My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 189


__ADS_3

Alceena tidak pernah menyangka kalau Dariush akan melamarnya secepat ini. Dia sampai melongo menatap cincin yang tahu betul kalau berliannya sangat mahal. “Kau sedang tak menjahiliku, ‘kan?” tanyanya memastikan.


Memang derita orang yang sering jahil, pasti setiap yang dilakukan pun akan diragukan kesungguhan nya. “Sangat yakin,” jelas Dariush seraya memegang tangan Alceena dan menatap wanita itu dengan penuh cinta. “Kau mau menerima lamaranku, ‘kan? Kita sudah lama hidup bersama, ku rasa cukup untuk mengenal satu sama lain, dan meyakinkanmu untuk mengambil keputusan lebih berani lagi.”


Dariush masih menunggu sang kekasih mengeluarkan jawaban. Sebab, wajah Alceena nampak masih terkejut. Biasanya, orang yang benar-benar menantikan sebuah pernikahan, pasti tak akan ragu untuk menjawab lamaran.


Alceena menggigit bibir bawah. Dalam hati ingin menerima lamaran Dariush, tapi pikirannya masih memikirkan bagaimana nasib Cathleen yang sampai sekarang belum juga bercerita apakah sudah mendapatkan pasangan atau belum. Dia tak ingin membuat sang kembaran bersedih lagi. Mendadak wajah Cathleen saat menangis pun terlintas di benak Alceena.


Wajah Dariush yang tadi sudah sangat senang dan yakin tak akan ditolak pun akhirnya berubah pias. “Ceena? Apakah kau masih kurang yakin denganku?”


Alceena menggeleng pelan. “Bukan seperti itu. Tapi, ada sesuatu yang membuatku belum berani menikah denganmu,” jawabnya dengan wajah yang menunduk.

__ADS_1


“Apa? Katakan padaku, aku akan berusaha untuk membuatmu yakin.”


Bibir Alceena masih terbungkam, bingung juga bagaimana cara mengatakan kepada Dariush.


Dan tepat saat Alceena kian menundukkan kepala, pintu ruangan itu mendadak dibuka dari luar. Otomatis mata Alceena dan Dariush menatap ke arah sumber suara hingga bisa melihat Cathleen yang berdiri tegak di ambang pintu.


Cathleen yang memang sudah janji akan datang ke perusahaan Alceena saat sore hari pun tertegun kala mata menangkap jelas kembarannya yang seperti sedang dilamar oleh Dariush. “Maaf mengganggu.” Setelah mengucapkan kata tersebut, ia segera menutup pintu dan pergi lagi.


“Cath, tunggu. Aku bisa jelaskan.” Alceena berteriak karena takut kembarannya marah lagi. Kini, terungkap sudah apa yang dia sembunyikan selama ini.


“Mau ke mana? Kau belum menjawab lamaranku,” ucap Dariush seraya tangan mencekal pergelangan Alceena yang bersiap meninggalkannya begitu saja.

__ADS_1


Alceena menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. “Dariush, aku sungguh minta maaf padamu karena untuk sekarang belum bisa menerima kau menjadi suamiku,” ucapnya dengan hati yang berdenyut nyeri karena membohongi diri sendiri.


“Why? Berikan aku alasan kenapa kau tak bisa menerima lamaranku?” Dariush kian menatap nyalang Alceena yang mulai memperlihatkan keanehan.


Lagi-lagi Alceena menggigit bibir bawah. Menunduk dan memejamkan mata sejenak, meyakinkan diri untuk mengatakan kejujuran pada Dariush. “Aku pernah berjanji pada Cathleen kalau tak akan membalas cintamu karena dia menyukaimu. Tapi, ternyata semua terjadi sebaliknya.” Dengan rasa penuh penyesalan. Dia mengungkap semuanya.


“Tapi kau mencintaiku, sudah cukup dijadikan sebagai alasan untuk menerima lamaran ini.” Dariush kian menggenggam erat tangan Alceena.


Alceena menggelengkan kepala. “Aku juga sudah berjanji pada Papaku untuk mengalah dengan Cathleen.”


Dariush melepaskan tangan Alceena. Rasanya sangat kecewa dengan wanita itu. Setelah selama ini diperjuangkan, ternyata semuanya sia-sia. “Ternyata kau egois juga, sembarangan berjanji pada orang lain tanpa mempertimbangkan perasaanku. Sudah jelas bahwa yang aku cintai dan ku inginkan adalah kau, bukan Cathleen!”

__ADS_1


...*****...


...Mau nikah aja banyak drama lu berdua wkwkwk...


__ADS_2