
Alceena menatap lekat wajah Cathleen, siap mendengarkan informasi yang hendak diberikan oleh kembarannya tersebut. “Apa?”
Cathleen menggenggam erat tangan wanita seksi berperut sedikit buncit. Menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskan perlahan sebelum akhirnya sebuah kalimat terucap dari bibir. “Aku sudah tahu siapa yang menyebarkan rumor tentangmu saat itu.”
Ucapan Cathleen itu tak bisa terdengar jelas di telinga Alceena karena bertepatan sekali dengan suara pemandu acara yang menyebutkan nama perusahaan Alc Entertainment.
“Wait, kita lanjutkan pembicaraan ini nanti lagi. Perusahaanku sudah dipanggil, dan aku harus segera presentasi,” ucap Alceena seraya menepuk punggung tangan Cathleen.
Cathleen menghela napas. Hanya bisa melihat Alceena berjalan menuju panggung yang ada di depan. “Mungkin waktunya kurang tepat untuk melakukan perbincangan serius di sini,” gumamnya mencoba menilai situasi yang dihadapi.
Sementara itu, Alceena berdiri di hadapan seluruh pebisnis muda yang hadir pada acara tersebut. Dia memaparkan projek perusahaannya yang akan berlangsung tahun ini. Menerangkan bagaimana konsep film yang sedang dalam proses pencarian sponsor ataupun investor yang mau membantu mengalirkan dana segar untuk biaya operasional.
“Film ini bergenre action, romance, dan komedi. Sehingga alur cerita yang nantinya berdurasi kurang lebih dua jam itu tidak terlalu membosankan, ada adegan menegangkan, percintaan yang mampu membuat penonton terbawa suasana hati, dan sedikit humor agar tetap menghibur.”
__ADS_1
Alceena memencet pointers yang berada di tangannya, merubah slide presentasi yang kini menunjukkan lokasi. Dia melanjutkan pemaparan projek film tersebut hingga rincian anggaran beserta target pencapaian.
“Sekian, itulah konsep yang sudah matang dari perusahaan saya. Dan film ini merupakan projek terbesar dari Alc Entertainment serta keuntungannya juga sangat bagus.” Alceena menutup presentasi, namun dia belum selesai sampai di situ saja karena pemandu acara sudah mempersilahkan tamu undangan untuk sesi tanya jawab.
Terlihat banyak sekali orang yang ingin bertanya. Termasuk Dariush yang mengangkat tangan.
“Baik, saya persilahkan untuk Tuan Dariush mengajukan pertanyaan.” Pemandu acara itu mempersilahkan salah satu penanya, dan panitia yang lain segera memberikan microphone agar suara bisa terdengar sampai ke depan.
Dariush tidak menunjukkan kedekatannya dengan Alceena. Dia berlaku seperti pebisnis yang lain. Pria itu tetap duduk saat menyampaikan apa yang ingin diutarakan. “Konsepnya bagus, tapi sepertinya ada yang kurang dan belum Anda sebutkan. Rate umur penontonnya delapan belas plus, Anda belum memaparkan adegan apa saja yang akan ada di dalam film itu. Misal seperti hubungan intim yang menunjukkan orang telanjang, adegan kekerasan, ataupun lainnya. Saya rasa itu perlu untuk disampaikan agar lebih detail.”
Pemandu acara pun mempersilahkan Alceena untuk menjawab pertanyaan tersebut.
“Terima kasih atas pertanyaan Anda. Untuk adegan yang termasuk ke dalam rate delapan belas plus pada film ini yaitu kekerasan, kata-kata kasar, dan hubungan intim yang tidak terlalu digambarkan secara jelas, hanya sekilas saja karena saya ingin fokus pada konflik, bukan adegan ranjang.” Alceena sudah menjawab pertanyaan pertama, dia akan melanjutkan yang kedua. “Hal yang menarik perhatian penonton adalah konflik serta penyelesaian masalahnya yang menegangkan.”
__ADS_1
Alceena dan Dariush benar-benar terlihat seperti dua orang pebisnis profesional yang tidak menunjukkan bahwa keduanya terlibat hubungan asmara.
Dariush masih belum puas. Dia menyanggah lagi. “Saya mau menjadi investor, dan bersedia mendanai seluruh biaya projek Anda. Asalkan mau menambahkan sedikit konsepnya. Simple, saya ingin ditambahkan adegan dewasa yang terlihat detail, walaupun durasinya tak banyak, namun hal itu tak bisa dipungkiri jika mengundang banyak penonton sesuai rate umur. Konflik tetap seperti apa yang sudah dikonsepkan. Bagaimana?”
Alceena terdiam untuk berpikir, penambahan konsep tak bisa gegabah langsung disetujui karena pembuatan film ini bukan hanya dirinya saja yang merancang. Tapi ada tim dari perusahaannya. “Kita bisa bicarakan hal tersebut dikemudian hari jika memang Anda yakin dan bersedia menjadi investor pada projek saya.”
Dariush mengangguk dan mengembalikan microphone kepada panitia. Sedangkan Alceena masih menerima pertanyaan dari pebisnis lainnya.
Seperti itulah inti dari pertemuan pebisnis di Eropa. Kegiatan itu awalnya diprakarsai oleh keluarga Dominique karena sering mendapatkan pengajuan pendanaan. Sehingga mereka memberikan ide untuk acara seperti ini, agar sekali pemaparan projek, bisa sekaligus mendapatkan beberapa perusahaan yang bersedia untuk membantu atau bekerja sama.
Setelah selesai, Alceena kembali duduk di samping Cathleen. Dia ingat jika obrolannya tadi belum selesai. “Tadi kau mau bicara apa denganku, Cath? Maaf karena tadi harus terjeda sebentar.”
...*****...
__ADS_1
...Dariush, kamu mau modus ya? Sok sokan mau kasih dana segar tapi minta adegan dewasa jelas. Kamu pasti pengen nonton sambil praktek kan sama Alceena? Wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...