
Dariush sedang bermain play station dengan Delavar di kamarnya. Pria itu pun langsung meletakkan controller di karpet. Dia segera berdiri setelah mendengarkan bahwa wanitanya sedang membutuhkan pertolongan.
“Kau mau ke mana?” tanya Delavar seraya mendongakkan kepala untuk menatap Dariush.
“Keluar, belahan jiwaku sedang menunggu kedatangan pangeran berkuda besi,” jawab Dariush sembari mengambil kunci mobil yang tadi pagi baru dipakai mengantarkan Alceena.
“Untuk apa? Bermain kuda-kudaan?” tebak Delavar. Dia mematikan play station karena tak ada teman yang diajak duel.
Dariush mengedikkan bahu. “Mungkin.” Padahal dia ingin segera pergi karena Alceena sedang sangat membutuhkan bantuannya.
Delavar terkekeh sendiri, berdiri dan langsung merangkul kembarannya yang hendak keluar kamar. “Kau sudah mulai keenakan merem melek, ya?” godanya diiringi alis yang naik turun.
Dariush mengusap wajah kembarannya dengan kecepatan kilat. “Pikiranmu hanya urusan ranjang terus.”
“Sudahlah, jangan munafik. Kita ini sama-sama seorang pria, sekali merasakan nikmat, maka seterusnya akan menginginkan hal itu.” Dia ikut mengayunkan kaki bersama Dariush.
“Ck! Sok tahu kau! Tapi memang benar apa yang kau katakan.” Dariush melepaskan tangan Delavar yang melingkar di pundak. “Aku pergi dulu,” pamitnya.
Dariush pun berlari agar cepat sampai ke luar bangunan utama. Dia segera menghampiri mobilnya dan masuk ke dalam kendaraan roda empat tersebut.
__ADS_1
Dariush mengendarai dengan kecepatan tinggi, menuju lokasi yang dikirimkan oleh Alceena. Tempatnya ternyata berada di ujung Kota Helsinki yang sudah berbatasan dengan wilayah Finlandia lainnya.
“Astaga, kenapa bisa kau sampai sana, padahal baru beberapa jam ku antar pulang,” gumam Dariush. Jika dilihat dari estimasi yang ditunjukkan oleh maps, dia akan tiba empat puluh lima menit lagi.
Dan akhirnya, setelah perjalanan panjang, Dariush menemukan mobil Alceena yang masih berhenti di pinggir jalan. Dia menghentikan kendaraan tepat di depannya.
Anak Tuan Dominique yang kedua segera turun dan mengetuk kaca mobil Alceena.
Alceena yang melihat sang pria telah hadir pun langsung mengulas senyum. Dia membuka pintu dan turun.
“Akhirnya kau datang juga,” ucap Alceena. Dia memeluk sang pria karena senang dengan kedatangan Dariush. “Aku sudah kelaparan karena di sini jauh dari orang berjualan,” adunya. Sifat manja tiba-tiba keluar secara otomatis.
Alceena mengangguk setuju.
Dan Dariush membawa wanita itu ke dalam mobilnya. “Kau bersamaku saja. Aku akan pasang tali untuk menarik mobilmu.” Dia mengusap perut sang wanita sebelum meninggalkan Alceena sendirian.
Setelah menyiapkan segala keperluan untuk memudahkan menarik mobil, Dariush pun duduk di balik kursi kemudi dan langsung mendapatkan sapaan dari senyum manis Alceena.
“Apa tersenyum bisa membuatmu kenyang?” tanya Dariush seraya menghidupkan mesin dan melajukan kendaraan.
__ADS_1
“Kenapa? Apa kau tak senang jika aku tersenyum?” Alceena memudarkan tarikan dua sudut bibirnya.
“Senang, artinya kau bahagia saat bersamaku,” jawab Dariush seraya mengusap puncak kepala Alceena.
Alceena menunjukkan wajah yang berseri karena memang benar apa yang dikatakan oleh Dariush. Semua kekesalan berdebat dengan keluarganya, tiba-tiba menghilang begitu saja dari pikiran setelah melihat wajah sang pria.
Tapi, ada satu hal yang ingin Alceena pastikan pada pria yang duduk di sampingnya. “Dariush?”
“Hm?” Dariush menengok dengan sorot mata teduh.
“Apa aku tak mengganggu aktivitasmu?”
“Tidak.” Dariush menjawab seraya meraih tangan Alceena untuk digenggam.
“Menurutmu, apakah aku terkesan hanya memanfaatkanmu? Menghubungi saat membutuhkan saja?” tanya Alceena dengan dada yang berdebar. Itu adalah perasaan takutnya.
...*****...
...Kalo kamu tanya ke Dariush mah jawabannya pasti enggak. Tapi kalo tanya ke aku ya pasti jawabannya iya wkwkwk...
__ADS_1
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...