My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 167


__ADS_3

“Nona, tolong jangan nekat menghubungi Tuan Dariush. Anda bisa tak diizinkan keluar lagi, jika sampai dia tahu saya gagal mencegah Anda pergi dengan pakaian seksi saat tak ada Tuan Dariush,” mohon Roxy dengan wajah datarnya. Dia mencoba meminta ponselnya secara halus.


“Bagus, biar dia marah.” Alceena pun membuka whatsapp dari ponsel Roxy. “Aku hanya ingin melakukan panggilan video dengan Dariush, agar dia tahu penampilanku yang seksi ini.” Dia memencet logo di samping simbol telepon.


Tapi, bukannya diangkat, justru ditolak oleh sang kekasih. Dan otomatis membuat Alceena meremas smartphone yang ada di tangannya. “Tuan sok sibuk! Jadi, hari libur pun lebih menarik untuk bekerja daripada menemani kekasihnya!” Bibir itu terus menggerutu.


Alceena tak akan tinggal diam. Wanita itu mengirimkan foto selfie yang diambil dari atas ke bawah, hingga memperlihatkan seluruh outfit hari ini. “Hah! Memangnya kau pikir aku akan membiarkanmu tenang berada jauh dariku? Tidak akan!” Dia marah-marah pada ponsel, seperti tengah mengomeli sang kekasih.


Roxy hanya bisa pasrah saja menghadapi Nona Alceena. Dia akan menerima konsekuensi apa pun yang akan diberikan oleh Tuan Dariush.


Tak lama kemudian, layar ponsel Roxy pun menunjukkan nama yang baru saja dikirimi foto seksi. Alceena tak mau mengangkat, ingin jual mahal terlebih dahulu. “Ini, kau saja yang bicara dengannya.” Dia menyodorkan gawai kepada pemilik asli.


Roxy dengan santai dan datar pun mengangkat panggilan video tersebut. “Ya, Tuan?”

__ADS_1


“Kenapa kau yang menjawab? Berikan ponselmu padanya!”


“Nona, Tuan ingin mengajak Anda berbicara,” beri tahu Roxy pada Alceena. Dia mengarahkan layar ponsel ke arah wanita itu hingga Dariush bisa melihat penampilan seksi seorang Alceena.


“Hah! Malas! Lebih baik aku menikmati pemandangan, mencari pria baru yang mau menemaniku liburan. Tidak seperti Tuanmu yang gila kerja!” Alceena sengaja tak melihat ke arah layar, namun suaranya sangat lantang hingga terdengar oleh Dariush yang sedang memakai AirPods di telinga.


Dariush yang sampai sekarang masih belum memiliki waktu luang itu mengepalkan tangan. Dia tahu betul kalau Alceena sedang memberikan kode agar segera menyusul ke Switzerland. Anak Tuan Dominique bukannya tak mengizinkan sang kekasih keluar dengan pakaian seksi, sebenarnya boleh saja asalkan saat bersamanya.


“Oke, oke, aku ke sana sekarang juga!” Akhirnya, Dariush pun kalah juga dengan trik Alceena. Hatinya saja saat ini sudah bergemuruh karena sang kekasih tak mau berbicara dengannya.


Sementara itu, di sebuah ruangan yang cukup besar di dalam gedung Triple D Corp, Dariush segera memasukkan ponsel ke dalam saku jas dan berdiri. Sudah tiga hari ini dia rapat terus bersama seluruh pimpinan perusahaan yang berada di bawah naungan Triple D Corp dengan jumlah lebih dari lima puluh orang.


Tuan Dominique tak memberikan libur sebelum rangkaian rapat selesai, walaupun sedang tanggal merah. Sebab, semua akan mendapatkan insentif besar dari waktu yang sudah disita oleh pemilik bisnis terbesar di benua Eropa itu.

__ADS_1


“Dariush Doris Dominique, kau mau ke mana?! Rapat belum selesai, dan tolong duduk lagi!” Tuan Dominique yang melihat anaknya hendak meninggalkan ruangan pun menegur secara tegas melalui microphone. Kini, dia tengah duduk di depan banyak orang, sebagai memimpin rapat tersebut.


Dariush memutar tubuh, membalas tatapan tajam Daddynya. “Switzerland. Perusahaan yang aku kelola sudah selesai memaparkan capaian kerja selama satu tahun terakhir, dan juga target untuk satu hingga lima tahun berikutnya. Jadi, izinkan aku meninggalkan rapat ini terlebih dahulu, karena ada urusan penting yang perlu diselesaikan,” balasnya dengan suara tegas juga. “Silahkan potong saja insentifku sebagai ganti karena aku tak bisa mengikuti hingga akhir,” imbuhnya kemudian.


Walaupun semua orang tahu hubungan keluarga dua orang tersebut, tapi Dariush dan sang Daddy tetap bersikap seperti atasan dan bawahan. Di mana Drake Davis Dominique tetaplah sebagai pemilik kerajaan bisnis Triple D Corp selama masih bernapas.


Dariush pun tetap melanjutkan langkah kaki untuk keluar dari sana. Lagi pula, pikirannya sudah tak fokus lagi karena terpenuhi oleh Alceena.


Daddy Davis beralih menatap anak ketiganya yaitu Delavar. Tanpa mengeluarkan suara, salah satu keturunannya itu sudah paham dengan apa yang dia tanyakan.


Karena jarak Daddy Davis dan Delavar cukup jauh, orang yang ditanya menggunakan kode sorot mata itu pun membalas dengan isyarat. Tangan Delavar membentuk simbol love, lalu dia pisahkan sebagai tanda bahwa suasana hati Dariush sedang tak baik-baik saja.


...*****...

__ADS_1


...Itu ikatan batin bapak sama anaknya kuat amat apa emang mereka bisa membaca pikiran orang sih? Aku kalo jadi Delavar pasti udah ngah-ngoh kek orang bloon tuh ditanyain lewat kode mata wkwkwk...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...


__ADS_2