
Alceena mengangguk membenarkan. Dia tak bisa menutupi sebuah fakta dibalik hubungannya dengan Dariush. “Maafkan aku yang tak bisa menepati janji pada kalian. Tapi, perasaan ini muncul begitu saja, dan kalian harus tahu bahwa bayi di dalam kandunganku adalah anak Dariush. Dia adalah pendonor saat aku inseminasi. Dan aku juga baru mengetahui hal itu beberapa minggu yang lalu. Aku tak merencanakan secara sengaja,” jelasnya dengan wajah yang nampak bersedih dan seperti orang yang sedang tak enak hati.
Mata Alceena menatap sendu pada kembarannya. “Cath, aku mohon padamu, izinkan aku menikah dengan Dariush karena dia adalah Daddy dari anak-anakku, dan aku juga mencintainya,” pintanya sangat tulus. Tapi tetap hati berdenyut karena merasa tak enak kalau membuat Cathleen bersedih lagi.
Tak disangka, Alceena pikir Cathleen akan menangis seperti terakhir kali. Tapi, wanita itu justru memeluknya dan memberikan tepukan di punggung.
“Menikah saja dengan Dariush, lagi pula aku tak menyukainya lagi. Aku sudah memiliki kekasih yang kenal dari pesta waktu itu,” ucap Cathleen dengan suara yang terdengar bersungguh-sungguh.
Alceena memegang kedua bahu kembarannya dan saling bersitatap. “Kau yakin memiliki kekasih?” Dia memastikan sekali lagi.
Dan dijawab anggukan kepala oleh Cathleen, diiringi ulasan senyum yang lebih meyakinkan.
“Kenapa kau tak cerita apa pun denganku?”
__ADS_1
“Karena baru beberapa minggu yang lalu aku resmi menjadi sepasang kekasih,” jawab Cathleen dengan menyengir bahagia.
Alceena mengelus dada karena merasa lega. “Ku kira kau marah karena langsung pergi saat melihatku dilamar oleh Dariush.”
Cathleen tertawa pelan karena kembarannya salah persepsi. “Siapa yang marah? Aku ‘kan sudah mengatakan sebelum pergi kalau tak enak sudah mengganggu kalian,” jelasnya agar Alceena tak salah paham lagi.
Helaan napas lega keluar dari bibir Alceena. “Akhirnya hidupku bisa tenang tanpa rasa bersalah karena diam-diam menjilat ludahku sendiri.”
“Sebenarnya aku sadar kalau tak mungkin bisa masuk ke dalam kehidupan Dariush. Gerald yang memberi tahu kalau anak Tuan Dominique itu sudah cinta mati olehmu. Jadi, lebih baik aku sadar diri saja, daripada memaksakan keinginan yang tak mungkin bisa tergapai.”
Papa Danzel yang sejak tadi menyimak pun kini sudah paham dengan permasalahan kedua putrinya. “Tapi aku tetap tidak mengizinkan kau menikah dengan Dariush.” Tiba-tiba dia berbicara, memberikan ketidak setujuannya.
Dan otomatis membuat Alceena mengurai pelukan dengan Cathleen untuk menatap orang tuanya dengan sorot bingung. Padahal kembarannya saja sudah setuju dan tidak akan mempermasalahkan lagi hubungannya dengan Dariush. “Kenapa?”
__ADS_1
“Karena dia tak memiliki itikad baik untuk meminta izin padaku. Seharusnya, sebelum dia melamarmu, tanya dulu dengan orang tuanya. Memangnya dia pikir aku dan Mamamu ini apa? Patung? Kami yang membesarkanmu,” jelas Papa Danzel kenapa dia memberikan penolakan.
“Pa, masalah itu bisa dibicarakan. Nanti aku akan sampaikan pada Dariush agar dia datang menemui keluarga kita dan membicarakan masalah pernikahan,” ucap Alceena meyakinkan orang tuanya agar berubah pikiran. “Lagi pula, aku yang meminta Dariush merahasiakan hubungan kami. Jadi, ini salahku, bukan dia.”
“Tidak ada izin untuk saat ini.” Papa Danzel berdiri dari ranjang dan meninggalkan kamar Cathleen.
“Pa!” seru Alceena yang kesal dengan orang tuanya. “Kau jahat kalau sampai memisahkan dua orang yang saling mencintai!” teriaknya lagi agar Papa Danzel berubah pikiran.
Tapi, hanya kedikan bahu dilayangkan oleh Papa Danzel yang tetap mengayunkan kaki kian menjauh.
...*****...
...Bagus Danzel, kamu emang bestie aku. Aku ga perlu menjelma menjadi pelakor lagi buat dapetin Dariush....
__ADS_1