My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 217 S2


__ADS_3

Perlahan Alceena naik ke ranjang pasien. Dia merebahkan tubuh di sisi kanan dan tak berani mendempel pada suaminya karena takut menyenggol luka Dariush yang baru saja dijahit pada bagian lengan.


Dengan perutnya yang buncit dan sulit sekali mendapatkan posisi nyaman, Alceena berusaha untuk diam serta tak banyak mengeluh walaupun saat ini dia tidur miring pun tak enak. Alceena berusaha tak rewel di saat kondisi suaminya tidak memungkinkan untuk mengurus dirinya yang tengah hamil anak kembar. Dan akhirnya wanita yang sedang mengandung dua bayi itu pun tidur dengan miring menghadap ke arah Dariush.


Dariush sejak tadi mengamati pergerakan sang istri yang sangat dicintai. Tapi dia tak bisa membantu apa pun karena memang tak kuat. Seketika itu ia merasa lemah dengan kondisi yang lumayan parah pasca kecelakaan.


“Maafkan aku tak bisa membantumu, suamimu ini sungguh tak berguna sekali,” ucap Dariush dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Alceena melihat suaminya seperti sedih pun segera mengusap rahang tegas Dariush. “Tidak, Sayang. Kau sangat berguna. Nanti kalau kondisimu sudah membaik pasti bisa membantuku mengurus anak-anak.” Dia mencoba menenangkan pria yang telah berhasil menerobos masuk ke dalam relung hati yang paling dalam.


“Rasanya aku Ingin memelukmu, tapi tubuhku seperti berat sekali digerakkan,” tutur Dariush seraya tangan meraih jemari lentik milik Alceena yang ada di bawah dan dia usap permukaan kulit istrinya.


Dariush tak bisa miring atau berpindah posisi lain, bagian punggungnya saja sakit sekali, kedua lengannya juga sobek akibat tergores serpihan kaca kendaraan lain. Apa lagi perutnya yang terhantam motor. Mau tidur terlentang, miring, tengkurap pun dia tak ada yang enak. Tapi, walaupun kesakitan, ia tidak mengeluh berlebihan karena tak ingin Alceena khawatir.

__ADS_1


“Mau ku peluk?” tawar Alceena.


“Boleh.”


Alceena pun melingkarkan tangan ke perut sang suami dan Dariush langsung meringis karena tepat sekali mengenai bagian tubuh yang terhantam motor.


“Kenapa? Aku menyenggol lukamu?” Alceena langsung menarik tangannya lagi saat menyadari suaminya mengeluarkan suara desisan.


Tapi, saat mata Alceena menatap wajah Dariush, pria itu justru mengulas senyum. “Tidak, tapi tolong naikkan tanganmu ke dadaku saja, ya.” Dia melontarkan sebuah permintaan agar tak menyinggung perasaan istrinya yang sedang mudah sekali melow.


“Tidak, Sayang. Aku baik-baik saja karena ada kau dan anak-anak yang menjadi sumber kekuatanku untuk tetap bertahan di bumi.” Dariush mencoba menggoda istrinya dengan mengulas senyum dan kerlingan mata genit.


Madhiaz yang sejak tadi berada di dalam ruang rawat itu pun sampai bergeleng kepala menyaksikan tingkah sepasang pengantin yang baru satu hari menikah. “Dunia berasa milik berdua,” celetuknya.

__ADS_1


Barulah Dariush dan Alceena menengok ke arah Madhiaz yang sejak tadi mereka abaikan.


“Maaf, Madhiaz,” tutur Alceena dengan wajah yang tak enak sudah merepotkan kembarannya.


“It’s okay, asalkan kalian berdua senang, aku pun turut bahagia,” balas Madhiaz.


Tapi, lain hal dengan Dariush yang tetap terlihat tengil. “Madhiaz, bisa kau belikan istriku makan? Dia pasti kelaparan,” pintanya.


“Aku akan telepon layanan kamar supaya membawakan makanan lebih,” balas Madhiaz.


“Tidak, maksudku tolong kau keluar belikan Alceena makan.” Dariush menaikkan kedua alis. Dia sebenarnya sedang mengusir kakak iparnya agar meninggalkan berdua dengan sang istri saja.


...*****...

__ADS_1


...Yuk Madhiaz, ngontrak di bulan aja sama aku. Tinggalkan kekasihmu yang mata duitan itu, aku bisa jauh lebih matre kok daripada cewemu...


__ADS_2