My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 57


__ADS_3

Alceena tak mengajukan pertanyaan lagi. Dia sudah cukup senang ketika Dariush mulai mau menyentuhnya seperti dahulu. Kedua tangan kian erat berpegangan pada leher sang pria, dan kepala pun sengaja dibenamkan pada dada bidang yang terbalut kemeja wangi. Sungguh aroma yang sangat ingin selalu dia hirup setiap hari.


Dariush membawa Alceena ke dalam mobil keluarganya. Dominique tentu saja memiliki perusahaan yang tersebar di berbagai negara Eropa, sudah pasti mereka memiliki kendaraan sebagai transportasi saat melakukan pekerjaan di setiap negara.


Dengan hati-hati, Dariush mendudukkan Alceena di kursi belakang, barulah dia ikut ke dalam juga. Anak kedua keluarga Dominique itu tak menyetir sendirian jika sedang di luar negeri, dia menggunakan supir yang lebih hafal dengan daerah Munich.


“Ke rumah sakit yang paling bagus di sini!” perintah Dariush setelah dia duduk di samping Alceena.


“Baik, Tuan.” Supir pun segera melajukan kendaraan roda empat itu.


Mata Alceena sedari tadi tak bisa berhenti menatap Dariush. Perutnya yang tadi sempat sakit pun kini sudah menghilang.


Dariush menengok ke samping dan kedua orang itu saling bertatapan. “Tidurlah dulu, gunakan pahaku sebagai bantalnya. Jika sudah sampai, aku akan bangunkan.” Dia memberikan penawaran seraya menepuk bagian tubuh yang dimaksud.

__ADS_1


Alceena tentu saja mengulas senyum. “Boleh?”


“Tentu saja.” Dariush sedikit menarik tangan sang wanita dan membiarkan Alceena tidur berbantal pahanya.


‘Nyaman, padahal dulu aku tak suka didekat Dariush, sekarang justru sebaliknya,’ ucap Alceena di dalam hati. Dia menatap rakus wajah Dariush dari bawah seraya mengelus perut.


Sedangkan Dariush yang sadar jika terus dipandang pun menundukkan wajah. “Kenapa? Sakit sekali perutnya?” Dengan nada bicara yang sangat lembut dia bertanya. Tangan kiri pun ikut mengelus perut Alceena, sedangkan sebelah kanan mengusap puncak kepala. “Sabar, kita periksakan ke dokter. Istirahat dulu saja, jika sudah sampai akan ku bangunkan.”


Alceena menaikkan sebelah alis. “Bagaimana bisa kau tahu jika perutku sakit?” Ini aneh, perasaan dia tak mengatakan pada siapapun jika bagian tubuhnya yang terisi janin itu sempat merasakan nyeri dan kram.


“Jangan membual, Dariush. Aku melihat kau bersama seorang wanita saat pesta tadi,” tegur Alceena yang ingin memancing sang pria untuk berkata jujur tentang pasangan yang sempat dia lihat dan menjadi pemicu perutnya sakit.


“Kenapa dengan wanita itu? Apa kau cemburu?”

__ADS_1


Alceena mengedikkan bahu. “Aku hanya tak suka melihatnya.”


Dariush terkekeh seraya menoel hidung mancung Alceena. “Kau hanya butuh mengatakan bahwa cemburu, apa susahnya menurunkan gengsimu?”


Alceena mencebikkan bibir dan merubah posisi menjadi miring, menghadap ke depan. ‘Andai aku tak memiliki janji dengan Cathleen, sudah ku katakan seperti itu dan memintamu untuk menemaniku saat masa kehamilan yang menyiksa ini jika tak berada di dekatmu.’ Dia tak menjawab pertanyaan Dariush, justru bergumam sendiri di dalam hati.


“Kenapa diam saja? Apakah pertanyaannya terlalu sulit?” Dariush mengajukan pertanyaan lagi.


Alceena menggelengkan kepala hingga rambut pirangnya menggesek celana kain Dariush. “Aku tak memiliki jawaban dari pertanyaanmu.” Dia berusaha berkilah karena tak ingin menjatuhkan nama siapapun, termasuk Cathleen jika menceritakan kondisi yang sesungguhnya. Alceena tak ingin memiliki hubungan yang buruk dengan saudari kandungnya. Sebab, sudah pasti jika anak Tuan Dominique tahu permasalahannya dengan Cathleen, Dariush tak akan tinggal diam.


...*****...


...Ambyar juga sandiwaramu wahai Presiden Jomblo wkwkwk gak kuat ya mendalami peran jadi pria acuh?...

__ADS_1


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan kirim hadiah ya bestie...


__ADS_2