My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 194


__ADS_3

Deavenny tidak mengangkat panggilan telepon dari Alceena. Dia mendekati Dariush dan menyodorkan ponsel ke saudara kembarnya sembari mencolek lengan. “Ini, wanita yang amat kau cintai mencarimu.”


Dariush berpindah posisi menjadi menghadap ke langit-langit ruangan, membaca layar ponsel yang ada di depan mata. “Aku tak mau berbicara dengannya, rasanya masih sakit mendapatkan penolakan.” Tangan kekar itu mengibas agar Deavenny kembali duduk.


Tapi, satu-satunya perempuan dari keturunan Tuan Dominique itu justru memukul kepala Dariush menggunakan ujung ponsel dengan logo buah apel. “Dengarkan dulu apa yang mau Alceena katakan padamu! Belum tahu maksudnya mencari, sudah menolak. Nanti kau menyesal baru tahu rasa!”


Deavenny yang gemas melemparkan ponselnya ke atas perut Dariush. “Terserah kau mau angkat atau tidak. Pasti Alceena akan menelepon lagi,” ucapnya dengan sinis. Dia membalikkan tubuh dan kembali duduk di sofa.


Benar saja, panggilan yang tadi sudah terputus, kini ada lagi, dari orang yang sama. Dariush masih belum berniat mengangkat, hanya memandangi layar bertuliskan nama Alceena saja.


“Angkat dan dengarkan apa yang dia katakan,” ucap Mommy Diora seraya mengusap rambut Dariush penuh kasih.


Dariush melirik ke arah Mommy Diora, lalu telinga mendengar perintah yang sama dari seluruh anggota keluarganya.

__ADS_1


“Saat kau pergi menenangkan diri, Alceena datang ke sini terus, dia mencari kau. Pasti ada sesuatu yang penting ingin disampaikan.” Danesh memberi tahu situasi yang terjadi saat Dariush pergi, agar bisa mempertimbangkan untuk terus menghindari Alceena atau sebaliknya.


Dariush langsung menatap ke arah Danesh. “Kenapa dia mencariku?”


“Ya mana kita tahu! Kau angkat saja teleponnya, tanya langsung pada orangnya!” Delavar yang gemas pun melempar Dariush dengan sandal yang khusus digunakan untuk di dalam rumah.


Melihat wajah keluarganya yang seperti serius, Dariush akhirnya menggeser tombol bulat berwarna hijau. Dia tak langsung mengeluarkan suara. Membiarkan Alceena untuk berbicara terlebih dahulu.


“Deavenny? Apa Dariush sudah pulang?” tanya Alceena.


“Dariush, ini kau?” Alceena sadar bahwa suara yang menyahut adalah pria yang lamarannya dia tolak. Nada bicaranya terdengar sangat lega karena orang yang dicintai baik-baik saja.


“Hm.” Dariush menjawab singkat seperti orang malas. “Ada apa mencariku?”

__ADS_1


“Sayang, dengarkan, aku minta maaf karna menolakmu saat itu—” Alceena mencoba menjelaskan secara detail kepada Dariush tentang dirinya yang tidak mengejar pria itu saat pergi, dia mengatakan kalau ingin menyelesaikan masalah dengan Cathleen dan Papa Danzel. Tak lupa juga menceritakan bahwa orang tuanya ingin Dariush meminta izin secara langsung kalau hendak mempersunting Alceena. “Aku mau menjadi istrimu, tapi Papaku tak mengizinkan jika kau belum menemui orang tuaku.”


Setelah mendengar penjelasan Alceena yang sangat panjang, Dariush langsung merubah posisi menjadi duduk. “Orang tuamu di rumah?” Dia bertanya sangat antusias, berbeda sekali dengan saat mengangkat telepon.


“Ya, semua keluargaku sedang di mansion.”


“Oke, aku ke sana sekarang,” ucap Dariush. Dia tidak akan menunda kesempatan tersebut. “Tunggu aku, Sayang.” Seketika pria itu langsung lupa kalau sempat marah dengan Alceena.


Dariush mematikan panggilan telepon, meletakkan benda tersebut ke meja depan Deavenny. “Terima kasih adikku.” Wajahnya terhias senyum dan kedipan mata genit.


“Aku ke kamar, mau bersiap melamar kekasihku lagi.” Dariush mengayunkan kaki menuju lantai dua. Pria itu sampai lupa kalau sudah mengucapkan kata-kata perpisahan pada Alceena saat lamarannya ditolak.


...*****...

__ADS_1


...Aku masih mager weyyy buat pindah ke Mars. Kenapa pasangan bucin ini selalu ada aja jalan buat bersatu sih. Gak rela!...


__ADS_2