My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 61


__ADS_3

Dariush sudah menduga jika sifat Alceena yang melunak dengannya bukan berasal dari dalam hati wanita itu yang mulai mencintainya, tapi dari hormon janin yang sedang dikandung. Tak masalah juga bagi Dariush, apa pun alasannya, yang paling penting sekarang dia bisa berdekatan dengan wanita pujaannya tanpa bertengkar seperti biasa. Tidak perlu mengedepankan gengsi lagi karena tak memberikan hasil apa pun.


Keduanya saat ini memang saling membutuhkan satu sama lain. Alceena tak ingin tersiksa dimasa kehamilannya. Sedangkan Dariush mau memastikan anak dan wanitanya baik-baik saja hingga melahirkan.


Mungkin, seiring berjalannya waktu, kedekatan mereka yang awalnya didasari karena bayi dalam kandungan Alceena, bisa berubah menumbuhkan benih cinta dalam hati keturunan kedua keluarga Pattinson itu.


Baik Dariush dan Alceena, kini sedang menikmati suasana malam jalanan Kota Munich dari dalam mobil yang melaju lambat. Namun, ada bunyi sesuatu yang terdengar di indera pendengaran salah satu keluarga Dominique.


Dariush segera mengusap perut Alceena saat meyakini suara tersebut berasal dari sana. “Kau lapar?”


Alceena merubah posisi kepala menjadi bersitatap dengan Dariush. Tersenyum dengan menunjukkan rentetan giginya. “Tadi sudah kram duluan sebelum agenda makan dimulai, jadi aku meninggalkan ballroom tanpa mengisi perut.”


“Kau sedang hamil, jika lapar langsung saja makan, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan janinmu saat kau menahan dan sampai berbunyi perutnya?” Dariush langsung menghujam Alceena dengan omelan penuh kekhawatiran.

__ADS_1


Alceena menaikkan sebelah alis, merasakan sesuatu yang janggal dengan rasa khawatir yang ditunjukkan oleh Dariush. “Kenapa kau sangat peduli dengan anakku?”


“Karena dia adalah bagian dari dirimu, jelas aku khawatir dengan kalian,” kilah Dariush. Sebisa mungkin dia menjawab dengan kata-kata yang tidak menimbulkan kecurigaan.


Alceena menganggukkan kepala. “Apakah sedalam itu perasaanmu padaku sampai menerima anak yang bukan darah dagingmu sendiri?”


“Pertanyaan macam apa itu, sudah pasti jawabannya adalah iya.” Dariush menyentuh kepala Alceena untuk dia posisikan seperti semula, menyandar di bahunya. “Kita pulang ke hotel sekarang, kau harus segera makan.”


“Oke, kita makan di luar.” Dariush pun memberikan perintah pada supirnya untuk membawa mereka ke restoran yang masih buka hingga malam hari.


Dariush membawa Alceena ke restoran yang terkenal di kota itu. Mereka sudah duduk berhadapan di sebuah meja bundar. Makanan juga banyak terjadi di sana.


“Jangan malu-malu untuk makan banyak, kalau perlu habiskan saja,” ucap Dariush seraya mengambil piring kosong yang hidangannya sudah dilahap oleh Alceena. Makanan yang seharusnya untuk dirinya pun Dariush sodorkan pada sang wanita.

__ADS_1


Alceena menatap piring ketiga yang diberikan padanya itu. Melongo karena pria di hadapannya tak berhenti meminta untuk menghabiskan makanan. “Kau sengaja ingin membuatku gendut?” protesnya.


“Gendut tak gendut pun sama saja, nanti perutmu juga akan membuncit kalau usia kandungannya semakin besar.” Dariush tetap memaksa agar Alceena makan lagi. Gizi anaknya harus tercukupi.


Alceena menaikkan kedua tangan ke udara. “Aku menyerah, tak kuat lagi makan. Kau saja yang habiskan.” Dia mendorong piring ke hadapan Dariush.


Dariush menaikkan sebelah alis, dan terbesit sebuah ide untuk membuat hubungan mereka terasa lebih dekat. Menyunggingkan senyum terlebih dahulu sebelum menjawab. “Oke, tapi kau harus menyuapiku. Bagaimana?”


...*****...


...Halah ... modus ae, makan sendiri kan bisa. Punya tangan dua mau buat apa? Wkwkwk...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...

__ADS_1


__ADS_2