My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 157


__ADS_3

Cathleen pasrah saja saat diberikan perintah untuk menjaga Gerald. Padahal dia bisa meninggalkan pria itu seorang diri. Namun, tak dilakukan karena kasian juga teman satu angkatannya tersebut kalau dibiarkan sendirian di atas kursi roda pada tempat yang sangat ramai. Pasti akan menjadi bahan pembicaraan orang yang melihat.


Cathleen membawa Gerald ke ujung ruangan agar tak banyak orang menatap aneh pada pria yang sedang dia dorong di atas kursi roda itu.


Setelah mengunci roda supaya tidak bergerak sendiri, Cathleen menghembuskan napas lemah seraya mendudukkan pantatnya di kursi. “Nasib ... nasib, sudah tampil cantik, tapi berakhir jadi seperti suster sedang menjaga anak majikan yang tengah sakit.”


Walaupun menggerutu, namun wanita itu tetap saja menjaga Gerald. Bahkan merelakan lengannya untuk dijadikan bantal agar orang yang sedang berada di sampingnya tak menunduk terus, dan saat bangun tak merasa pegal.


Cukup lama Cathleen menunggu Gerald bangun. Berkali-kali melihat jam, ternyata selama satu putaran penuh jarum menit telah terlewati. “Dia tertidur atau pingsan? Lama sekali, tanganku sampai kesemutan,” gerutunya.

__ADS_1


Cathleen jadi penasaran apakah Gerald masih hidup atau tidak. Sebab, sejak tadi diam saja, padahal suasana pun sedang berisik sekali. Dia memfokuskan mata pada wajah tampan di sampingnya. “Maaf, ya, ku buka kaca matanya.” Dia menarik benda yang menutupi bagian indera penglihatan. Lalu telunjuk lentiknya mulai membuka kelopak mata dan ternyata pupil pria itu masih berada di tengah.


Namun, tak disangka kalau ternyata Gerald mendadak membuka kedua mata lebar-lebar. “Apa yang kau lakukan?!” tanyanya dengan suara pelan tapi sangat ditekan. Dia langsung menegakkan posisi duduk, mencoba kembali ke dalam dunia nyata.


“Aku hanya diberikan perintah untuk menjagamu saja, dan memastikan kau masih hidup atau mati,” jelas Cathleen seraya mengibaskan tangan agar kesemutannya segera hilang.


Gerald mengabaikan jawaban Cathleen, dia memijat pelipis yang terasa pusing. Sejenak meresapi lokasi dan situasi yang sekarang ada di hadapannya. Mata tajam itu menyapu ke seluruh pandangan di mana sedang ramai orang, lalu beralih ke kursi roda yang tengah diduduki.


Cathleen menaikkan sebelah alis seraya mengikuti pergerakan Gerald yang mulai mengayunkan kaki dan tak pamit. “You’re welcome, thanks karena sudah menjaga saat aku tertidur.” Dia menyindir pria itu. Lalu berakhir dengan mencebikkan bibir. “Apa dia tak pernah belajar menghargai orang lain, jika tahu seperti ini, lebih baik ku biarkan saja dia sendirian,” gerutunya.

__ADS_1


Cathleen tak langsung membaur dengan tamu pesta, menunggu tangannya kembali normal terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, orang yang tadi pergi tanpa pamit itu kembali lagi duduk di kursi roda.


Tatapan aneh dan bingung pun Cathleen layangkan pada teman satu angkatannya itu. “Kenapa kau kembali lagi?”


“Tak boleh keluar gedung ini sebelum pesta selesai,” jelas Gerald tanpa menatap sedikit pun Cathleen. Bahkan suaranya juga sangat tegas. Dia memilih kembali duduk di kursi roda agar tak ada wanita yang mendekatinya jika tahu dirinya seperti orang cacat.


...*****...


...Cath, getok aja itu kepala si Gerald pake centong, biar jadi Sangkuriang...

__ADS_1


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...


__ADS_2