My Love My Bride

My Love My Bride
perkelahian di club (2)


__ADS_3

Happy reading ....


Semua menoleh ke arah datangnya suara. Menatap tajam pada pria yang tengah memegang botol minuman yang dipecahkan di salah satu bagiannya.


"Kak Riky, Kak!" pekik Ajeng mencoba melepaskan diri.


"Berani sekali kalian menyentuh adikku," geram Riky dengan tatapannya yang nyalang.


Riky berjalan mendekati mereka. Beberapa pria mencoba menghadang, namun kembali mundur karena Riky tak sungkan mengarahkan botol pecah yang dipegang pada lawannya.


Ajeng yang berhasil melepaskan diri hendak berlari ke arah Riky. Namun kemudian ia tertegun sambil terbelalak dan memekik, "Dibelakang, Kak!"


Beruntung Riky sigap berbalik dan menangkis sebuah kursi yang diarahkan padanya. Botol yang dipegangnya terjatuh dan ia pun berkelahi dengan tangan kosong.


Mengetahui pria yang mengganggu kesenangan tuan mereka tidak memegang apa-apa, beberapa pria mengeroyok Riky dengan sangat brutal. Namun bukan Riky namanya, jika harus kalah begitu saja.


Pria itu melawan dengan kemampuan bela diri yang dimilikinya. Walau tak sekejam tangan kanan Tuan Salman, pria yang pernah menjadi tangan kanan Maliek itu punya kemampuan mempuni mengalahkan musuh-musuhnya.


"Berhenti! Berhenti sebelum polisi datang ke tempat ini!" seru seorang pria paruh baya yang merupakan pemilik club itu.


Pria itu datang dengan beberapa bodyguard. Mendengar kata 'polisi' mereka sontak berhenti dan menjauhkan diri dari Riky.


"Ini Gila, Tuan. Aku bisa kehilangan tempat ini jika polisi mengetahui semua ini." Pekiknya pada Tuan itu.


"Heh, tidak akan. Aku sudah membayar polisi di tempat ini. Kau tidak memasang cctv di lantai ini kan?" ujar Pria itu enteng.


"Tidak, Tuan. Menurut anak buahku, polisi sudah mencium kegiatan kita dan perkelahian ini ..."


"Sudahlah, jangan khawatir." Imbuhnya.


"Jangan terlalu percaya diri. Kau lihat saja, hanya dalam hitungan detik, polisi akan mengepung tempat ini," ujar Riky datar.


"Pembual." Decihnya.


Flashback on


Beberapa saat sebelumnya, Riky yang baru menepikan mobil di depan tempat itu turun dari mobilnya. Ia pun turun sambil mencoba menelepon Andri.

__ADS_1


Ia menoleh pada seorang pria yang berjalan mendekatinya. Keningnya mengernyit melihat pria itu memperlihatkan tanda pengenalnya.


"Maaf, saya tidak ingin terlibat penyelidikan anda. Saya hanya ingin menjemput pulang adik saya," ujar Riky.


"Saya baru melihat plat nomer mobil anda. Anda pengunjung baru?"


"Saya bukan pengunjung tempat ini. Saya hanya akan menjemput adik perempuan saya," sahut Riky mencoba untuk tidak kesal.


Beberapa kali Andri tidak menjawab panggilannya. Ia merasa lega saat panggilannya diangkat. Namun belum sempat Riky berucap, terdengar pekikan Ajeng di ujung panggilannya.


"Halo Ndri, apa yang terjadi. Halo!"


"Apa terjadi sesuatu di dalam?" tanya pria itu.


Sesaat Riky memperhatikan pria itu, kemudian memberikan ponselnya yang memperdengarkan perkelahian di dalam.


"Anda masuk saja. Tolong tahan mereka beberapa menit saja. Saya perlu anak buah yang cukup banyak. Karena berdasarkan pegamatan kami selama ini, jumlah mereka cukup banyak." Tuturnya.


"Terserah, itu bukan urusan saya. Saya hanya akan memastikan adik dan teman saya baik-baik saja."


Riky bergegas masuk ke dalam club. Ia memutarkan pandangan sambil terus mendengarkan suara-suara di ujung ponselnya. Sudah lama ia tidak mengunjungi tempat seperti ini. Jika tidak bersama tiga sahabatnya, ia enggan walau untuk sekedar melepas penat.


Tak lama, terdengar suara riuh di lantai bawah tempat itu. Bahkan terdengar suara beberapa wanita yang histeris.


Pemilik club itu terlihat gusar. Apalagi saat seorang anak buahnya melapor bahwa polisi sudah ada dimana-mana.


Beberapa pria terlihat sibuk membereskan uang yang dijadikan taruhan. Ada yang hendak melarikan diri, namun kembali lagi karena polisi sudah ada di ujung tangga.


"Bagaimana ini, Tuan?"


"Biarlah. Mereka tidak akan berani menangkapku."


"Tuan, mereka orang yang berbeda. Para polisi itu."


"Apa maksudmu?"


Belum sempat anak buahnya menjawab, seruan kepala polisi membuat mereka terdiam. Benar saja, polisi berpakaian preman itu tidak sedikit. Sebagian dari mereka mengacungkan senjata, sedang yang lainnya menangkap satu persatu beserta barang buktinya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa? Bersabarlah, aku sudah memanggil ambulance," ujar Riky pada Andri.


"Saya baik-baik saja, Bos." Sahutnya sambil meringis.


Melihat mereka melepaskan papanya, Ajeng langsung berlari dan memeluk Pras. Ajeng terisak melihat keadaan papanya yang sangat mengenaskan.


"Pa, bangun. Ini Ajeng." Isaknya.


"Kak ...."


Riky menghampiri dan memastikan keadaan Pras. Ia terlihat lega saat mengetahui Pras tidak meninggal dunia.


***


Malam semakin sunyi dan juga gulita. Saat ini sudah dini hari, dan Ajeng yang sedang menunggu di ruang IGD rumah sakit. Menunggu dokter memeriksa kondisi papanya dan juga Andri.


Tak lama, derap langkah terdengar mendekati mereka. Ajeng menoleh dan langsung mendapat pelukan dari Widiya yang datang bersama suaminya.


"Bagaimana keadaanmu, Jeng? Ada yang luka? Kamu tidak apa-apa kan?" Widiya menelisik dengan seksama. Ajeng menggeleng pelan dan memeluk Widiya lagi.


"Maafkan Ajeng, Tante." Isaknya.


"Sudahlah. Yang penting kamu tidak apa-apa. Bagaimana keadaan papamu? Dan katanya Andri juga?" Ajeng mengangguk pelan. Ia benar-benar merasa bersalah karena melibatkan Andri dalam hal ini.


Salim mendekati Riky dan meminta putranya itu menceritakan segalanya. Terdengar helaan nafas kasar dari bibir Salim sebelum kemudian berucap, "Aku kira Pras akan berubah."


Lagi-lagi derap langkah di kesunyian malam mengalihkan pandangan mereka. Riky yang mengenali segera menghampiri.


"Om, Tante ...."


"Rik, bagaimana keadaan Andri?" tanya Mama Andri dengan raut wajah yang cemas.


"Andri sedang ditangani dokter, Tante."


"Semoga tidak terjadi apa-apa ya, Rik. Tante bingung, mau apa dia ke tempat seperti itu?"


"Tante." Ajeng menghampiri dengan kepala yang tertunduk.

__ADS_1


Mama Andri mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat-ingat wanita muda yang kini ada dihadapannya.


"Ka-kamu?"


__ADS_2