
“Dariush ...!” Alceena meraung, meneriakkan nama pria yang sudah mengisi hati dan harinya. Terdengar jelas bahwa wanita itu sangat sedih. Dia terus memeluk ponsel Dariush sembari tak henti menangis. Tubuh bahkan terasa tidak memiliki tenaga untuk menopang berat badan, sampai harus dipegangi oleh Mommy Diora dan Mama Gwen.
Beberapa orang yang ada di dekatnya pun menatap ke arah Alceena. Tuan Dominique segera menghubungi dan memberikan perintah pada semua anak buahnya untuk mencari Dariush ke seluruh rumah sakit dan penjuru Kota Helsinki. Mereka hanya bisa menguatkan Alceena agar tetap tabah, menanti kabar yang bisa dipercaya.
“Dariush ... kenapa kau tidak segera sampai di sini?” ucap Alceena lagi diiringi isakan. Dia sangat terpukul dan hanya bisa berharap kalau calon suaminya masih selamat.
Di saat keluarga Dominique dan Pattinson memperhatikan Alceena, tiba-tiba ada suara seseorang yang mampu membuat perhatian kedua keluarga besar itu beralih mengalihkan pandangan pada orang yang baru saja datang tersebut.
“Aku di sini, Sayang,” ucap Dariush seraya mengayunkan kaki semakin mendekati calon istrinya. Dia sudah tak memakai infus dan selang darah lagi. Dilepasnya sebelum turun dari ambulan.
__ADS_1
Suara itu mampu membuat Alceena langsung melihat pada sosok pria berpakaian setelan kerja yang sudah sobek-sobek. Tanpa pikir panjang, dia segera menghambur memeluk Dariush. “Syukurlah kau sampai di sini. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Walaupun ada perut buncit yang membuat pelukannya seperti berjarak, tapi rasa lega telah melihat sang pria pun tak bisa ditutupi.
Dariush meringis, menahan sakit saat mendapatkan pelukan secara dadakan. Tapi, dia berusaha untuk tak memperlihatkan itu pada orang-orang yang dia sayang. Dariush justru membalas pelukan dan mengusap rambut Alceena. “Aku selalu berusaha menepati perkataanku.”
Alceena melepaskan pelukan, tadi dirinya belum sempat melihat kondisi Dariush secara detail karena sangat ingin memeluk pria itu. Sehingga, sekarang dia menelisik setiap detail dari pria yang berdiri di hadapannya.
Dari ujung kepala tak ada yang aneh, rambut cokelat Dariush biasa saja. Semakin turun ke wajah, Alceena bisa melihat kalau pria itu tampak sangat pucat. Lebih ke bawah lagi, pakaian Dariush banyak sobek. Dan terakhir, pandangan mata itu berhenti pada darah yang menetes di lantai.
Tapi, Dariush mematung di tempat. Dia mengulas senyum supaya Alceena tidak khawatir. “Aku baik-baik saja, Sayang. Bukankah kita ingin menikah hari ini?”
__ADS_1
Dariush merengkuh pinggul Alceena, hingga dress yang dipakai oleh wanita itu terkena noda darah. Walaupun kesehatannya tidak bagus, tapi harus kuat menahan seluruh sakit di tubuh, demi memenuhi persyaratan terakhir dari Tuan Pattinson.
Tuan Pattinson yang sejak tadi melihat kondisi Dariush pun merasa bersalah karena pasti ada sangkut pautnya dengan syarat gila yang dia berikan. “Dariush, lebih baik kita undur saja pernikahan kalian. Aku tetap akan merestui hubunganmu dan Alceena.”
Dariush langsung menjawab dengan gelengan. “Tidak, aku tetap akan menikah dengan Alceena saat ini juga.” Dia membungkukkan sedikit badan sebagai tanda bahwa merasa bersalah. “Maafkan aku karena terlambat sampai di sini, karena saat perjalanan mengalami insiden kecelakaan yang tak bisa ku hindari.”
“Tak masalah, aku merestui kalian. Tapi, kita ke rumah sakit sekarang!” ajak Tuan Pattinson dengan tegas. “Obati dulu luka di tubuhmu.”
...*****...
__ADS_1
...Dar, kamu kenapa segitunya sih memperjuangkan Alceena? Itulah yang buat aku iri sama Alceena. Dia mendapatkan pria yang sifatnya bener-bener pasangan idamanku...