
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Dariush. Sekarang Alceena bisa melihat Brandon sedang ditarik paksa oleh dua orang pria bertubuh kekar untuk masuk ke dalam ruangannya.
“Kau jangan khawatir, aku selalu menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi,” beri tahu Dariush dengan berbisik di telinga Alceena.
“Kau memang pria yang luar biasa.” Alceena melabuhkan kecupan di pipi Dariush.
“Jelas, ke mana saja kau selama ini,” sahut Dariush dengan percaya diri sembari mengacak-acak rambut sang wanita.
“Lepaskan aku! Biarkan aku keluar dan menyelesaikan masalahku dengan Alceena, sendiri!” protes Brandon seraya menggoyangkan tubuh agar terlepas dari dua pria berbadan besar yang menyeret paksa dirinya masuk.
“Lepaskan dia!” Dariush yang melihat Brandon terus meronta pun akhirnya mengeluarkan sebuah perintah untuk pengawalnya. Dia mengibaskan tangan agar dua pria tersebut keluar. “Kalian jaga di depan pintu saja,” titahnya kemudian.
“Baik, Tuan.” Kedua pengawal itu pun menjalankan tugasnya. Menyisakan formasi awal di dalam ruang VIP tiga itu.
__ADS_1
Dariush mengusap puncak kepala Alceena seraya berdiri. “Lihatlah pertunjukan yang kau inginkan.” Dia mengayunkan kaki kian mendekati Brandon. Tapi masih saja dihindari oleh pria itu.
“Pengecut sekali kau! Padahal aku tak mengeroyokmu atau mengikat tubuhmu. Bahkan kau masih bisa leluasa bergerak, tapi sedari tadi menghindariku terus,” ejek Dariush mencoba membuat targetnya berdiam diri. “Kau boleh melawanku kalau bisa.”
Brandon berpikir sebentar. “Ada benarnya juga apa yang dia katakan. Kenapa justru aku melarikan diri?” gumamnya sangat lirih. Kaki pun akhirnya berhenti menghindar dan akan menghadapi Dariush.
Dariush menyunggingkan senyum sekilas, melepaskan jaket yang membalut tubuhnya agar pergerakan tangan bisa lebih leluasa. “Majulah, mari kita bertarung,” tantangnya seraya memberikan isyarat menggunakan tangan.
Dariush hanya mengusap bibirnya yang sedikit pecah. Mengepalkan tangan untuk memusatkan tenaga. “Hanya segini kemampuanmu?” Dia berbicara dengan nada biasa saja, tapi tetap seperti orang yang meremehkan.
“Oh, kau mau merasakan tinjuanku yang lebih sakit lagi?” Brandon merasa tertantang. Dia sudah siap menaikkan kepalan tangan dan hendak mendarat di wajah tampan Dariush lagi.
Tapi, anak Tuan Dominique yang kedua itu sudah menghindari pukulan dan langsung mencengkeram tangan Brandon. “Sayangnya, tinjuanmu tak sakit sedikit pun.” Setelah mengucapkan itu, Dariush siap melayangkan tonjokan.
__ADS_1
Brandon segera memalingkan wajah agar tak terkena pukulan. Namun, sayang sekali, ternyata target Dariush bukan wajah, tapi leher.
Dengan menggunakan setengah tenaga, Dariush mendaratkan kepalan tangannya tepat pada bagian tubuh yang terdapat saluran pernapasan, saraf, dan merupakan tempat yang seharusnya sangat dijaga dari hantaman keras karena bisa memberikan efek yang sangat fatal.
Lalu, tinjuan beralih pada dada dengan tenaga penuh. Dariush tidak baku hantam menggunakan otot saja, namun juga strategi.
Brandon langsung terbatuk saat merasakan beberapa detik kesulitan untuk bernapas. Dia memegang dada dan leher yang kini merasakan sedang tak baik-baik saja. “S—top,” pintanya dengan suara yang kurang jelas, agar perkelahian dihentikan.
“Hanya Alceena yang bisa menghentikan aku.” Melihat lawannya seperti tak mampu mengimbangi kekuatannya, Dariush tetap lanjut menghajar. Dia sekarang melayangkan tinju pada bagian wajah. Lebih keras daripada yang dilakukan oleh Brandon pada dirinya.
...*****...
...Sudah, sudah, nanti dimarahin mama kalo ketauan berantem loh wkwkwk...
__ADS_1