
Dariush mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang VIP tiga. Sunyi sekali, tak ada orang lain selain dia dan Alceena. “Kau sakit dan dibiarkan sendirian? Di mana keluargamu?” Dia bukannya langsung keluar, justru mengajukan pertanyaan. Padahal, belum ada satu jam Dariush melontarkan kalimat seakan dia tak akan memuja dan mengejar Alceena lagi. Tapi, tetap saja sulit untuk mendiamkan dan berpura-pura tak peduli.
“Aku memang sendiri, sengaja tak mengabari keluargaku,” jawab Alceena. Tubuhnya masih terbaring lurus, jemari kakinya bergerak karena alat reproduksinya yang tadi dimasuki oleh alat kedokteran yang tak tahu apa namanya, masih merasakan sakit dan seperti mengganjal. Apa lagi posisi kakinya sedang dirapatkan.
Dariush duduk di sofa yang ada di ruang rawat Alceena itu tanpa permisi. “Aku temani kalau begitu.”
“Tidak perlu, kau kembali saja ke ruangan istri Delavar. Aku bisa mengurus diriku sendiri,” tolak Alceena. Dia tak mau Dariush mengetahui tentang program inseminasinya. Takut dikacaukan oleh pria itu.
“Aku akan keluar jika kau sudah ada yang menemani.” Dariush tetap teguh dengan pendiriannya. Tak mau mengambil risiko saat Alceena saja masih susah berjalan.
__ADS_1
Alceena hanya bisa berdecak. Dia tidak mau banyak bergerak karena jujur saja daerah intimnya sakit dan tak nyaman. “Aku sedang tak bisa berdebat denganmu seperti biasanya. Jadi, jika kau tetap mau di sini, jangan menggangguku!” titahnya dengan tegas.
“Beres. Lagi pula aku sudah malas juga mengusilimu, usahaku selalu sia-sia karena kau tak membalas perasaanku sedikit pun. Jadi, sekarang lebih baik kita berteman saja,” tutur Dariush seraya mencari posisi duduk terenaknya selain menatap Alceena. Demi menjiwai perannya yang ingin menunjukkan bahwa sudah lelah memperjuangkan Alceena. Dan berakhirlah fokusnya tertuju pada layar ponsel yang baru saja dia keluarkan dari saku celana.
Alceena menaikkan sebelah alis. ‘Apa dia serius saat mengatakan itu?’ gumamnya. Entahlah, berteman terdengar kurang enak di telinga. “Jika aku tak ingin berteman?” Tiba-tiba dia melontarkan sebuah pertanyaan.
Dariush berhenti menatap ponsel, menyorot Alceena sejenak dari jarak jauh. “Lalu, kau ingin memiliki hubungan apa denganku? Istri? Kekasih? Teman kencan?”
“Ya, ya, ya. Di matamu memang aku hanya dianggap musuh dan orang yang harus kau hindari.” Dariush tak pernah merasa sakit hati sedikit pun walaupun cintanya tak terbalas sampai sekarang. ‘Setidaknya aku sudah menanam bibit di rahimmu,’ gumamnya di dalam hati.
__ADS_1
“Jika kau tak nyaman aku berada di sini, maka hubungi keluargamu untuk menjaga dan menemanimu!” Dariush pun memberikan perintah bernada memaksa. Walaupun dia sangat ingin menemani Alceena, tapi aktingnya takut gagal jika terlalu lama berduaan di sana.
Alceena mendengus, tapi tangan tetap saja mengikuti perintah Dariush. Dia pun menghubungi Cathleen agar menemaninya.
Tak ada suara apa pun di ruangan itu. Dariush dan Alceena sama-sama diam. Biasanya anak kedua keluarga Dominique sudah mengusili keturunan Pattinson yang terbaring di atas ranjang pasien, tapi kali ini berbeda karena Dariush ingin menjiwai peran sebagai pria yang sudah berhenti menyukai Alceena.
Pintu ruang VIP tiga pun tiba-tiba dibuka dari luar. “Ceena? Kenapa kau tak bilang jika melakukan insem—” Cathleen baru saja masuk dan langsung mengomel. Tapi, ucapannya tak sampai selesai karena Alceena sudah melotot dan memberikan isyarat agar diam seraya melirik ke arah Dariush yang masih duduk tak memperdulikan mereka.
...*****...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, vote, dan kirim hadiah sebanyak-banyaknya ya bestie...