My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 176


__ADS_3

Menurut Dariush, sekarang adalah waktu yang tepat untuk berkata jujur pada Alceena. Ketika kondisi wanitanya dalam suasana hati yang gembira dan jauh dari pusat kota, sehingga kekasihnya pasti akan bergantung serta membutuhkannya terus selama liburan. Jadi, sekalipun pujaan hatinya tak bisa menerima kenyataan, dia tetap tak akan ditinggalkan begitu saja.


“Ceena.”


“Dariush.”


Saat pria itu memanggil sang wanita, ternyata Alceena juga menyebutkan nama Dariush di waktu yang bersamaan.


Dariush mengulas senyum. “Kau saja dulu.” Dia memilih untuk mengalah saja.


“Mari kita mengabadikan foto bersama, agar ada kenangan di sini,” ajak Alceena dengan wajah gembira dan sangat antusias.


“Boleh, aku minta tolong pada orang untuk memotret,” balas Dariush, dan dijawab anggukan kepala oleh Alceena.


Pria itu berdiri dan menghampiri siapa saja orang yang sedang berwisata di sana juga. Meminta bantuan dan beruntung sekali ada yang mau.

__ADS_1


Dariush dan Alceena mengambil posisi berdiri membelakangi puncak gunung Alpen. Tangan kekar itu merangkul pinggang sang kekasih, dan satunya lagi untuk memegang perut buncit. Keduanya benar-benar seperti sepasang orang tua yang bahagia dan sedang menunggu anak lahir.


Setelah mengambil lima potret dengan gaya berbeda, orang yang dimintai tolong oleh Dariush pun mengembalikan ponsel Alceena.


“Apakah ada yang bagus?” tanya Dariush seraya mengajak Alceena duduk kembali.


“Bagus semua,” jawab Alceena dengan menunjukkan layar ponsel ke arah Dariush.


Kepala pria itu mengangguk setuju kalau hasilnya memang tak ada yang jelek.


Dariush menerima ponsel dan memasukkan ke dalam saku jaketnya. Dia berpindah duduk di hadapan Alceena agar kedua bola mata bisa saling bersitatap.


Tangan berotot milik Dariush menggenggam erat sang kekasih. Mengunci sorot pandangan pada mata Alceena yang berwarna abu-abu sangat indah. “Aku ingin memberi tahu sesuatu,” ucapnya. Walaupun dada sedang bergemuruh, tapi tetap memberanikan diri untuk jujur.


“Apa?” Alceena menaikkan sebelah alis karena melihat wajah sang kekasih yang kini nampak serius.

__ADS_1


Hembusan napas lemah keluar dari bibir Dariush secara perlahan. “Jika aku mengatakan bahwa bayi yang berada di dalam kandunganmu adalah anak-anakku, apakah kau akan percaya?”


Alceena terdiam dan wajah yang tadi ceria mulai berubah datar. “Maksudmu?”


Dariush menggenggam tangan Alceena semakin erat, seolah dia takut kehilangan wanita itu. Mata terus terfokus pada lawan bicara. “Aku adalah pendonor saat kau inseminasi. Itulah sebabnya kita bertemu ketika berada di rumah sakit. Artinya, secara tak kau sadari, yang berada di dalam rahimmu adalah anak-anak kita.” Akhirnya, terungkap juga rahasia yang selama ini dia kubur. Ada perasaan lega setelah berkata jujur, walaupun wajah Alceena terlihat tidak sebahagia tadi.


Alceena tidak menanggapi pernyataan sang kekasih. Dia mematung, tak berkedip, dan mulutnya terkunci rapat.


Tentu saja hal tersebut membuat Dariush bingung karena tak bisa membaca isi perasaan wanitanya. Entah senang atau sedih, benar-benar sulit diketahui karena hanya mimik datar yang terlihat.


“Aku minta maaf jika saat itu sudah lancang menghamilimu. Tapi, semua ku lakukan karena tak ingin ide gilamu bisa membuat kau mengandung anak pria lain.” Tangan kanan Dariush mencoba menyentuh pipi Alceena, mengusap penuh kasih seperti orang yang sedang menyalurkan perasaan yang sangat tulus. “Aku mencintaimu, Ceena. Dan aku memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi, supaya kau hamil anakku, lalu ada sesuatu yang bisa mengikat kita. Mungkin itu terdengar egois karena tak meminta persetujuanmu terlebih dahulu. Tapi, ku mohon jangan membenciku.” Matanya bahkan sampai berkaca-kaca karena terlalu takut kehilangan wanita yang dicintai.


...*****...


...Marah aja Ceen, biar aku bisa masuk memberikan bahu buat sandaran Ayang Dariush. Siapa tau hatinya akan berpaling padaku...

__ADS_1


__ADS_2