My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 216 S2


__ADS_3

Jemari Dariush bergerak sendiri. Tapi Alceena dan Madhiaz yang berjaga di dalam masih tertidur. Perlahan pria itu mulai membuka kelopak mata yang semalaman penuh terus terpejam.


Dariush menatap ke arah langit-langit ruang rawat inap VVIP. Dia menyapu pandangan mata ke seluruh penjuru, pertama kali matanya menangkap seorang pria yang berbaring di atas sofa, lalu dia melihat seorang perempuan yang sedang tidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya.


Tangan Dariush perlahan diangkat, sembari meringis menahan sakit, dia menyentuh kepala wanita itu, mengelus pelan seolah sedang membangunkan.


Alceena segera kembali ke dunia nyata saat tidur yang tak nyenyak itu merasakan mendapatkan sentuhan mendadak. Pelan-pelan ia menegakkan tubuh seraya mengerjapkan mata. Matanya membulat dan wajah tentu saja gembira. “Dariush, akhirnya kau siuman juga.”


Alceena memegang tangan sang suami. Dia ciumi pria yang mampu mengalihkan dunianya itu. Rasa syukur yang tak terhingga dia ucapkan secara terus menerus.


Tapi, wajah Dariush tidak terlihat senang setelah melihat Alceena. Pria itu justru datar dan menatap aneh pada wanita yang berambut acak-acakan seperti singa. “Kau siapa? Kenapa bisa ada di sini?”


Deg!

__ADS_1


Jantung Alceena rasanya ingin berhenti saat suaminya bertanya seperti itu. Tangannya lunglai sampai melepaskan genggaman dengan Dariush. Sedangkan matanya tertuju pada dua manik milik sang suami. “Kau tidak mengingatku?”


Dariush bergeleng kepala. “Memangnya kau siapa?”


“Aku ini istrimu, kemarin kita baru saja menikah, apa kau lupa?” Alceena sampai memukul dadanya sendiri menggunakan telapak tangan.


Dariush justru menaikkan sebelah alis dan menatap aneh pada Alceena. “Istri? Sejak kapan anak usia lima belas tahun boleh menikah?”


Alceena tidak menanggapi pertanyaan Dariush. Dia justru menangis sangat kencang sampai membuat Madhiaz yang sedang tidur pun membuka mata,


“Dariush, dia melupakan aku.” Sudah kemarin dibuat menangis karena Dariush tak kunjung siuman, sekarang pun juga sama saja masih dibuat meneteskan air mata karena tak diingat oleh suaminya.


Madhiaz segera berdiri di samping Alceena. Dia merangkul dan memberikan usapan di lengan kembarannya.

__ADS_1


Mata Madhiaz menelisik ke arah Dariush yang nampak menahan senyum. “Hentikan gurauanmu itu! Alceena sudah menangis sejak kemarin. Jangan kau buat dia semakin sedih!” tegurnya. Dia bisa menilai kalau iparnya tidak sungguh-sungguh hilang ingatan.


Dariush yang ketahuan pun langsung menarik tangan Alceena yang ada di atas ranjang pasien. Dia mengusap lembut kulit sang istri. “Jangan menangis, Sayang. Aku tidak lupa denganmu, hanya mengerjaimu saja.”


“Aaa ... jahat sekali kau itu, sedang sakit pun masih bisa menjahiliku.” Rasanya Alceena ingin memukuli tubuh Dariush. Tapi kondisi suaminya tidak memungkinkan untuk mendapatkan serangan.


“Maaf, aku hanya ingin menguji seberapa besar cintamu padaku, ternyata kau sudah sampai tahap takut dilupakan olehku,” kilah Dariush.


Dariush menarik pelan tangan Alceena. “Sini, tidur di sampingku. Kau itu sedang hamil, jangan tidur dengan posisi duduk,” ajaknya.


“Aku takut menyentuh lukamu, nanti kau kesakitan.” Alceena menjawab seraya mengusap jejak basah di pipi.


“Kau dan anak-anakku adalah obat terampuh yang bisa menyembuhkan sakitku secara cepat.” Dariush perlahan menggeser tubuh, walaupun rasanya sakit, tapi dia ingin memberikan ruang untuk istrinya istirahat juga. “Sini, aku sedang tak bisa menggendongmu dan merebahkanmu. Jadi, sekarang mandiri dulu.”

__ADS_1


...*****...


...Si bucin udah comeback, ohh sedihnya harga avtur masih naik dan bikin tiket pesawat ke planet lain juga mahal. Tolong ya, kurangi kebucinan kalian, daripada ku usir dari sini...


__ADS_2