
Daddy Davis sudah berada di dalam apartemen keponakannya. Dia tak masuk dengan menembus pintu atau membuka sendiri dengan memasukkan kode sendiri, tapi Geraldine yang membantu. Pria tua berumur enam puluh tahun lebih itu jelas tak bisa mengakses sendiri.
Tuan Dominique dan Geraldine sudah berada di ruangan di mana Gerald tertidur setelah makan dan minum hidangan yang sudah dicampur dengan obat bius.
“Ayo bantu angkat Gerald ke kursi roda. Aku sudah tua, mana kuat menggotong bocah sebesar ini sendirian,” titah Daddy Davis yang saat ini sedang melingkarkan tangan di sela-sela ketiak keponakannya.
“Sekarang saja mengaku tua, tapi kalau bercinta masih ingin seperti anak muda,” ejek Geraldine. Tapi dia tetap membantu pamannya. Kedua tangan memegang kursi agar tak ikut bergerak saat Gerald diangkat.
“Uncle, kau berdirikan saja Gerald, lalu seret dia. Aku pun tak kuat kalau menggotong tubuhnya. Kursi sudah ku pegang.” Geraldine justru balas memberikan perintah. Memang hanya anggota keluarga Dominique dan Giorgio saja yang berani mengatur Tuan penguasa bisnis di Eropa itu.
Daddy Davis juga menurut saja dengan ucapan keponakannya. Dia sedikit menaikkan tubuh Gerald hingga pantat tak menyatu dengan kursi lagi. “Tarik kursinya!” Pria tua itu balas memberikan perintah.
Dan setelah Gerald tak duduk lagi, Daddy Davis menyeret keponakannya. “Pegang kursi roda!” titahnya lagi.
“Sudah, Uncle.” Ternyata Geraldine memiliki inisiatif sendiri sebelum diperintahkan.
Tuan Dominique pun menyatukan pantat Gerald yang terkulai lemas itu ke atas kursi roda. “Keponakan yang sangat menyusahkan,” gerutunya seraya menoyor kepala anak sahabat sekaligus saudara iparnya yang sedang tak sadarkan diri itu.
“Ayo berangkat, kau yang mendorong,” ajak Daddy Davis yang sudah siap mengayunkan kaki.
“Gerald belum mandi, tampan begini tak lucu kalau datang ke pesta dengan kaus dan boxer saja,” celetuk Geraldine, membuat Daddy Davis berhenti di ambang pintu dan berbalik badan.
“Justru karena dia tampan, jadi tak masalah mau memakai compang-camping atau bau pun tetap saja ada wanita yang meliriknya.”
__ADS_1
“Kita mandikan Gerald dulu.”
Daddy Davis menepuk jidatnya. “Kau itu bodoh atau tak pernah diajari oleh Daddymu? Kalau kembaranmu kau guyur air, jelas saja dia akan bangun.”
“Yasudah, bantu aku mengganti pakaiannya, nanti ku semprot dia dengan parfum yang banyak.”
“Ck! Anak George satu ini banyak sekali permintaan. Bukan menyusahkan Daddynya sendiri, justru merepotkan unclenya.” Meskipun menggerutu, Tuan Dominique tetap memenuhi permintaan sang keponakan.
Kedua orang itu membawa Gerald ke dalam kamar. Daddy Davis memilihkan pakaian dan tak meminta pendapat Geraldine tentang setelan kain yang menjadi pilihannya.
“Uncle, itu terlalu santai untuk acara pesta,” protes Geraldine yang melihat pakian serba putih di tangan pamannya.
Daddy Davis mulai melayangkan pelototan ke arah keponakannya. “Jangan banyak protes, sudah bagus aku bantu.” Dia berucap tegas karena tak kunjung selesai jika terus didebat oleh Geraldine.
Mereka bertiga sudah sampai di lokasi acara setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit.
Daddy Davis dan Geraldine membawa si manusia berhati dingin itu ke dalam gedung acara pesta, menggunakan kursi roda agar tak terlalu berat kalau memapah. Sudah seperti orang sakit saja.
“Aku memantau dari atas, kau bawa dan temani sendiri kembaranmu,” ucap Daddy Davis.
Geraldine melongo menatap pamannya. “Aku jadi seperti suster kalau mendorong dan menunggu Gerald sampai bangun.”
Daddy Davis berdecak, keponakannya ini ingin enak saja. “Kau itu banyak sekali maunya.”
__ADS_1
Tuan Dominique pun menyapu pandangan ke seluruh orang-orang yang ada di pesta itu. Mencari seseorang yang mungkin bisa menjaga dan menemani keponakannya sampai bangun. Dan setelah mendapatkan target, dia mengeluarkan suara. “Hei! Kau! Ke sini!”
...*****...
...Makanya om, jadi orang jangan terlalu licik, jadi dimanfaatin sama keponakanmu wkwkwk...
...Sorry bestie, hari ini dan sampe akhir bulan aku up sehari ga 3 bab dulu. Karna ya ada sesuatu yang tidak bisa disampaikan. Tapi diusahain tetep up walaupun cuma sehari satu...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...
...*****...
...Mampir ke karya baru temen aku yuk bestie. Siapa tau suka dan sesuai selera kalian. Judulnya Queen for The King oleh author Dhea Novita...
Blurb:
King Zack Walton tidak pernah terima posisinya sebagai lelaki paling populer di sekolah direbut begitu saja oleh mahasiswa baru bernama Ace. Ace melemparkan sebuah tantangan, "Siapa pun yang bisa membawa Queenza sebagai pasangan di party bulan depan, dia yang akan memenangkan posisi tersebut."
Queenza Mathew, wanita cantik yang selalu tidak ingin kalah dan begitu membenci King di dalam hidupnya. Sedari kecil mereka tidak pernah akur, hanya pertengkaran yang selalu terjadi di setiap pertemuan mereka.
"Queen, maukah kau menjadi kekasihku?" tanya King di depan semua mahasiswa. "Apa kau gila? tentu saja tidak!"
__ADS_1