
“Tidak, Dariush.” Alceena menarik tangan sang pria dari balik kain tipis bawahnya. Nakal sekali anak Tuan Dominique yang satu itu, membuatnya kegelian agar mengaktifkan hasrat ingin bercinta. “Pinggangku sakit, nanti semakin remuk.”
Dariush mengelus pinggang Alceena dengan lembut. “Aku akan hati-hati, pelan tapi pasti.” Pria itu tak gentar, membisikkan kalimat rayuan dengan diiringi suara erotis yang keluar dari bibir.
Alceena sampai merinding sendiri. Dia bisa merasakan jika suhu tubuh Dariush sudah mulai mendidih. Kulit yang bersentuhan dengannya terasa panas, begitu juga napas yang menerpa tengkuk.
Alceena tak bisa diam saja, dia masih malas bercinta, lebih menginginkan untuk istirahat. Wanita itu pun berpura-pura mengeluarkan desisan. “Aw, sakit sekali perutku.” Tangan sengaja memegang perut seolah-olah merasakan kram yang sangat hebat.
Dariush yang terbakar hasrat bercinta pun seketika itu juga menjadi khawatir. “Apa anakmu menolak jika Mommynya bercinta denganku?”
“Sepertinya iya.” Alceena membuat suaranya seperti orang yang menahan sakit. “Tolong usap perutku sampai aku tertidur, jangan melakukan apa pun pada tubuhku kecuali aku yang meminta secara langsung, agar tak terjadi seperi ini lagi,” pintanya dengan menuntun tangan Dariush agar kembali menyentuh perut yang buncit tapi belum terlalu besar.
Dariush mencoba menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Menetralisir hasratnya agar lebih dingin. “Baiklah.” Dia pun memilih untuk menuruti permintaan Alceena. Padahal sesuatu yang berada di balik sarangnya sudah meronta-ronta.
__ADS_1
Alceena sangat menikmati nyamannya diusap bagian perut. Perlahan dia hendak masuk ke alam mimpi. Tapi, suara seseorang dari luar kamarnya membuat kelopak mata harus terbuka lebar.
“Ceena?” panggil Cathleen seraya menggedor pintu.
Alceena yang takut ketahuan pun reflek menyingkirkan tangan Dariush. Dia berpindah posisi menjadi duduk, menatap sang pria. “Di luar ada Cathleen,” beritahunya. Wajah cantik itu nampak panik.
Dariush menarik tangan Alceena untuk kembali tidur, dan memeluk wanita itu. “Memangnya kenapa kalau ada Cathleen? Bukankah dia sudah tahu jika kita dekat? Tadi saja melihat kita bersama.” Dia tak merasa terusik sedikit pun dengan suara keturunan terakhir keluarga Pattinson.
Dariush yang melihat gelagat aneh wanitanya pun ikut merubah posisi dan berhadapan dengan Alceena. “Kalian tak pernah bercerita tentang kehidupan percintaan pada kembaran?”
Alceena menggelengkan kepala. “Tidak untuk hubungan kita, tapi iya jika bersama pria lain.”
Dariush menaikkan sebelah alis. “Kenapa?”
__ADS_1
“Karena suatu alasan.”
“Apa? Kau takut saudaramu menyebarkan hubungan kita dan risau jika dianggap tak konsisten dalam berucap karena sejak dahulu kau terkenal memusuhiku?” Dariush berusaha untuk menebak.
“Ya, bisa dikatakan seperti itu.” Alceena beberapa kali menggigit bibir bawah seraya menengok ke pintu di mana Cathleen masih terus memanggil, terlihat sekali jika merasakan kekhawatiran.
Dariush menggelengkan kepala karena sang wanita masih saja resah akan hal sepele. “Sudahlah, berhenti memikirkan presepsi orang tentang hubungan kita. Toh bukan mereka yang menjalaninya.” Sembari berucap, tangan mengelus paha mulus Alceena dengan lembut. “Bukalah pintunya, kasian Cathleen menunggumu di luar,” titahnya kemudian.
Alceena berdecak, Dariush tak paham sekali dengan situasi yang sedang dihadapi. “Kau keluarlah lewat balkon, kembali ke kamarmu,” pintanya dengan sorot memohon.
“Tidak mau, untuk apa kita sembunyi-sembunyi dari saudaramu sendiri? Biarkan saja dia tahu,” tolak Dariush, tetap membatu di tempat.
Alceena mengacak-acak rambut karena frustasi mengusir Dariush yang enggan pergi dari kamarnya. Dia menghela napas, meyakinkan diri untuk mengatakan alasan yang sesungguhnya.
__ADS_1