
Dua minggu berlalu, tapi Dariush masih belum mendapatkan restu juga dari Tuan Pattinson. Selama kurun waktu tersebut, dia setiap hari menemui orang tua Alceena. Bujuk rayu tak pernah berhenti dilakukan. Bahkan setiap perintah dan persyaratan yang diberikan oleh Papa Danzel, pasti langsung dia selesaikan sesuai waktu yang ditentukan serta kriteria yang diinginkan.
Tuan Pattinson juga mengakui kesungguhan Dariush. Pria itu terlihat sangat serius dan tidak ada unsur mempermainkan seperti mantan calon suami Alceena yang sebelumnya. Tapi, tetap saja ada yang harus lebih dipastikan lagi. Bagaimana jika mendadak dirinya ingin menikahkan mereka berdua, detik ini juga? Sebab, Papa Danzel ingin pernikahan Alceena terlaksana, bukan seperti sebelumnya yang direncanakan jauh-jauh hari namun berakhir diputus sepihak. Mungkin itu adalah wujud keresahan seorang Papa untuk anaknya yang pernah gagal menikah.
Jika Tuan Pattinson sedang merencanakan pernikahan dadakan untuk putri keduanya, lain hal dengan Alceena yang saat ini sedang mengantarkan Dariush ke bandara di pagi hari.
Meskipun belum mendapatkan izin menikah, tapi Alceena tetap selalu menemui Dariush. Sudah terlanjur jatuh cinta pada pria itu, maka larangan pun tak diindahkan. Karena yang terpenting rindu terobati. Apa lagi anak-anak Dariush yang setiap hari memberontak memberikan tendangan jika tidak bertemu oleh sang Daddy. Daripada menyiksa diri, lebih baik nekat saja.
Alceena memeluk Dariush yang hendak pergi ke Amsterdam untuk urusan pekerjaan. “Apa aku tak boleh ikut?” pintanya dengan suara sendu. Rasa tak rela berpisah muncul begitu saja.
__ADS_1
Dariush mengusap rambut Mommy dari anak-anaknya yang beberapa bulan lagi akan lahir. “Tidak bisa, nanti semakin sulit mendapatkan izin dari Papamu kalau dia tahu aku membawamu pergi ke luar negeri.”
Penolakan dari Dariush membuat bibir Alceena manyun. “Yasudah, sering kabari aku agar anak-anak tidak merindukan Daddynya.” Sembari mengurai pelukan, dia mengajukan permintaan.
“Pasti, Sayang.” Dariush mengacak-acak rambut Alceena dengan gemas. Lalu beralih mengelus perut, serta mensejajarkan kepala ke bagian tubuh yang buncit. “Daddy pergi bekerja dulu, ya? Kalian jaga Mommy baik-baik, jangan mengerjai Mommy terus, oke?” Dia berucap seperti orang yang memberikan nasihat pada anak-anaknya. Setiap kali Dariush berbicara di depan perut, pasti akan mendapatkan respon tendangan dari dalam.
“Hati-hati pulangnya, aku pergi dulu. Kabari kalau ada sesuatu,” pamit Dariush. Dia melabuhkan kecupan di kening Alceena, cukup lama.
Perjalanan Alceena diantarkan oleh supir. Walaupun masih bisa mengendarai mobil sendiri, tapi kurang nyaman saat duduk di depan setir kemudi karena perutnya sudah buncit.
__ADS_1
Sesampainya di perusahaan, Alceena segera berjalan pelan dan hati-hati menuju lantai teratas. Kedatangannya langsung disambut oleh sekretaris pribadi.
“Nona, ada Tuan Pattinson menunggu Anda di dalam,” beri tahu Jocelyn.
Alceena menaikkan sebelah alis. “Tumben sekali Papaku datang ke sini saat masih pagi,” gumamnya sedikit merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada hal yang mendebarkan jiwa akan terjadi beberapa saat lagi.
Alceena mengucapkan terima kasih pada sekretarisnya, dan dia masuk ke dalam ruang CEO. Mata indah itu bisa menangkap jelas Papa Danzel yang duduk menunggu dirinya. Tiba-tiba jantung memompa darah lebih cepat saat melihat raut tegas orang tuanya.
...*****...
__ADS_1
...Mau minta duit kali tuh bapakmu Ceen, makanya berdebar-debar jantungmu wkwkwk...