
Lega sekali hati Dariush setelah mendengarkan ungkapan cinta dari orang yang sangat dia inginkan sejak dahulu. Bahkan pujaan hatinya sungguh terdengar khawatir, ketakutan, dan semua yang terlontar dari mulut wanita itu adalah sebuah kejujuran.
Dariush juga tak menyangka kalau Alceena sudah tahu siapa pendonor saat inseminasi, jauh sebelum dirinya yang memberi tahu. Hal tersebut justru membuatnya penasaran, kenapa wanita itu diam saja dan tetap manja dengannya? Dan semua terjawab karena cinta. Oh sungguh sesuatu yang sangat menggembirakan. Ternyata prediksi kembarannya benar, dan dia harus merelakan penthouse seharga tiga juta lima ratus euro. Tapi tak masalah, semua sepadan dengan apa yang begitu diimpikan.
Mata Dariush masih terpejam, tapi bibir mengulas senyum. Walaupun Alceena tak memperhatikan secara jelas mimik yang sengaja dilukis tersebut. Ibu hamil itu justru tidak berhenti menangis dengan memeluk tubuhnya.
Ada rasa bersalah karena membuat Alceena bersedih, tiba-tiba Dariush pun berpindah posisi menjadi miring ke arah sang kekasih. Membawa Mommy dari anak-anaknya ke dalam dekapan dingin karena tubuhnya basah kuyup. “Aku baik-baik saja, jangan menangis,” ucapnya seraya mengusap puncak kepala si singa yang sudah mulai jinak. Tak lupa sebuah kecupan pun terlabuh di kening.
Alceena yang merasakan mendapatkan sentuhan dari pria yang sangat dia khawatirkan pun mendongak untuk melihat wajah Dariush. Memastikan apakah semua itu halusinasi atau bukan.
Setelah bersitatap dan yakin bahwa Dariush sudah sadar, Alceena justru semakin menangis kencang. Memukul dada sang pria karena dirinya kesal. “Aku pikir kau akan mati, aku sudah ketakutan jika kehilangan Daddy anak-anakku. Jahat!” Walaupun dia mengomel, sesungguhnya itu adalah reaksi bahagia dan lega.
Dariush semakin mendekap Alceena. Di atas tanah berumput pendek, keduanya masih saling berpelukan, dan disaksikan oleh dua orang yang menolong Dariush serta satu tenaga medis yang baru saja dipanggil. “Mana mungkin aku meninggalkan kalian.” Kecupan mendarat lagi di puncak kepala ibu hamil tersebut. Penuh rasa cinta dan kasih sayang dari seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi Daddy, serta mendapatkan pengakuan cinta dari sang pujaan hati.
__ADS_1
Alceena masih terisak karena terlanjur sedih dan lega yang diaduk menjadi satu. “Kau membuatku khawatir. Jangan diulangi lagi,” pintanya semakin membenamkan kepala di dada bidang sang kekasih.
“Iya, maaf. Tapi kau jangan mendiamkanku lagi kalau sedang marah.” Dariush tentu saja ikut mengajukan permintaan. Dan dijawab anggukan kepala oleh Alceena.
“Maaf mengganggu kemesraan kalian. Tenaga medisnya bagaimana?” Tiba-tiba pria yang menolong Dariush pun menyela keintiman sepasang kekasih yang sudah diyakini saling cinta.
Dariush dan Alceena bersamaan mengalihkan pandangan ke arah orang tersebut.
“Tidak jadi, kekasihku sudah siuman,” jawab Alceena.
Dariush dan Alceena akhirnya berdiri berdampingan. Tangan Dariush bersemanyam pada pinggul wanita itu. “Sudah menangisnya, kita kembali ke penginapan.”
Ajakan itu dijawab anggukan kepala oleh Alceena.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan danau, Dariush berbicara dengan orang yang sudah membantunya. “Ayo ikut denganku, ada yang ingin ku berikan pada kalian.”
Tentu saja hal tersebut membawa kelima orang itu berjalan menuju ke chalet terkecil di sana. Tapi penyewanya adalah orang terkaya di Eropa.
Sepanjang perjalanan menuju chalet, Alceena terus menyandarkan kepala di lengan sang kekasih. Wanita itu seperti tak ingin kehilangan Dariush.
“Kau tunggu di sini sebentar, ya? Aku ingin berbicara dengan orang yang menolongku.” Setelah membawa Alceena ke dalam kamar, Dariush memberikan perintah secara lembut dan elusan kepala.
Alceena mengangguk. “Jangan lama-lama,” pintanya dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Dariush pun meninggalkan sang kekasih seorang diri. Dia belum berganti pakaian, keluar hanya membawa dompet. “Sebagai ucapan terima kasihku. Berkat bantuan kalian, aku bisa berbaikan,” ucapnya seraya menyodorkan tiga lembar uang seribu euro untuk satu orang. Dan mereka mendapatkan jumlah yang sama.
...*****...
__ADS_1
...Aku kok gadapet imbalan? Padahal aku yang bantuin loh biar kalian baikan. Emang dikira aku pekerja sosial apa? Yang bantuin secara ikhlas? Enggak wey, buat sultan gaada yang gratis...