
Alceena beserta dua saudara kembarnya sudah sampai di depan pintu kamar Selena. Dia dan Madhiaz menatap Cathleen yang masih menekuk wajah, terlihat malu untuk mengetuk.
Alceena mengusap punggung Cathleen dengan lembut. “Dia pasti memaafkanmu. Selena tentu paham kenapa kau melakukan seperti itu. Dia bukan orang yang pendendam, jadi jangan takut,” bisiknya memberikan keyakinan.
“Sebaik-baiknya manusia, dialah yang berani mengakui kesalahan dan berlapang dada untuk meminta maaf dengan tulus.” Madhiaz pun ikut menguatkan Cathleen. Lagi pula dirinya juga ingin sang adik besikap lebih dewasa. “Entah kau dimaafkan atau tidak, itu urusan belakang. Setidaknya niatmu baik, ingin memperbaiki sesuatu yang salah.” Dia berucap sembari mengelus lengan kembarannya.
Cathleen yang mendapatkan nasihat dari dua saudaranya pun mengangguk. Tangan terulur ke depan, mengetuk pintu dan tidak memanggil nama Selena karena takut tak dibukakan jika tahu bahwa dirinya yang datang.
Tak berselang lama, pintu pun nampak terayun ke dalam. Memperlihatkan seorang pria yang tak lain adalah Aldrich. Dia menaikkan sebelah alis saat mendapati ketiga saudaranya sudah berdiri di hadapannya. “Ada apa?”
“Kita ingin menemui Selena,” jawab Alceena karena Cathleen masih terlihat menunduk.
__ADS_1
Aldrich tak langsung mempersilahkan, di menengok ke dalam kamar, melihat kondisi kakaknya. “Masuklah.” Dia semakin membuka pintu lebar. “Selena sempat merasakan sakit di bagian perut, jadi aku merawatnya.” Dia memberi tahu mengapa berada di kamar sang kakak, walaupun tak ada yang bertanya.
“Sakit apa?” tanya Madhiaz seraya mendaratkan pantat di sofa yang ada di dalam kamar tersebut. Diikuti oleh Alceena dan juga Cathleen. Mereka bertiga bisa melihat jika Selena sedang tertidur di atas ranjang.
“Pasti kalian sudah mendengar berita dari Cathleen, ’kan?” ucap Aldrich seraya mengambil kursi untuk dia duduk di hadapan saudaranya yang lain.
“Sudah, tapi kami ingin mendengar langsung dari Selena,” balas Alceena.
“Mau aku bangunkan?” tawar Aldrich.
“Aku tidak tidur.” Tiba-tiba suara Selena terdengar di ruangan itu.
__ADS_1
Membuat Alceena, Madhiaz, Cathleen, dan Aldrich menatap ke arah wanita yang kini tengah merubah posisi menjadi duduk di tepi ranjang.
Selena segera berdiri, mengeluarkan desisan pelan karena perutnya terasa sedikit sakit. Dia memegang bagian tubuh yang terisi janin. Tak langsung berjalan, wanita itu menunggu rasa sakitnya hilang, barulah mendekati keempat saudaranya.
Aldrich langsung berdiri. “Duduk sini.” Dia mempersilahkan sang kakak menempati kursinya.
Selena pun kini duduk di hadapan ketiga adik kembarnya. Sedangkan Aldrich berdiri di belakangnya. “Apa kalian datang ke sini ingin marah padaku?” Dia langsung menebak begitu saja. Sebab di sana ada Cathleen yang pasti sudah memberi tahukan tentang perbincangannya tadi pagi bersama Aldrich.
“Tidak untuk saat ini, tapi tak tahu bagaimana nanti,” jawab Alceena. Walaupun dia berusaha tak sakit hati, tapi tetap saja dalam lubuk hatinya ada rasa tidak terima jika dikhianati, apa lagi saat hubungannya dengan Brandon sudah mendekati hari pernikagan. Tapi dia tak menunjukkan secara terang-terangan, sebelum mendengar penjelasan dari Selena.
...*****...
__ADS_1
...Kalem bumil, hadapi dengan cantik. Nanti kalo emosi jiwa dan raga, kasian baby. Tar Dariush mewek kalo anaknya gone wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie....