My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 45


__ADS_3

Aldrich menuruni anak tangga dengan membawa satu koper lagi. Kedatangannya membuat Alceena menatapnya.


“Kau sungguh ingin tinggal sendiri?” tanya Alceena yang tak menyangka jika ucapannya terakhir kali benar-benar membuat Aldrich hendak meninggalkan mansion Pattinson.


Aldrich menganggukkan kepala. “Iya, bisa kita bicara berdua? Di taman,” pintanya. Dia ingin menyampaikan sesuatu pada Alceena.


“Boleh.” Alceena pun mengayunkan kaki menuju taman samping. Berdiri di antara bunga-bunga yang selalu dirawat oleh Mamanya. “Kau ingin bicara apa denganku?” Dia langsung melontarkan pertanyaan saat tubuh mereka sudah saling berhadapan. Nada bicara Alceena tak terdengar ketus seperti terakhir kali.


Aldrich mengulurkan tangan. “Aku minta maaf jika kata-kataku terakhir kali membuatmu emosi. Benar katamu, tidak sepantasnya memiliki perasaan pada seseorang yang sudah seperti anggota keluarga sendiri.”


Alceena melihat ka arah tangan yang menggantung di udara, dia membalas dan keduanya berjabat tangan. “Aku juga minta maaf jika ucapanku terakhir kali terlalu menyakitkan, kemarin aku sedang merasakan sakit sehingga cepat emosi. Dan maksudku juga agar kau tidak menyukaiku lagi, aku tak mau memberimu harapan, jadi sering berkata ketus denganmu.” Alceena menarik tangannya lagi setelah mengakui kesalahan yang tak sepantasnya dia lakukan pada anggota keluarganya.

__ADS_1


Aldrich mengangguk sekilas, memahami bagaimana perasaan Alceena. “Kau benar, Ceena. Seharusnya aku sadar diri agar mulai hidup mandiri dan tak bergantung pada keluarga Pattinson yang sudah membesarkanku.”


“Aku tak bermaksud seperti itu, kemarin hanya emosi sesaat. Kau bisa tinggal di sini karena orang tuaku sangat menyayangimu, dan aku beserta kembaranku pun sama,” balas Alceena. Dia jadi merasa tak enak karena membuat Aldrich menjadi berkecil hati.


“Tidak, aku sudah membeli apartemen sebagai tempat tinggal baru.”


Alceena mengangguk paham. Dia merentangkan tangan dan memeluk Aldrich yang sudah dia anggap sebagai kakak sendiri. “Seringlah bermain ke sini, menjenguk orang tua kita. Kalau perlu setiap saat makan malam atau sarapan, sempatkan untuk datang.” Dia menepuk punggung pria yang tubuhnya lebih tinggi darinya. “Aku tak pernah membencimu, kau tetaplah kakakku walaupun kita tak sedarah. Selamanya akan ku anggap sebagai anggota keluarga.”


Aldrich membalas pelukan adik tirinya, sebisa mungkin tak melibatkan perasaan. “Terima kasih karena kau mau memaafkanku.”


“Aku akan mencobanya.”

__ADS_1


Alceena dan Aldrich pun masuk ke dalam bangunan utama lagi setelah menyelesaikan pembicaraan tersebut. Bertengkar dengan anggota keluarga memang hal wajar, asalkan tidak berlarut-larut dan menaruh dendam yang tak ada ujungnya. Saling memaafkan agar hubungan kekerabatan tidak hancur pun perlu. Sebab, hidup jika tak ada asam, garam, gula, dan micinnya pun tak akan seru.


Tepat sekali saat kaki Alceena berhenti di ruang tengah, Cathleen dan Selena baru saja sampai.


“Cath?” Alceena mencoba memanggil kembarannya. Dan hanya dijawab dengan senyuman saja.


“Aku ke kamar dulu, lelah sekali badannya setelah jalan-jalan.” Cathleen justru langsung berpamitan pada semua anggota keluarganya. Dia mengabaikan sapaan Alceena, berjalan melewati kembarannya itu dan menuju kamarnya.


Semua orang yang melihat gelagat Alceena dan Cathleen yang tidak seperti biasanya pun merasa aneh.


“Kalian bertengkar?” Madhiaz yang tak suka dengan pemandangan tersebut pun langsung mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


...*****...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...


__ADS_2