My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 65


__ADS_3

Semalam tidur Alceena lumayan nyenyak, tidak seperti biasanya yang sangat sulit masuk ke alam mimpi dan sering mendadak terbangun karena merasa kram. Mungkin karena diberi ciuman penghantar tidur oleh Dariush, sehingga membuat janinnya bersahabat.


Namun, kenyamanan itu tak berlangsung lama. Saat pagi tiba, Alceena langsung membuka mata. Perutnya merasakan mual seperti biasanya.


“Nak, Mommy sudah berbaikan dengan Dariush, kenapa masih menyiksaku di pagi hari?” gumam Alceena seraya mengusap perut. Dia segera menurunkan kaki ke lantai untuk menuju toilet, mengeluarkan isi di dalam lambungnya.


“Sepertinya aku harus menemui Dariush lagi, agar pagi ini tak mual terus,” pikir Alceena. Masa bodo dengan gengsi, dia tak ingin tersiksa setiap hari.


Alceena membersihkan bibir dengan air yang mengalir. Mengayunkan kaki hendak keluar kamar. Namun, belum sempat dia sampai ke pintu, indera pendengaran sudah menangkap bunyi ketukan dari luar.


“Ceena?” Jelas sekali suara Cathleen yang memanggil.


Alceena berdecak, lalu diakhiri dengan helaan napas kasar karena kembarannya datang disaat yang tidak tepat. “Kenapa harus sekarang,” keluhnya.


“Ceena?” Kembali lagi telinga Alceena mendengar suara teriakan dari luar.

__ADS_1


“Iya, sebentar.” Dengan lemas, Alceena mau tak mau membukakan pintu. Menatap dengan mata sayu ke arah Madhiaz dan Cathleen yang sudah berdiri di hadapannya.


“Semalam kau ke mana? Aku memanggilmu dari luar kamar, tapi tak dijawab.” Cathleen langsung mengajukan pertanyaan. Dia menyelonong masuk ke dalam, dan segera memegang pundak kembarannya untuk melihat kondisi Alceena. “Kau baik-baik saja, ‘kan? Aku sangat mengkhawatirkan kondisimu.” Belum sempat pertanyaannya dijawab, dia sudah berbicara lagi.


Kepala Alceena mengangguk pelan. “Mungkin semalam aku sudah tidur, jadi tak mendengar kau memanggil, dan aku baik-baik saja,” jawabnya dengan sedikit berbohong.


Cathleen langsung memeluk kembarannya dengan perasaan lega. “Syukurlah.”


Alceena membalas dengan mengusap punggung Cathleen. Dan beberapa saat kemudian, dia melepaskan pelukan tersebut.


“Tentu saja ingin menemanimu, setiap pagi kau pasti muntah sampai lemas. Jadi, sebagai saudara, harus saling menjaga.” Madhiaz yang menjawab seraya mengelus lengan Alceena.


Bukannya Alceena tak senang diperhatikan oleh kembarannya, tapi ada obat yang lebih cepat bereaksi untuk meredakan mualnya. Dia hanya butuh menatap Dariush.


Alceena pun mengulas senyum kaku. Harus mencari cara agar kembarannya pergi meninggalkan seorang diri. “Aku tak mual, lebih baik kalian kembali saja ke kamar.” Dia mencoba berkilah agar tak mencurigakan.

__ADS_1


Cathleen dan Madhiaz tak langsung menurut. Keduanya menyapu pandangan pada setiap detail wajah Alceena.


“Apa kau sungguh baik-baik saja?” Madhiaz memastikan sekali lagi. “Ku lihat wajahmu pucat.”


Alceena terbungkam sejenak. Saudara kandungnya yang satu itu memang sulit sekali dibohongi. “Ini karena aku tak memakai make up.”


“Wajahmu biasanya tetap berseri walaupun tak dirias,” celetuk Cathleen menatap curiga ke arah Alceena yang sepertinya berbohong.


“Karena aku sedang hamil, makanya terlihat seperti ini. Nanti kalau kau mengandung juga akan tahu,” balas Alceena secara asal. Dia menjadikan anaknya sebagai alasan. Sebab, Cathleen tak akan membantah jika berkaitan dengan orang hamil, karena kembarannya belum tahu rasanya seperti apa.


Alceena merangkul lengan Madhiaz dan Cathleen. Menuntun kedua orang itu untuk keluar. “Kalian kembali saja ke kamar dan siap-siap untuk acara hari ini. Aku ingin istirahat dulu.” Terpaksa dia harus mengusir saudaranya agar bisa memiliki waktu untuk bertemu Dariush di kamar sebelah.


...*****...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...

__ADS_1


__ADS_2