My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 163


__ADS_3

Sementara Dariush membuang kotoran di toilet, Alceena segera menanggalkan pakaian dan membiarkan tubuhnya polos. Dia lalu mengambil posisi tidur di kasur, miring ke arah pintu kamar mandi agar saat sang kekasih keluar langsung melihat dirinya yang sudah tak memakai sehelai benang pun.


“Pasti setelah ini dia langsung mengajakku bercinta,” gumam Alceena dengan sangat percaya diri. Dia ingin Dariush kelelahan malam ini dan berakhir bangun kesiangan, lalu tak meninggalkannya saat dini hari. Wanita itu sampai cekikikan sendiri saat membayangkan kalau sang kekasih akan berakhir di Switzerland menemaninya.


Alceena segera mengulas senyum tat kala melihat ada kaki yang mulai keluar dari kamar mandi. “Sudah selesai, Sayang?” tanyanya dengan suara yang seperti menggoda.


Dariush menaikkan sebelah alis saat melihat kekasihnya. Dia segera mengayunkan kaki kian mendekati Alceena. “Kenapa kau tak memakai baju? Cuaca sedang dingin, nanti kau bisa sakit.” Pria itu justru menarik selimut utuk menutupi tubuh polos sang wanita.


Alceena menatap bingung pada Dariush. Biasanya pria itu langsung berhasrat jika melihatnya seperti ini. Kenapa sekarang mendadak berbeda? Anak Tuan Dominique itu justru ikut merebahkan tubuh di balik punggungnya dan melingkarkan tangan di perut buncit ibu hamil tersebut.


“Apa sekarang kau sudah tak menginginkan tubuhku lagi? Kenapa menganggurkan aku begitu saja? Padahal sengaja aku ingin memancing hasratmu,” celetuk Alceena. Tanpa rasa malu, wanita itu mengungkapkan rencananya sendiri. Karena dia terlalu sebal dengan Dariush yang tak menunjukkan tanda-tanda bergairah seperti biasanya.


“Aku takut kau lelah, Sayang. Kita baru beberapa jam sampai di sini. Lebih baik istirahat saja,” jelas Dariush mencoba berkilah. Padahal, dia sendiri sengaja menahan hasrat karena takut bangun kesiangan. Pria itu tak bisa melewatkan meeting bersama salah satu klien penting. Andai saja tak ada urusan pekerjaan, pasti Dariush pun mau saja dipancing seperti sekarang. Tapi ada tanggung jawab atas profesi yang dia geluti sekarang.

__ADS_1


Alceena membalikkan tubuh secara perlahan, hingga berhadapan dengan Dariush dan kedua sorot mata orang itu saling bertubrukan. “Aku baik-baik saja.” Wanita itu membelai lembut rahang tegas sang kekasih. “Sebelum kau tinggal pulang ke Helsinki, bukankah lebih baik kita bercinta? Apa lagi udara di luar sedang dingin.” Dia terus saja menggoda.


Tapi Dariush tetap tak mau, pria itu justru mendekap hangat Alceena. “Tidak, Ceena. Perutmu semakin buncit, kasian anak-anakmu jika mendapatkan guncangan terus. Biarkan mereka tidur dengan tenang, Mommynya juga.” Anak Tuan Dominique mengelus kepala sang kekasih agar tak mengajaknya bercinta.


Alceena tentu saja memanyunkan bibir. Gagal sudah usahanya agar membuat Dariush tak meninggalkannya secepat ini. Tapi, berkat pelukan dan usapan penuh kasih sayang yang diberikan oleh Dariush, akhirnya Alceena terlelap juga tanpa merengek mengajak bercinta.


Tepat pukul dua dini hari, Dariush terbangun. Dia harus segera kembali ke Helsinki. Pria itu tak mau membangunkan Alceena yang sedang nyenyak. “Sayang, aku pulang dulu,” pamitnya dengan suara berbisik dan melabuhkan kecupan di kening pujaan hatinya.


Dariush tak membersihkan diri terlebih dahulu. Langsung memakai setelan kerja yang kemarin dipakai. Dia keluar dari kamar, menemui Roxy, orang kepercayaan di keluarga Dominique.


“Roxy,” panggil Dariush pada pria yang kini tengah duduk di depan perapian.


“Ya, Tuan?” Roxy segera menghadap majikannya.

__ADS_1


“Tolong kau jaga Alceena, jangan sampai terjadi apa pun dengannya. Pastikan dia makan dan minum yang bergizi. Jangan biarkan wanitaku terluka sedikit pun,” titah Dariush.


“Baik, Tuan.” Roxy mengangguk paham. “Apakah Anda mau saya antar sampai ke bandara?” tawarnya kemudian.


Tapi, Dariush justru mengeluarkan sebuah decakan. “Kalau kau mengantarku, lalu siapa yang menjaga Alceena? Aneh-aneh saja kau itu.” Dia mengibaskan tangan seraya mengayunkan kaki menuju pintu keluar.


Selepas kepergian Dariush, Roxy kembali duduk di depan perapian agar tubuhnya hangat. Perlahan dia terlelap, tapi pria itu tetap siaga.


Tiga jam sejak Dariush terbang ke Finlandia, suasanya rumah sederhana yang disewa oleh Alceena itu masih sepi. Tapi tidak lagi saat satu detik berikutnya, Roxy mendengar suara orang berteriak dan membuatnya segera membuka mata karena bunyi itu berasal dari kamar Nona Alceena yang kini menjadi amanatnya untuk dijaga.


...*****...


...Ceena, jangan banyak drama cuma buat cari perhatian Dariush. Gantian dong! Aku juga mau ngekepin ayang Dariush....

__ADS_1


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...


__ADS_2