumor itu, aku tahu jika bukan kau pelakunya. Aku tak akan menuntutmu, tenang saja.”
__ADS_1
Selena perlahan menaikkan kepala hingga pandangan mata yang nampak sendu itu saling bersitatap dengan adiknya. “Sungguh?”
Alceena menjawab dengan ulasan senyum tanpa suara. Tapi tak ada yang bisa mengartikan maksud dari tarikan bibirnya.
“Ada apa ini? Tumben pagi-pagi sekali sudah berkumpul?” Papa Danzel yang baru saja menginjakkan kaki di mansionnya pun langsung bertanya.
“Duduk dulu, Ma, Pa. Ada yang ingin kita bicarakan,” ajak Madhiaz seraya menunjuk sofa di hadapannya.
“Wajah kalian terlihat serius sekali, Mama jadi merasa ada sesuatu yang tak enak akan terjadi,” celetuk Mama Gwen saat mengamati mimik anak-anaknya. Dia dan sang suami pun ikut duduk di sofa yang masih kosong.
...*****...
...Firasatmu emang bener Gwen. Anak-anakmu lagi pada punya masalah noh. Kurangnya keterbukaan jadinya saling nutupin rahasia masing-masing....
__ADS_1
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...