
Mendengar suara isakan, Dariush lagi-lagi mengulum senyum karena menganggap bahwa Alceena sedang bersandiwara lagi agar dia memiliki rasa iba pada wanita itu. Anak Tuan Dominique yang kedua membalikkan tubuh, wajah seketika berubah menjadi pias kala korneanya menangkap pipi sang pujaan hati sudah basah.
‘Ku pikir dia bersandiwara, ternyata sungguh menangis,’ gumam Dariush dalam hati, seraya merasakan debaran di dada yang tak menentu. Dia ingin segera menghampiri dan mendekap Alceena agar berhenti mengeluarkan air mata. Tapi, diurungkan karena merasa rencana yang dia harapkan, sepertinya akan berhasil.
Dariush masih mencoba sekuat mungkin untuk memasang mimik biasa saja. Tidak menunjukkan bahwa dadanya saat ini sedang berpacu yang diakibatkan dari menyaksikan Alceena yang menangis karena dirinya. “Beri aku alasan, kenapa harus tetap tinggal bersamamu di sini?” tanyanya dengan suara yang tegas tapi tetap terdengar lembut.
Alceena perlahan berdiri, mengusap pipi agar tak basah. Walaupun air mata tetap terus mengalir karena susah sekali untuk dihentikan. “Sebab aku menyukai setiap sentuhanmu, senang berada di dekatmu, perhatianmu, ciumanmu yang begitu lembut, pelukan hangatmu, dan semua yang kau lakukan untukku.” Dia berhenti sejenak karena semakin terisak saat mengutarakan semua itu. Seluruh kata-kata tersebut adalah spontanitas, dia tak berpikir terlebih dahulu saat melontarkan.
“Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Ingin mengetahui apa kebiasaanmu, kesukaanmu, hobimu, dan semua hal yang belum pernah aku ketahui kecuali sifatmu yang tengil, licik, dan menyebalkan.” Alceena melanjutkan lagi memberikan alasannya. Dia berbicara dengan sorot mata tertuju pada Dariush. Menunjukkan betapa menginginkan tinggal berdua di sana.
__ADS_1
Jujur, Dariush saat ini sedang ingin bersorak gembira. Tapi tak dia lakukan karena tujuannya belum tuntas. Mendengar semua alasan Alceena memang membuat jantung meletup-letup seperti kembang api.
Namun, rencana tetaplah rencana. Tak boleh gagal. Harus mendapatkan kepastian segera mungkin. Itulah sebabnya Dariush tak berinisiatif sendiri, walaupun sebenarnya pria itu paham dan tahu apa yang diinginkan oleh Alceena. Biarkan sang pujaan hatinya meminta sendiri, merasakan bagaimana jika dia berhenti untuk peka.
“Siapa yang menginginkan itu? Anakmu?” pancing Dariush. Memang sengaja ingin mengetahui isi hati Alceena.
Dariush menyunggingkan senyum penuh rasa kecewa. Dan itu sudah pasti bisa ditangkap jelas oleh Alceena. “Bagaimana aku bisa tetap tinggal berdua denganmu? Kalau kau saja tak tahu di mana letak namaku dalam dirimu.” Pria itu menggelangkan kepala. “Maaf, Ceena, alasanmu tak cukup kuat untuk membuatku tetap di sini.”
Dariush hendak memutar tubuh, tapi Alceena sudah mengeluarkan suara lagi. Dan akhirnya dia urungkan niat tersebut.
__ADS_1
“Apa kau tak melihat air mataku? Apa anakku sudah bisa menangis dan meminta kau untuk tinggal di sini?” Alceena berteriak diiringi suara isakan serta buliran bening yang mengucur deras. “Kenapa kau tak paham terus? Sudah pasti aku yang menginginkanmu, bukan anakku! Mereka belum bisa meminta apa pun.” Semakin sedih saja wanita itu karena Dariush tak mempercayai apa yang dia ucapkan. Mungkin karena terlalu sering menjadikan anak sebagai alasan.
Dariush menarik dua sudut bibir sangat tipis. “Oke, aku paham dengan semua alasanmu itu. Lantas, hubungan seperti apa yang kau inginkan. Aku tak bisa tinggal bersama seorang wanita tanpa status yang jelas.”
...*****...
...Asem ... mereka berdua bau-bau mau makin lengket aja. Hadeh ... awas kalo tambah bucin, ku telponin Farhat Abbas, biar disomasi karena terlalu bucin....
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...
__ADS_1