
Dariush tak kunjung mengeluarkan air dari mulut, atau mata juga masih terpejam terus, membuat Alceena bertambah resah.
“Kau mau apa?” tanya Alceena pada pria yang tadi menolong sang kekasih. Matanya melihat jika orang tersebut seperti hendak mencium Dariush.
“Memberikan napas buatan, siapa tahu air dalam tubuhnya akan keluar,” jawab pria itu.
Alceena mengibaskan tangan agar orang tersebut menyingkir. “Biar aku saja yang melakukan.” Dia tak mau kalau Dariush menyatukan bibir dengan pria lain. Walaupun sesama kaum berbatang panjang, tapi tetap saja tak boleh.
‘Alceena bisa posesif juga ternyata,’ gumam Dariush dalam hati. Tapi, dia segera tersadar kalau di dalam mulut sengaja menyimpan air yang akan dikeluarkan demi totalitas sandiwara. Namun, kalau sang kekasih yang memberikan napas buatan, bisa ketahuan saat mulutnya dibuka. Dan sangat terpaksa, anak Tuan Dominique itu menelan air danau. Untung saja air di sana bersih.
Saat Dariush sudah terbujur seorang diri, ibu hamil itu pun berpindah posisi menjadi setengah berdiri, agar bisa membungkuk. Alceena segera membuka mulut Dariush dan menyatukan bibir, menyalurkan napas saat itu juga. Tapi, tetap saja tak ada yang berubah, sampai sudah diulangi sebanyak lima kali pun sama saja.
__ADS_1
Tentu saja hal tersebut membuat Alceena frustasi dan takut kehilangan. Matanya semakin berurai cairan bening. Menangis sampai tersedu-sedu. “Bangunlah, ku mohon. Aku berjanji tak akan mendiamkanmu lagi.” Suaranya keluar samar karena diiringi isakan.
Mata Alceena beralih menatap ke arah pria dan wanita yang berdiri di belakang punggungnya. “Tolong panggilkan tenaga medis di dekat sini, siapa pun asalkan bisa menyelamatkan nyawa kekasihku,” pintanya dengan wajah yang terlihat begitu memohon dengan penuh ketulusan serta ketakutan.
“Baik, Nona. Tunggu sebentar.” Dua orang itu pun pergi meninggalkan Alceena dan Dariush seorang diri.
Alceena tidak berani meminta orang untuk sembarang mengangkat Dariush. Takut salah tindakan yang mungkin bisa fatal akibatnya. Sehingga lebih baik menunggu tenaga medis saja.
Kini Alceena menunjukkan rasa penyesalannya dengan tangis. Sesungguhnya, Dariush tak kuasa membiarkan orang yang dicintai bersedih seperti itu. Tapi, jika tak melakukan sandiwara sesuai ide Daddy Davis, entah sampai kapan hubungan mereka tetap dingin.
“Aku minta maaf karena berpura-pura marah denganmu. Aku diam bukan karena membencimu. Sesungguhnya, aku sudah tahu kalau kau adalah pendonor inseminasiku. Satu minggu sebelum berangkat ke Switzerland, aku bertanya pada dokter yang membantu saat itu. Itulah sebabnya aku tanpa izin membelikanmu tiket, karena ku pikir kau akan senang kalau bisa pergi berdua denganku,” ucap Alceena seraya mengusap pipi Dariush.
__ADS_1
“Aku sudah curiga sejak selalu ingin dekat dan tak bisa jauh darimu, pasti ada yang tak beres. Dan ternyata dugaanku benar, kau adalah Daddy dari anak yang berada di dalam kandunganku.”
Dariush tetap diam, dia mendengarkan ocehan Alceena. Walaupun sejujurnya sangat ingin memeluk dan mengajukan pertanyaan pada wanita itu.
“Dan beberapa hari ini aku diam karena ingin memberimu pelajaran saja, agar tak melakukan perbuatan licik lagi.”
Terlalu sedih akibat Dariush yang tak kunjung sadar, Alceena sampai ikut berbaring di samping pria bertubuh kekar tersebut. Dia memiringkan tubuh dan menyentuhkan telapak tangan di dada. “Aku mencintaimu, Dariush.”
Kalimat yang sejak dahulu di tunggu oleh anak Tuan Dominique yang kedua itu pun akhirnya terlontar juga dari bibir Alceena. Ditambah kecupan di pipi yang dilabuhkan juga membuat hati Dariush bersorak gembira.
...*****...
__ADS_1
...Hari patah hati seorang NuKha. Bye Dariush, sepertinya tak ada jalan untukku memilikimu....