My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 193


__ADS_3

Daddy Davis menelepon Roxy yang dia perintahkan untuk mengikuti Dariush sebagai antisipasi kalau terjadi hal-hal buruk pada salah satu anaknya yang dilanda gundah gulana akibat patah hati.


“Ya, Tuan?” Roxy si manusia yang selalu direpotkan oleh keluarga Dominique langsung mengangkat saat mendapatkan telepon dari atasannya.


“Di mana Dariush?” tanya Daddy Davis.


“Di depan saya,” jawab Roxy sembari melihat ke arah orang yang dicari.


“Sedang apa dia?”


“Biasa, Tuan. Minum alkohol, sejak tadi malam tak berhenti.”


Daddy Davis hanya bergeleng kepala. Kebiasaannya yang sering minum alkohol banyak saat suasana hati buruk ternyata menurun ke Dariush. “Coba kau loudspeaker, aku ingin bicara dengannya!”


“Baik.” Roxy mengikuti perintah, meletakkan ponsel di dekat Dariush yang bersimpuh di lantai dengan kondisi tak beraturan.

__ADS_1


Roxy menyentuh lengan Dariush untuk memberitahukan sesuatu. “Tuan, orang tua Anda ingin berbicara.”


Dariush menjawab anggukan seraya menenggak cairan memabukkan. “Apa?” Pertanyaan tersebut terlontar dengan suara parau.


“Pulang! Mommymu sudah merengek agar kau kembali!” Daddy Davis memberikan perintah dengan suara tegas.


“Aku masih berada dalam suasana hati buruk, Dad. Kalau sudah lebih baik, pasti akan pulang,” sahut Dariush. Toleransinya pada alkohol sangat tinggi karena sudah terbiasa mengkonsumsi minuman tersebut, sehingga dia tak mudah hilang kesadaran seratus persen.


“No! Pulang sekarang atau Mommy jemput?” Wanita yang melahirkan empat orang anak itu ikut menimbrung.


Dariush menghela napas pelan seraya memegang kepala yang terasa berat. “Iya, besok aku pulang.” Dia tetap kalah dengan orang tuanya, karena pasti Mommy dan Daddynya akan menyeret paksa kalau sudah mengeluarkan ultimatum.


Sesuai ucapan, hari berikutnya Dariush sungguh pulang ke mansion Dominique pada sore menjelang malam. Kedatangan pria yang baru saja patah hati itu disambut rangkulan oleh Delavar yang sudah menunggu kepulangannya.


“Kusut sekali wajahmu jika sedang patah hati,” ejek Delavar bermaksud mengembalikan mood Dariush agar tidak memikirkan cinta yang kandas.

__ADS_1


Tapi, Dariush tetap tidak berselera. “Aku sedang malas bercanda, lain kali saja kalau perasaanku sudah membaik,” ucapnya dengan tak bersemangat.


Dariush melepaskan rangkulan tangan Delavar dan melewati ruang keluarga di mana semua sedang berkumpul.


“Hei! Sopan seperti itu? Baru datang langsung mau masuk ke kamar, sini!” tegur Daddy Davis dengan suara lantang.


Dariush yang lemas tak bertenaga pun mau tak mau berbalik arah dan mengayunkan kaki mendekati keluarganya. Pria itu langsung merebahkan tubuh dengan berbantal paha Mommy Diora. “Mom, aku patah hati,” keluhnya seraya mendusel pada perut wanita yang sudah melahirkannya.


Mommy Diora terkikik menghadapi tingkah anaknya itu. “Kau terlalu terburu-buru ingin menyendiri setelah mendapatkan penolakan, jadi kau tak tahu apa yang terjadi kemudian hari.” Dia berucap diiringi mengusap rambut sang anak.


“Alceena tak mengejar saat aku pergi, Mom. Dia memang tidak menginginkan menikah, dan aku tak mau sebatas hubungan kekasih saja.” Pria itu terus mengeluh dengan sang Mommy tercinta.


Danesh, Delavar, dan Deavenny yang melihat kelakuan Dariush pun tertawa karena pria itu kembali seperti anak kecil yang sedang mengadu pada orang tua kalau ada yang menakali.


Namun, tiba-tiba ponsel Deavenny berdering. Wanita yang sampai sekarang masih belum memiliki anak itu segera menatap ke arah layar. Ternyata Alceena yang menelepon. Dia sudah memberitahukan pada anak Tuan Pattinson tersebut kalau hari ini Dariush akan pulang.

__ADS_1


...*****...


...Walaupun kamu anak Mommy, aku tetep cinta kok sama abang Dariush. Lupakan saja si rambut singa, mari mulai semua dari nol bersamaku. *ini namanya the real orang ketiga adalah author*...


__ADS_2