My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 153


__ADS_3

Daripada bertengkar terus dengan kembarannya, Gerald pun menuruti permintaan Geraldine. Dia menarik kursi hingga bunyi gesekan kayu dengan lantai bisa terdengar sampai ke telinga. Pria itu mendaratkan pantat, walaupun wajahnya terlihat datar, tapi aura tak senang tetap bisa terpancar jelas.


“Mana makananku?” pinta Gerald dengan suara tegas. Matanya melirik ke arah wanita yang berumur sama persis dengannya.


Geraldine menarik tipis sebelah sudut bibir. Dia ikut duduk di hadapan Gerald. “Nah, seharusnya dari tadi kau menurut seperti ini, jadi aku tak perlu membuat apartemenmu berantakan.” Tangannya menyodorkan makanan yang sejak dirinya datang sudah dipindah ke piring.


“Setelah aku menghabiskan ini, kau harus pulang! Aku tak mau diganggu!” titah Gerald. Dia mulai meraih garpu dan melahap hidangan secara cepat.


“Tak masalah, yang penting kau sudah makan, maka aku bisa pulang dengan tenang,” balas Geraldine seraya menemani kembarannya untuk sarapan di waktu yang sudah menjelang siang hari.


Padahal, dalam hati Geraldine sedang bersorak gembira karena berhasil menjerat Gerald ke dalam jebakannya. Namun, wanita itu berusaha agar tak terlihat mencurigakan.


Gerald yang ingin segera sendirian pun menghabiskan makanan dalam waktu tiga menit. Tangan otomatis meraih gelas berisi orange juice yang ada di dekatnya. Tanpa tahu kandungan apa saja yang ada di dalam cairan tersebut, anak Tuan Giorgio itu langsung menenggak habis sampai tak ada sisa setetes pun.


“Jika sudah selesai makan, bereskan apartemenku dulu sebelum pulang! Kau yang membuat berantakan, maka harus bertanggung jawab!” perintah Gerald seraya berdiri.


“Beres, sudah sana kalau mau main game lagi,” usir Geraldine mengibaskan tangan agar kembarannya segera pergi dari jangkauan mata.


Tanpa membalas sepatah kata pun, Gerald mengayunkan kaki kembali ke ruang penghilang penat. Dia mulai bermain game terbaru.

__ADS_1


Sedangkan Geraldine menghubungi pamannya. “Uncle, target sudah masuk ke dalam jebakan.”


“Bagus, tunggu tiga puluh menit, lalu kau cek kondisinya dan hubungi aku lagi,” titah Daddy Davis yang sedang berada di dekat unit apartemen keponakannya.


“Oke.” Panggilan pun diputus sepihak. Geraldine membersihkan serpihan kaca yang berceceran di lantai, juga mencuci alat makan yang kotor.


Wanita itu duduk di ruang makan, menunggu tiga puluh menit berlalu. Setelah waktu yang dinanti tiba, dia perlahan berjalan ke arah ruang tempat Gerald main game.


Dengan sangat hati-hati, Geraldine menarik handle pintu ke bawah, mendorong kayu persegi panjang itu agar memberikan celah untuk mengintip.


Mata Geraldine bisa melihat kalau kembarannya mulai hilang kesadaran. Terlihat jelas dari tubuh yang tiba-tiba tekulai lemas dengan dahi menyatu di atas meja.


“Gerald sudah terlelap? Aku mulai bosan menunggumu, lama sekali menjalankan rencana.” Daddy Davis sudah seperti kakak yang sedang mengomeli adiknya.


“Ini aku juga mau memberi tahu pada uncle, dia sudah tidur,” balas Geraldine.


“Oke, sekarang aku ke sana.” Daddy Davis memutus panggilan dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket.


Pria berumur sudah kepala enam dan beranak kembar empat itu sejak satu jam yang lalu duduk di atas kursi roda. Tangannya yang masih kekar menyentuh besi yang berbentuk bulat, dia mendorong ke depan hingga roda berputar.

__ADS_1


Daddy Davis menuju ke arah unit apartemen Gerald. Tadi dia menunggu di lorong dekat sana. Namun, belum ada tiga meter kursi roda itu berjalan, tiba-tiba pria itu berhenti.


“Untuk apa aku duduk dan menjalankan kursi roda ini? Aku ‘kan masih bisa berjalan,” celetuk Daddy Davis yang baru tersadar kalau dirinya terlalu lama duduk di kursi roda hingga lupa sejenak bahwa kedua kaki masih berfungsi dengan baik.


Pria tua dengan badan gagah dan tegap itu berdiri, berganti mendorong kursi roda menuju tempat dua keponakannya berada.


...*****...


...Yang belom liat Cathleen di instagram story aku @heynukha cuss tengokin, sebelum 24 jam ilang...


...Woy Daddy Davis, inget umur lah, udah tua masih aja ngelawak wkwkwk emang dasar bibit somplak keluarga Dominique, makanya anakmu kaga ada yang beres semua...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...


...*****...


...Yuk sambil nungguin novel aku update, bisa mampir ke karya temenku. Judulnya Terjerat Cinta Wanita Depresi oleh author oniya...


__ADS_1


__ADS_2