My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 88


__ADS_3

"Kami datang ke sini ingin membicarakan sesuatu yang penting untuk dibahas, karena menyangkut hubungan keluarga kita yang sepertinya akhir-akhir ini kurang baik." Madhiaz menyela pembicaraan antara Alceena dan Selena. Sebisa mungkin dia memposisikan diri menjadi penengah. Tidak memihak siapa yang salah dan benar, hanya ingin keluarganya tetap damai.


Selena mengangguk. Dia seperti paham ke mana arah pembicaraan ini. Bersyukur masih memiliki saudara seperti Madhiaz yang menyikapi masalah dengan hati tenang. "Aku bisa menjelaskan kronologi awalnya."


Selena yang sudah siap hendak menceritakan bagaimana dirinya bisa sampai hamil anak Brandon Brooks pun harus mengatupkan bibir lagi. Sebab, Madhiaz menaikkan tangan kanan, memberikan isyarat stop agar tak berbicara terlebih dahulu.


"Sebelum kau menjelaskan, Cathleen ingin menyampaikan sesuatu." Madhiaz menyentuh punggung tangan sang adik, memberikan isyarat agar berbicara pada Selena.


Mata Selena kini terfokus pada Cathleen yang berwajah muram. "Cath, kau menangis?" Dia justru mengajukan pertanyaan karena menangkap jelas raut sang adik.


Cathleen mengulas senyum kaku, rasanya canggung sekali. Setelah menuduh Selena, menampar, dan tak mau mendengarkan penjelasan dari saudaranya, kini dia dihadapkan oleh orang yang masih terdengar peduli dengan kondisinya. Padahal sudah pasti apa yang dia lakukan menyakiti hati.


Pertanyaan Selena tidak dijawab oleh Cathleen. Dia mengulurkan tangan ke depan kakaknya. "Maafkan aku karena tadi sudah menamparmu dan langsung menuduh tanpa mau mendengarkan penjelasan darimu. Tadi aku terlalu emosi, sampai menyimpulkan sendiri semua pembicaraan yang diam-diam aku dengar." Wanita itu berbicara dengan bibir yang terlihat bergetar.

__ADS_1


Selena bukannya langsung menjabat tangan Cathleen. Dia justru berdiri, mendekati adiknya yang paling kecil. Wanita itu sedikit merendahkan tubuh dan memeluk anak terakhir orang tuanya. Memberikan tepukan di punggung. "It's okay, aku tahu bagaimana sifatmu. Dan sudah ku maafkan."


Cathleen bisa bernapas lega. Dia tak akan disudutkan lagi oleh Madhiaz, dan juga tak membuat dua kembarannya berdebat lagi karena dirinya.


Selena kembali duduk di kursi semula. Menatap satu persatu ketiga adik kembarnya. Dan pundak pun merasakan jika sedang dipijat oleh Aldrich yang tengah memberikan keyakinan bahwa masalah ini memang sudah waktunya diungkap.


"Oke, aku sangat penasaran, bagaimana kau bisa hamil anak mantan calon suamiku? Bahkan usia kandungamu lebih tua tiga minggu dari milikku. Tandanya kau dan Brandon berhubungan di belakangku saat kami mempersiapkan pernikahan. Apa diam-diam kalian berselingkuh?" Alceena melontarkan sebuah pertanyaan dengan suara yang terdengar menahan emosi.


“Berapa kali kalian melakukan hal itu di belakangku sampai bisa hamil?” Alceena terus menginterogasi lagi. Masih ada rasa belum puas dengan penjelasan Selena.


“Hanya satu kali.”


“Apakah itu alasan kau dan Aldrich tak segera pulang dari Munich?”

__ADS_1


Selena menganggukkan kepala. Membenarkan pertanyaan Alceena.


“Kenapa?” Alceena kelepasan berbicara dengan sedikit sinis.


Selena tak paham dengan pertanyaan yang dilontarkan. “Maksudnya?”


“Kenapa kau tak langsung pulang saat itu? Setelah berhubungan dengan Brandon, apa kau mengharapkan sesuatu di sana, sampai menunda kepulangan selama dua minggu dan tidak menghadiri pernikahanku?” Alceena sedari tadi mencoba berpikiran positif, tapi entah kenapa semakin mengulik Selena, membuat hatinya semakin bergejolak tak terima. Dia sampai mengepalkan tangan agar tak berkata kasar seperti kali terakhir menghadapi Aldrich saat emosi.


...*****...


...Hayoloh, Alceena dah macem wartawan, belom diem kalo gak puas sama jawabannya wkwkwk...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...

__ADS_1


__ADS_2