
Dengan membawa tas ransel di punggung, Dariush menggandeng tangan Alceena dan berjalan menuju ke penginapan. Pria itu sampai memelankan langkah kaki agar sejajar dengan kecepatan sang kekasih yang sudah tak segesit saat perut masih rata.
Perjalanan yang cukup jauh, kurang lebih delapan ratus lima puluh meter yang harus dilalui.
“Kalau tak kuat, katakan saja, nanti aku akan menggendongmu,” pinta Dariush seraya menengok ke arah Alceena yang tampak menikmati perjalanan.
“Bagaimana bisa lelah kalau pemandangan di sekitar menyejukkan mata.”
“Ya siapa tahu saja.”
“Tenang, selagi ada kau, sumber energiku jadi bertambah dua kali lipat,” balas Alceena diiringi kedipan sebelah mata.
__ADS_1
Tangan Dariush yang menggandeng sang kekasih pun sengaja dilepas, lalu beralih bersemayam pada pantat seksi Alceena. “Sekarang mulai bisa memberikan kata-kata manis, ya? Biasanya kau paling jago mengomel terus.” Dia meremas bagian tubuh yang kenyal itu tanpa tenaga.
Alceena mengibaskan rambut menggunakan tangan. “Jelas, aku ‘kan sudah tertular oleh bibir manismu.” Dia berucap seperti membanggakan dirinya sendiri.
Kedua orang tersebut menikmati perjalanan menuju penginapan sembari mengutarakan kata-kata manis. Sampai tak terasa kalau kaki Dariush dan Alceena sudah sampai di depan rumah kayu dengan atap menjorok yang sering ditemukan di pegunungan Alpen. Orang sana mengenal tempat tinggal tersebut dengan sebutan chalet.
“Maaf, ya, hanya bisa menyewakan tempat yang sederhana dan tak terlalu besar. Ini pun baru saja ku dapatkan karena tepat sekali ada orang yang check out dari sini,” ucap Dariush seraya memasukkan kunci rumah yang tadi dia dapatkan dari pemilik asli tempat tersebut.
“It’s okay, yang aku butuhkan adalah kau, bukan rumahnya. Karena sebagus apa pun tempat yang ku tinggali, kalau tidak bersamamu rasanya pasti sepi,” balas Alceena sembari mengusap lengan kekar sang kekasih.
Setelah membuka pintu, Dariush menarik tangan Alceena dengan sangat hati-hati. “Kalau kau terus berkata manis padaku, bisa-bisa ku kurung di dalam kamar agar tak bisa pergi.” Dia menuntun sang kekasih menuju kamar utama.
__ADS_1
“Hei, terbalik. Seharusnya aku yang mengurungmu agar tak meninggalkanku secara diam-diam seperti malam saat kau membiarkan aku tidur seorang diri pada hari pertamaku di Switzerland,” sahut Alceena seraya mencubit lengan Dariush.
Dariush menyengir, wanitanya selalu mengungkit kesalahan yang sudah dia lakukan. Seperti sedang mengingatkan agar tak mengulangi hal yang sama untuk kemudian hari.
“Tenang, hidupku beberapa hari ke depan hanya untukmu,” ucap Dariush. Tangannya menyentuh lengan sang kekasih dan menuntun agar duduk ke atas ranjang. Dia meletakkan tas ransel ke lantai, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku. “Aku akan mematikan smartphone agar tak ada yang bisa mengganggu.” Pria itu memperlihatkan layar yang sudah mati.
Dan Alceena langsung tersenyum puas. Setelah sebelas hari kurang belaian, akhirnya dia bisa menguasai tubuh Dariush lagi.
Tangan ibu hamil itu menarik sang kekasih hingga duduk di sampingnya. “Kalau sudah berdua, enaknya kita melakukan apa, ya?” tanyanya dengan kedua alis naik turun seperti orang yang sedang menggoda.
...*****...
__ADS_1
...Setelah rambut singa, tarzan, sekarang kau jamblay juga ya Ceen. Noh adu panco aja kalo udah berdua, segala nanya enaknya ngapain. Tinggal bilang aja “Ayang, ajak aku merem melek dong.” Gitu aja pake kode-kode. Lagi jadi anak pramuka lu?...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...