My Love My Bride

My Love My Bride
kecewa


__ADS_3

Happy reading...


Suara deru kendaraan di jalanan yang cukup ramai berpadu dengan bunyi klakson yang sesekali terdengar. Para pengendara itu sepertinya sudah tidak sabar ingin segera sampai ke rumah di tengah gerimisnya hujan. Tak terkecuali Alena, saat ini ia dalam perjalanan pulang dari rumah Wira.


Setelah memarkirkan kendaraan roda duanya, Alena masuk dan menyapa Papa Salim yang sedang terduduk di sofa. Ia juga meletakkan jaketnya yang agak basah di sandaran kursi.


"Bagaimana kabar keluarga pamanmu? Siapa saja yang datang?"


"Baik, Pa. Semua datang, kecuali papa. Pagi ini papa ke luar kota."


"Pasti ramai ya," ujar Salim sambil tersenyum seakan membayangkan.


"Iya, Pa. Papa kenapa belum tidur? Ini sudah malam, Pa." Ujarnya sambil menuangkan susu UHT ke dalam gelas.


"Anak papa satu belum pulang, mana bisa papa tidur." Sahutnya.


Alena terkesiap mendengarnya. Walaupun ia sudah sering mendengarnya, akan tetapi ada perasaan bersalah tiba-tiba saja menyeruak.


"Maaf, Pa. Alena janji lain kali tidak akan pulang terlambat." Alena terduduk di samping Papa Salim dan melingkarkan tangannya di lengan pria itu.


Dari arah tangga, Widiya tersenyum tipis menyaksikan sikap Alena. Saat ini baru pukul sembilan lebih, tapi sejak tadi suaminya mengkhawatirkan Alena yang berada di rumah pamannya. Salim khawatir jika Alena berkendara di malam hari apalagi dalam cuaca yang seperti ini.


"Ganti dulu bajunya, Sayang. Dingin, nanti masuk angin."


"Iya, Ma. Alena ke kamar dulu ya, Pa. Papa jangan terlalu malam tidurnya." Pesannya.


Salim mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis ia menghabiskan sisa teh herbal dalam cangkirnya. Tak lama kemudian keduanya beranjak meninggalkan ruangan itu, berlalu ke kamar sambil bergandengan tangan.


Heh, besar kepala sekali Alena itu. Om sama tante juga, memangnya dia anak mereka? Padahalkan hanya menantu, tapi kok kelihatannya sayang sekali, decih Ajeng dalam hati sambil menutup pelan pintu kamarnya.


Ajeng mengurungkan niatnya mengambil snack di ruang makan. Melihat pemandangan tadi menbuatnya merasa jengah. Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Dengan ragu, ia mencoba menghubungi sang mama.


"Ma, sudah tidur?"


"Kamu mau apa Ajeng? Malam-malam begini menelepon. Tahu kan kalau jam segini mama sudah tidur."


"Maaf, Ma. Kalau begitu Ajeng tutup dulu ya. Selama malam, Ma." Pungkasnya.

__ADS_1


Ajeng berdehem sambil memalingkan wajahnya. Sebisa mungkin ia menahan air mata yang hendak meluncur. Ajeng meletakkan ponselnya, lalu kembali berkutat dengan buku yang tadi sedang ia baca.


***


Sang surya bersinar cerah sekali pagi ini. Awan-awan pun nampaknya malu untuk menghalangi. Setelah hujan semalam, sinarnya menghangatkan pagi. Kicauan burung-burung bersahutan seakan saling menyemangati. Seandainya Alena mengerti, ia berharap kicauan itu juga ditujukan padanya.


Pagi sekali Alena terbangun dan dengan semangatnya, ia mencoba alat penguji kehamilan itu. Namun sayang, garis satu yang diperlihatkan, membuat perasaannya seketika kecewa.


Sudah terbayang wajah bahagia suaminya, juga wajah-wajah anggota keluarga lainnya. Namun ia harus kecawa, karena kabar baik itu nyatanya hanya angan belaka.


Ponselnya yang berdering menyadarkan lamunan Alena. Ia mencoba berekspresi seperti biasanya karena tak ingin membuat Riky khawatir saat melihatnya di layar ponsel.


"Morning, Sayang!"


"Selamat pagi, Kak. Sudah bangun?"


"Sudah dong. Baru aja selesai mandi. Jangan ngiler ya, lihat body abang yang seksi ini." Candanya.


"Idih, percaya diri banget." Deliknya manja.


"Hehe, harus dong. Yang, pilihkan baju untuk hari ini ya. Bagusnya warna ini apa yang ini." Riky mengarahkan kamera ponselnya pada beberapa kemejanya yang tergantung di dalam lemari.


"Ini? Oke. Kalau dasinya yang mana? Yang ini cocok nggak?"


"Cocok. Tapi Alena suka yang satunya lagi."


"Yang mana? Oh yang ini, oke deh."


"Dalemannya nggak dipilihkan sekalian?" tanya Alena asal.


"Boleh-boleh. Dipilih-dipilih, satu sepuluh ribu." Kelakarnya.


"Pantes lho. Jangan-jangan abang yang jualan di pasar tumpah ya?" Alena menanggapi candaan suaminya.


"Eh si Eneng. Ayo dipilih, Neng. Abang keburu kedinginan. Bisa-bisa nanti burungnya terbang." Riky tergelak dengan ucapannya sendiri.


"Nggak apa-apa, asalkan terbangnya ke sini." Alena terkekeh mendengar candaan Riky. Wajahnya merona melihat Riky yang menggodanya dengan memperlihatkan salah satu bagian dari tubuhnya.

__ADS_1


Setelah panggilan diakhiri, Alena kembali termenung. Pastinya kebahagiaan Riky yang baru saja dilihatnya akan berlipat ganda seandainya kabar bahagia itu ada.


Tak ingin larut dalam kesedihan, Alena bergegas ke kamar mandi lalu keluar kamar hendak sarapan. Di ruang makan, Ajeng sedang menikmati sarapannya.


"Sayang, sudah bangun? Makan nasi goreng ya. Semalam kamu kedinginan, mama tadi khawatir kamu sakit."


Mama Widiya menyendokkan nasi goreng untuk Alena. Setelah meminum susunya, Alena membawa piring nasinya ke teras belakang. Di sana, Papa Salim sedang mengawasi pelayan pria yang sedang membersihkan kolam ikan.


"Jelek datang, jelek datang..."


Mendengar suara Paijo, papa menoleh pada Alena. Pria paruh baya itu tersenyum tipis dan dibalas hal serupa oleh Alena.


"Sudah sarapan, Jo?"


Alena menautkan alisnya, tidak biasanya burung itu bersikap tak acuh pada dirinya. Alena melirik pada Ajeng yang sedang menarik kursi. Sepupu Riky itu juga membawa sarapannya ke sana.


"Len, hari ini ada kuliah nggak?" tanya Mama Widiya.


"Ada, Ma. Tapi nanti siang. Memangnya kenapa?"


"Kamu mau ke luar atau di rumah?"


"Mau ke restoran Kak Laura. Lumayan kan bisa bantu-bantu, jadi nggak jenuh juga." Sahutnya disela-sela kunyahan.


"Mama sama Papa mau menjenguk teman papa yang sakit. Boleh mama minta sesuatu sama kamu, Sayang?"


"Boleh dong, Ma. Apa itu?"


"Ajak Ajeng ya. Ajeng kan belum punya teman di sini. Di rumah terus juga pasti jenuh. Iya kan, Jeng?"


Ajeng mengangguk. Ia kemudian menyuapkan sensok terakhir makanannya. Alena menatapnya sesaat kemudian menyanggupi permintaan mama.


"Alena? Mau bakar ikan nggak nanti malam? Mumpung ada yang besar ikannya!" seru Papa sambil memperlihatkan ikan yang berada dalam jaring yang pegangnya.


"Mau banget, Pa. Ikan Mujair ya, Pa. Biar nggak banyak durinya."


"Siaap!" sahut Papa.

__ADS_1


Alena meneruskan suapannya. Ia terkekeh melihat kehebohan papa saat menangkap ikan yang terlepas bersama seorang pelayan pria. Ia tidak menyadari, sedari tadi Ajeng mendelik memperlihatkan rasa tidak suka pada dirinya.


__ADS_2