My Love My Bride

My Love My Bride
extra-part (pernikahan Andri-Ajeng), bagian 1


__ADS_3

Happy reading ....


Saat ini baru pukul delapan malam, namun suasana di luar rumah sudah sangat sepi. Mungkin karena hujan, para pemuda yang biasa berkumpul di warung depan memilih berdiam diri di rumah masing-masing.


Pras membawa secangkir kopi dari dapur. Hawa dingin malam ini membuat Zee tertidur lebih cepat dari biasanya.


Sesaat Pras mengintip ke luar jendela. Derasnyanya hujan, terasa cukup mencekam di malam yang gulita.


"Semoga saat pernikahan Ajeng dan Andri nanti, cuaca cerah." Gumamnya. Mengingat bulan ini sudah masuk musim penghujan.


Pras meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Di ambilnya remot tv dan memilih acara yang menampilkan berita.


Pras kembali mengangkat cangkir kopinya. Menyesap panasnya kopi dengan tatapan tertuju pada layar kaca.


'Resepsionis Hotel DF temukan mayat wanita berinisial 'R' tewas di kamar hotel.'


Dengan posisi pinggiran cangkir yang masih menempel di bibirnya, Pras mendengarkan dengan seksama berita di tv itu. Saat ia sedang menyesap kopinya lagi, tiba-tiba saja Pras tersedak. Di tv, saat sekilas memperlihatkan beberapa benda milik korban, Pras merasa mengenali sesuatu.


"Tas itu ... seperti punya Risa. Tapi tidak mungkin Risa. Tas seperti itu tidak hanya satu kan? Bagaimana kalau ternyata benar Risa?"


Pras terlihat gusar. Ia ingat benar saat Risa merayunya habis-habisa karena minta dibelikan tas itu.


Pras pun kemudian mencari nama teman dalam kontak di ponselnya yang berada di kota kejadian yang diberitakan. Pras lalu menelepon dan meminta temannya mencari informasi lengkap tentang siapa wanita berinisial 'R' dalam berita tersebut.


Pras mencoba untuk bersikap tenang. Ia memang tidak pernah mendengar kabar tentang Risa. Pras hanya fokus pada Zee yang kini sudah meminta ikut-ikutan ke PAUD bersama anak tetangga.


Terlebih, akhir pekan ini adalah hari pernikahan Ajeng dan Andri. Pras sibuk mengais rezeki dan mengumpulkan pundi-pundi agar bisa menikahkan putrinya dengan uang hasil keringatnya sendiri.


***


Keluarga Salim kembali disibukkan dengan agenda pesta pernikahan. Kali ini, Widiya hanya dibantu Salma dan Alena. Widiya tak meminta bantuan keluarga besarnya yang lain karena pernikahan Ajeng diadakan sederhana.


"Mbak, kok nggak di gedung atau di ballroom?" tanya Salma.


"Ajengnya nggak mau, Sal. Padahal kami sudah menawarkannya. Bahkan Ajeng dan Andri bertengkar, karena Andri mentransfer sejumlah uang untuk pernikahan. Mbak juga heran, kenapa Ajeng harus tergantung pada Pras."


"Apa mungkin Ajeng sedang menguji papanya? Seperti yang kita tahu, saat Almarhumah Hesty masih ada, Pras seakan mengabaikan Ajeng. Mungkin saja sekarang Ajeng ingin Pras menjalankan perannya sebagai seorang ayah," ujar Salma.

__ADS_1


"Apa mungkin seperti itu, Tante? Ajeng tidak kekurangan uang, Lena juga sempat heran kenapa dia tidak ingin pernikahan yang megah."


Percakapan tiga wanita di ruang keluarga itu sedikit banyaknya terdengar oleh Ajeng yang berdiri di balik pintu kamarnya. Ya, ia memang ingin menikah hanya dengan uang yang dimiliki ayahnya. Kenapa?


Karena tugas seorang ayah adalah menikahkan putrinya. Tidak hanya sebagai wali nikah, tapi juga mengadakan acara pernikahan sesuai kemampuannya.


Apa Ajeng salah menginginkan hal itu? Tentu tidak.


Setelah banyaknya kewajiban yang diabaikan Pras terhadapnya, Ajeng hanya minta satu hal ini sebelum tanggung jawab Pras berpindah tangan pada Andri nantinya. Yakni, membiayai pernikahannya.


Dering ponsel menyadarkan Ajeng dari ketertegunan. Ajeng segera mengambil ponselnya dan tersenyum tipis melihat nama yang tertera. Hari ini ia dan Andri akan mengunjungi butik untuk mengambil sendiri gaun yang dipesannya.


Ajeng tersenyum lebar melihat kebaya indah hadiah dari Amiera's Boutique untuk acara akad nikahnya. Ia merasa beruntung sekaligus sedih, karena pernikahannya tidak dihadiri sang mama.


***


Kedua calon mempelai sudah duduk di depan penghulu. Pras juga sudah siap menjadi wali nikah putrinya. Mereka bersiap melaksanakan ijab kabul pernikahan.


Namun mempelai pria nampaknya sudah tak sabar. Sedari tadi terus saja melirik calon istrinya yang nampak sangat cantik.


"Iya, Bos. Dari tadi juga saya udah sabar. Tapi durennya wangi, Bos. Saya jadi pengen cepat-cepat belah," seloroh Andri.


"Hehe, tahu aja yang wangi. Pokoknya nggak cuma wangi, tapi juga sedap dan mantap," sahut Riky dengan mimik wajah yang lucu.


"Tuh kan si Bos. Otak saya jadi travelling nih."


"Ehhem."


Deheman pak penghulu seketika membungkam dua pria yang asik mengobrol itu.


"Jadi nggak nih?" goda Penghulu itu namun dengan nada yang ketus.


"Ya jadi dong, Pak. Masa ia duren di depan mata nggak diambil," sahut Andri sekenanya.


"Duren?" Penghulu itu terlihat bingung. Ia celingukan sambil mengendus, membuat yang melihatnya mengulumkan senyum.


Penghulu itu baru kembali fokus setelah pria di sampingnya berbisik. Ia berdehem untuk memperlihatkan wibawanya lagi.

__ADS_1


Dengan lantang Andri menerima Ajeng sebagai istrinya. Pria yang belum lama dikenalnya itu kini mengambil tanggung jawab atas dirinya.


Rasa haru juga dirasa oleh Kamil yang memilih duduk diantara anak-anak di salah satu sisi rumah itu. Seakan ingin mengalihkan perasaannya, Kamil menemani anak-anak yang asik bermain dan sesekali mengganggu Paijo.


"Kenapa nggak di dalam, Mil?" tanya Alena yang menghampiri sambil memangku Baby King.


"Di sini aja lah, Len. Di dalam gerah." Kilahnya.


Alena hanya tersenyum tipis, dan tak ingin memaksa. Alena melihat si kembar yang hendak ke tepi kolam ikan dan langsung mencegahnya. Kamil cepat-cepat menghampiri kedua anak itu, juga Queena dan Fatima.


"Hampir saja. Terima kasih, Mil," ujar Alena sambil mengusap kepala Raya. Alena meminta mereka masuk ke dalam rumah.


"Sama-sama. Ini semua keponakan kamu, Len? Rame banget," ujar Kamil.


"Hehe, iya. Kalau yang itu anakku," tunjuk Alena pada Mima yang berjalan diikuti Zein. Mima yang baru bisa berjalan itupun seperti sengaja menggoda Zein yang mengasuhnya dengan berlari tak karuan.


"Mami, pangku ...." Rengeknya.


"Sama Om yuk," tawar Kamil yang langsung berjongkok.


"Nggak mau," sahut Mima sembari menggelengkan kepala.


"Sebentar ya, Mami mau kasihin dulu Baby ke Auntie." Seketika Baby King merengek. Bila sedang digendong Alena, King tak pernah mau berpindah tangan.


"Digendong kakak aja ya," bujuk Zein. Zemima langsung mengangguk senang dan mengangkat kedua tangannya.


"Bisa Kak?" tanya Alena.


"Bisa dong. Mima kan kecil," sahut Zein. Ia merasa geli karena Zemima yang melingkarkan tangannya di leher Zein menciumi pipinya.


"Geli, Beib. Mima sayang kakak?" Putri Riky itu langsung mengangguk dengan senangnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Zein dan langsung menyanggupi saat Zemima menunjuk ke dalam rumah.


Sementara itu Alena mengulumkan senyum melihat langkah Zein. Kamil masuk ke dalam rumah hendak mengucapkan selamat pada sang kakak.


Alena yang kini hanya berdua dengan King pun mulai berceloteh mengalihkan perhatian keponakannya sambil menjentikkan jari pada Paijo.

__ADS_1


__ADS_2