My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 107


__ADS_3

Menilai situasi di Munich sudah tak bagus untuk kesehatan pikiran Alceena, Dariush memilih untuk mengajak sang wanita kembali ke negara mereka sebelum acara tahunan para pebisnis muda di Eropa itu selesai.


Dan beruntungnya Alceena menyepakati keputusan Dariush. Tapi dengan syarat agar keluar dari hotel secara terpisah. Mereka akan bertemu di dalam mobil saja.


Dariush sudah terlebih dahulu duduk manis di dalam kendaraan roda empat milik keluarga Dominique. Menanti kehadiran Alceena dengan menatap ke arah luar jendela terus.


Sedangkan Alceena, dia baru saja keluar dari kamar. Menarik kopernya sendiri dan mengayunkan kaki menuju lift.


Namun, ada suara saudaranya yang memanggil. Membuatnya tak jadi masuk ke dalam lift.


“Ceena, kenapa kau membawa koper?” tanya Aldrich yang tak sengaja melihat adiknya.


“Karena sudah tak ada urusan di sini lagi, dan aku ingin menyelesaikan masalahku,” jawab Alceena dengan membalas tatapan kakaknya dengan wajah yang masih nampak kesal.

__ADS_1


“Malam-malam seperti ini kau mau pulang sendiri? Masih ada hari esok, Ceena. Kita berangkat ke Munich sama-sama, seharusnya pulang pun kita berlima juga.” Aldrich berusaha ingin menjaga adiknya dari kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa Alceena karena ini sudah tengah malam.


“Aku bisa menjaga diriku sendiri, terima kasih atas perhatianmu,” balas Alceena seraya menarik koper dan masuk ke dalam lift.


Aldrich mencegah pintu lift agar tak tertutup dengan menggunakan tangan. “Apa kau ingin segera pulang karena Selena? Dia tak salah, Ceena, hanya ingin melindungi ayah dari janin yang dia kandung saja,” tebaknya menilai dari situasi yang baru saja dialami.


“Singkirkan tanganmu, aku ingin pergi,” pinta Alceena. Dia enggan menanggapi tuduhan Aldrich daripada membangkitkan emosinya lagi jika membahas masalah Selena dan Brandon.


“Tunggu aku, kita pulang bersama. Aku akan panggilkan anggota keluarga kita yang lain.” Aldrich tak ingin membuat orang tua angkatnya berpikir buruk tentang hubungan kekerabatan mereka jika pulang secara terpisah.


Aldrich hanya bisa menatap wajah kesal Alceena saat lift mulai tertutup.


Alceena langsung menuju mobil yang sudah menunggu di pintu depan lobby hotel setelah mengembalikan kunci kamar. Koper sudah dimasukkan ke dalam bagasi oleh supir.

__ADS_1


“Kenapa kau lama sekali?” tanya Dariush yang sudah menunggu kedatangan wanitanya selama lima belas menit dari waktu yang mereka sepakati.


“Tadi aku bertemu Aldrich, dia menginterogasiku karena membawa koper di tengah malam,” jawab Alceena seraya menyandarkan kepala di bahu Dariush dengan inisiatifnya sendiri.


“Oh.” Dariush tak ingin banyak mengulik jika Alceena tak menceritakan sendiri. Dia cukup mengelus rambut dan punggung tangan sang wanita agar wajah cantik tersebut bisa kembali relax saat mendapatkan sentuhan darinya.


“Kau sudah membeli tiket pesawat?” tanya Alceena seraya menyusupkan tangan untuk masuk ke balik kaos yang membalut tubuh kekar Dariush. Dia mengusap bulu-bulu halus yang ada di dada sang pria.


“Untuk apa membeli tiket? Kita pulang naik pesawat pribadi keluarga Dominique,” balas Dariush dengan sedikit sombong.


“Dih, tidak baik menyombongkan hartamu denganku. Nanti aku kuras habis saldomu, baru tahu rasa kau,” ancam Alceena seraya mencabut sehelasi bulu dada Dariush.


...*****...

__ADS_1


...Ini sih yang bucin siapa? Alceena apa Dariush? Kenapa dua-duanya sekarang nempel mulu...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya...


__ADS_2