My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 44


__ADS_3

Dariush memberhentikan kendaraan di depan bengkel yang disebutkan oleh Alceena. Dia kembali lagi pada wajah datar dan tidak mau melirik wanita yang duduk di sampingnya lagi. “Turun!” Perintah itu terlontar sangat tegas. Bahkan Dariush sengaja membukakan pintu menggunakan fitur canggih dari mobilnya yang bisa terbuka dengan memencet kata kunci di layar mobil.


Dariush pikir, Alceena sudah mulai bisa meruntuhkan keras hati untuk menerimanya setelah dia diamkan selama dua minggu. Tapi nyatanya, wanita itu hanya ingin berteman dengannya saja. Mungkin tarik ulur ini harus diperpanjang lagi agar Alceena bisa seratus persen menerima kehadirannya.


“Apa kau mengusirku?” tanya Alceena. Lagi-lagi Dariush mendadak berubah drastis seperti memiliki roller coaster dalam diri pria itu untuk mengganti suasa hati yang bisa menghangat, lalu dingin seketika.


“Tujuanmu sudah sampai!” Dariush yang sadar jika Alceena tak kunjung membuka seatbelt pun langsung melepaskan sabuk pengaman tersebut. “Aku masih memiliki agenda lain!” tegasnya agar anak kedua Pattinson segera meninggalkan kendaraannya.

__ADS_1


Alceena menghela napas kasar. Dia menurunkan kaki, dan keluar dari mobil Dariush.


Dariush langsung memencet layar untuk menutup pintu secara otomatis. Tanpa menyapa untuk berpamitan, dia langsung melesatkan mobil begitu saja. “Apa sulitnya menerima cintaku? Kenapa harus jual mahal?” Dia memukul stir kemudi karena kesal. “Padahal hari ini Alceena sudah terlihat mulai merindukan sentuhanku! Kenapa harus berteman jika menjadi istri lebih enak?” Sepanjang jalan, Dariush menggerutu seorang diri. Tak paham lagi dengan jalan pikiran Alceena.


Sementara itu, Alceena segera pulang ke mansion Pattinson setelah mengambil mobilnya yang tak mendapatkan perawatan apa pun karena memang masih bagus. “Perlakuanmu padaku kenapa bisa mendadak berubah drastis? Aku menyukai kedekatan seperti tadi, tapi tak ingin melukai Cathleen.” Dia mengacak-acak rambut sendiri. “Argh ... kenapa bisa aku dan kembaranku selalu berakhir pada pria yang sama lagi?!” Dia mengumpati nasib cinta dan termakan omongannya sendiri yang tak akan menyukai Dariush sedikit pun.


Tak terasa kendaraan Alceena sudah sampai di mansion. Dia belum melihat mobil saudaranya terpakir di sana. Sepertinya belum pulang dari pusat perbelanjaan.

__ADS_1


Alceena pun turun dari mobil. Menghela napas panjang agar tidak terlalu banyak pikiran saat mengingat pesan dokter supaya dia lebih relax dan bahagia. “Maafkan Mommy, semoga kau baik-baik saja di perutku,” gumamnya seraya mengelus perut.


Sebisa mungkin Alceena mengulas senyum dan melupakan kejadian yang membuatnya seperti ketahuan selingkuh. Nanti dia akan menjelaskan pada Cathleen saat kembarannya sudah sampai di mansion agar tak ada kesalahpahaman diantara mereka. Sebab, Alceena tidak ingin bertengkar dengan saudaranya hanya karena seorang pria.


“Sabar Ceena, tenangkan pikiran, ingat kehamilanmu masih rentan keguguran.” Sembari berjalan memasuki bangunan utama, Alceena berbicara dengan dirinya sendiri seraya mengelus perut yang masih rata.


Alceena menghentikan langkah kaki saat melihat ada beberapa koper terletak di ruang tengah. “Siapa yang mau pergi?” tanyanya pada Papa Danzel dan Mama Gwen yang sedang duduk di sana.

__ADS_1


“Aldrich, dia ingin hidup mandiri,” jawab Mama Gwen dengan wajah yang sedikit muram. Sejak kecil sudah merawat anak selingkuhan mantan suaminya, membuat dia memiliki kasih sayang yang sama seperti anak kandung.


__ADS_2