
Alceena masih terus menangis, bahkan sampai sesegukan. Bukan menjawab pertanyaan Dariush yang sedang merasakan debaran jantung akibat kelakuannya.
“Sayang, bisa kau berhenti menangis? Katakan padaku apa yang terjadi padamu? Jangan membuatku khawatir,” pinta Dariush dengan sangat lembut. Dia menyibakkan selimut dan segera turun dari ranjang. Pria itu bersiap hendak pergi untuk memastikan wanitanya baik-baik saja.
“Apa kau tak bisa datang ke sini? Aku lapar dan tak bisa mengambil mie instan yang disimpan di almari paling atas.” Akhirnya, karena sudah kehabisan ide lagi agar Dariush kembali ke penthouse, dia pun meminta secara langsung saja.
Dariush mengulas senyum dan terkekeh sendiri. “Iya, aku ke sana, sepuluh menit lagi sampai,” ucapnya seraya mengayunkan kaki menuruni anak tangga.
“Yes ....” Alceena menarik kedua tangan yang terkepal ke depan dada. Wajah terlihat puas karena aktingnya berhasil membuat Dariush kembali ke penthouse. Dia tak sungguh-sungguh menangis, semua hanya rekayasa. Wanita itu tak sadar jika ponsel yang diletakkan di atas meja tersebut masih tersambung dengan orang yang dihubungi.
Dariush mendengar suara Alceena seperti bahagia pun lega karena ternyata sang belahan jiwa baik-baik saja. Dia bahkan mengulas senyum karena lucu dengan tingkah wanitanya malam ini. Mencari-cari perhatiannya dengan berbagai cara.
Karena Dariush tak ingin Alceena malu atau salah tingkah jika dia sudah mendengar suara wanita itu yang bersandiwara, akhirnya berinisiatif untuk memutus panggilan telepon.
__ADS_1
“Kenapa semakin ke sini Alceena justru tambah menggemaskan,” gumam Dariush seraya memasukkan ponsel ke dalam saku jaket.
Sebelum meninggalkan mansion, dia mengambil bahan-bahan masakan dan sisa makanan yang ada di dapur. Buah, roti, sayur, hampir segala isi yang ada di kulkas pun dimasukkan ke dalam kantung besar untuk dia bawa ke penthouse.
Pukul dua lebih lima belas menit, dini hari, Dariush meninggalkan mansion Dominique. Demi memenuhi permintaan wanitanya yang ingin dia datang ke penthouse yang kini ditinggali oleh Alceena.
Bahkan langit masih gelap, dan jalanan juga sangat sepi. Pria itu belum tidur sama sekali. Atas nama cinta, Dariush rela melakukan semua itu, walaupun memang ada sebuah rencana dibaliknya.
Tepat sekali dengan estimasi yang diberikan oleh Dariush, dia sampai ke penthouse dalam waktu sepuluh menit.
“Ceena?” panggil Dariush setelah menginjakkan kaki di dalam penthouse. Dia menutup pintu lagi dengan hati-hati, dan mencari keberadaan wanitanya.
Alceena semakin mengeraskan suara isakan agar Dariush mendengar. “Hiks ... lapar ....”
__ADS_1
Dariush mengulum senyum sebelum mendekati Alceena. Dia ingin menertawakan tingkah wanita itu yang sangat menggemaskan. Tapi harus ditahan, ingin tahu sampai sejauh mana Alceena bisa bersandiwara.
Pria itu menghela napas untuk menetralkan perasaannya yang sedang gembira dengan aksi Alceena. Dia memasang wajah biasa lagi, meletakkan barang bawaan ke meja yang ada di dapur. Barulah menghampiri belahan jiwanya yang ada di sofa.
Dariush duduk di lantai, tepat berada di samping Alceena. Dia langsung mengelus kening wanita itu. “Kenapa menangis?” tanyanya sangat lembut. Padahal saat ini ingin tertawa. Belahan hatinya tak mengeluarkan air mata sedikit pun, hanya isakan saja.
Alceena tak menjawab, dia terus memegang perut.
“Lapar sekali, ya?” Dariush beralih mensejajarkan kepala di depan perut Alceena. Mengusap permukaan kulit di hadapannya. “Pasti anak-anakmu demo karena Mommynya baru makan sepuluh piring? Masih kurang, ya, Sayang? Mau Mommy makan lima piring lagi?” Dia berucap seperti sedang berkomunikasi dengan janin di dalam kandungan Alceena.
...*****...
...Tolonglah, jangan terlalu menggemaskan. Aku berasa pengen lempar kalian berdua ke Pluto karna membuat jiwa para jomblo meronta-ronta....
__ADS_1
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...