
“Mana mungkin, Dariush saja tak tahu jika aku melakukan inseminasi. Dokternya sudah ku beri uang tutup mulut dan berjanji akan merahasiakan pada siapapun. Lagi pula, kalau dia tahu, pasti aku tak akan menunggu lama untuk mendapatkan pendonor,” jelas Alceena yang yakin betul bahwa anak yang akan dia kandung bukan darah daging musuhnya.
“Lalu, kenapa dia ada di rumah sakit ini?”
“Menjenguk istri Delavar yang melahirkan.”
“Oh ....” Cathleen mengangguk paham. Dia tak akan takut bersaing dengan Alceena lagi. Tadinya dia sempat berpikir jika Dariush pendonornya, tapi setelah mendengar penjelasan Alceena, hilang sudah rasa khawatirnya.
Dan keduanya pun sama-sama diam. Tidak ada obrolan lagi. Alceena kembali menonton televisi, sedangkan Cathleen bermain ponselnya dengan bibir yang terus mengulas senyum karena memandangi foto Dariush. Tangan Cathleen pun sesekali menyentuh rambut yang tadi diusap oleh pujaan hatinya.
...........
__ADS_1
Pasca proses inseminasi, Alceena hanya menginap satu malam. Dan hari ini dia akan pulang ke mansion. “Orang tua kita tak ada yang bertanya selama beberapa hari ini aku tak pulang?” tanyanya pada Cathleen yang sedang membantunya untuk membereskan barang bawaan.
“Tentu saja bertanya, kau pergi tak berpamitan dengan jelas, hanya mengatakan ada urusan penting,” jawab Cathleen seraya memasukkan pakaian ganti Alceena. “Nanti, kau harus menjelaskan pada mereka tentang program inseminasimu ini. Bisa-bisa Mama dan Papa kita shock saat melihatmu tiba-tiba hamil,” pintanya. Dia pun menutup ritsleting koper kecil milik Alceena setelah selesai membereskan barang.
“Aku memang berencana akan memberi tahu dan izin belakangan. Jadi, kalau mereka tidak setuju dengan keputusanku, pasti mau tak mau harus menerima karena semua sudah terjadi,” jelas Alceena seraya meraih pegangan koper kecilnya.
Cathleen sampai bergeleng kepala. Walaupun dia dan Alceena adalah kembar, tapi sifat tetap berbeda. “Semoga kau tak diomeli.” Tangannya terulur untuk mengajak bergandengan. “Ayo, sebentar lagi supirku akan menjemput.”
Alceena meraih tangan Cathleen, keduanya saling menggenggam satu sama lain. “Untuk apa meminta dijemput supirmu? Aku ke sini mengendarai mobil sendiri, batalkan saja, kita naik mobilku!” titahnya seraya mengayunkan kaki menuju pintu.
“Memang rasanya masih seperti ada yang mengganjal, tapi tak masalah juga mengendarai mobil sendiri.”
__ADS_1
“Yasudah, nanti sampai tempat parkir baru aku hubungi supirku.” Cathleen menutup pintu lagi.
Dan keduanya berjalan beriringan menyurusi lorong di lantai khusus kelas VIP itu. Namun, tiba-tiba Cathleen menghentikan langkah kaki, dan otomatis Alceena pun melakukan hal sama.
“Ck! Dia lagi,” gerutu Alceena sangat lirih saat langkahnya harus terhenti karena ada keluarga Dominique yang baru saja keluar dari ruang VIP satu.
Dariush terlihat menggendong satu keponakannya yang masih bayi, tentu saja itu anak Delavar yang sudah diperbolehkan untuk pulang. Dia keluar dari ruangan VIP satu bersama Delavar karena anggota keluarga yang lain sudah mendahului. Keduanya hanya melirik ke arah Alceena dan Cathleen.
“Ayo, Dariush!” ajak Delavar agar kembarannya segera pergi. Dia harus memastikan jika Dariush tetap menjiwai peran menjadi pria yang acuh pada Alceena.
“Oke.” Dariush pun menutup pintu menggunakan satu tangan, dan tak menyapa Alceena maupun Cathleen. Wajahnya nampak datar.
__ADS_1
...*****...
...Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...