My Love My Bride

My Love My Bride
Amukan Widiya


__ADS_3

Happy reading ....


Widiya merasa ada aura berbeda saat melihat Ajeng yang terpaku menatap wanita dihadapannya. Ia menoleh pada Riky dan menatap mengisyaratkan tanya. Riky yang juga merasakannya menggeleng pelan karena memang ia tidak tahu apa-apa.


"Heh," seringai Ajeng.


"Kamu kenapa, Jeng?" tanya Widiya bingung.


"Kamu di sini bekerja sebagai apa, heh? J*lang seperti kamu pantasnya ada club malam, bukan di perusahaan," decih Ajeng tanpa menghiraukan pertanyaan tantenya. Ajeng melangkah perlahan mendekati Risa


"Aku sekretarisnya Pak Riky. Kamu sendiri ngapain di sini? Harusnya kamu temani mama kamu yang cengeng itu. Dia pasti sekarang sedang menangis, menyedihkan." Risa membalas tanpa ragu dengan ejekan yang ia lontarkan. Risa belum tahu Hesty sudah meninggal.


"Lancang, kamu."


Plak.


Satu tamparan diterima Risa. Namun bukan dari Ajeng, melainkan Widiya. Hampir semua yang ada di sana menyaksikan kejadian itu. Riky sampai terkejut melihat sorot mata mamanya yang marah.


"Siapa kamu berani menghina adik saya yang sudah meninggal. Ooh, jangan-jangan kamu j*langnya Pras ya. Betul begitu? Apa kamu juga bermaksud menggoda anak saya? Jangan mimpi! Betul kata Ajeng, tempat kamu di club malam, bukan di sini," ujar Widiya dengan nada yang tinggi.


Seketika raut wajah Risa memucat. "Hesty sudah meninggal? Apa maksudnya ini, ja-jadi Ajeng sepupu Pak Riky?" batin Risa memekik. Ia terpaku menyadari kenyataan itu.


Para karyawan mulai berbisik-bisik. Alena yang kebetulan sudah ada di lobi juga mendengar ucapan Mama Widiya dan tertegun untuk sesaat. J*lang?


Alena mengingat ekspresi Risa semalam, kemudian menoleh pada Riky yang terlihat masih bingung dengan semua yang terjadi.


"Ma, ada apa ini? Di sini banyak orang, jangan asal menuduh," ujar Riky mencoba menenangkan mamanya.


"Kak Riky membela dia?" tanya Alena yang merasa geram mendengar Riky membela Risa. Ia pun menghampiri dengan santai namun terkesan angkuh.


"Sayang, bukan begitu maksudku. Tapi ini di depan umum, kasihan Risa kalau dituduh tanpa bukti."


Risa menyeringai mendengar pembelaan Riky. Di sisi lain, Andri kebingungan membubarkan para karyawan yang berkerumun dan tak bergemin meski ia meminta mereka untuk membubarkan.


"Kak, Risa ini j*langnya papa. Dia juga sudah punya anak. Ajeng datang ke apartemennya sebelum mama meninggal. Kakak tahu apa yang dia lakukan? Bukannya sadar diri, dia malah menampar Ajeng. Dasar wanita ular," delik Ajeng dengan tangan yang terkepal.


"Apa? Dia menampar kamu?" pekik Widiya sambil menatap nyalang pada Risa. Widiya meronta dari kungkungan Riky. Tangannya sudah bersiap ingin mencakar wajah wanita dihadapannya tersebut.

__ADS_1


"Lepas, Rik."


"Ma, jangan seperti ini." Riky tidak bermaksud membela Risa. Ia hanya tidak ingin mamanya mempermalukan diri sendiri di depan para karyawannya.


"Kak Riky ada main ya dengan dia?" tuduh Alena.


"Apa? Yang benar aja kamu, Rik!" bentak Mama Widiya.


"Enggak. Kamu kok nuduh aku begitu sih, Sayang?" tanya Riky bingung dan tanpa sadar melepaskan kungkungannya pada sang mama.


"Siapa yang nuduh? Nih buktinya!" Alena memutar rekaman panggilan video-nya semalam. Widiya yang syok, hilang kendali dan membabi buta menjambak serta mencakar Risa.


"Dasar j*lang. Beraninya kamu menggoda anak saya. Beraninya kamu mengganggu rumah tangga anak saya," geram Widiya sambil terus melancarkan aksinya.


Ajeng membantu Widiya dengan menepis setiap perlawanan yang coba Risa lakukan. Riky tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Alena yang sedang menatapnya tajam sambil melipat tangan di dada.


Di sisi lain, Andri dan security kebingungan harus bagaimana. Ingin melerai tapi tak kuasa karena yang sedang mengamuk adalah ibu dari atasan mereka. Sementara itu, para karyawan terutama karyawan wanita ikut-ikutan merasa geram dan memprovokasi agar Widiya tidak berhenti begitu saja.


Risa tersungkur dan bersimpuh di lantai. Rambutnya acak-acakan dengan beberapa bekas cakaran di bagian wajahnya. Ia terisak dan meminta ampun pada Widiya.


"Apa kamu, ampun-ampun! Nggak habis pikir saya. Kamu itu perempuan, tapi kok sukanya menggangu suami orang. Sudah cukup kamu membuat Hesty menderita. Jangan harap saya tinggal diam kalau sampai kamu berani mengganggu rumah tangga anak saya." Serunya.


Andri dan beberapa security kembali meminta para karyawan untuk membubarkan diri. Kali ini mereka menurut, mengingat waktu istirahat mereka hampir terlewat.


Beberapa terdengar mengumpat. Sedangkan yang lain ada yang berdecih.


"Nggak nyangka ya."


"Nggak tahu malu. Beraninya menggoda Pak Riky."


"Ih, amit-amit. Sudah punya anak kok ngaku masih gadis. Nggak kasihan apa sama anaknya. Ada tapi kok nggak diakuin."


Masih banyak lagi yang mau tak mau harus didengar Risa. Wanita itu menunduk sangat dalam sambil menahan rasa perih di wajahnya.


Kalau sudah seperti itu, Alena merasa kasihan. Bagaimana pun juga ia seirang wanita yang akan menjadi seorang ibu.


Alena menghampiri Mama Widiya dan mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Duduk yuk, Ma." Ajaknya.


Widiya terduduk bersama Ajeng dan Alena. Andri menghampiri sambil membawa dua botol air mineral. Setelahnya, Andri menghampiri Riky.


"Ndri, urus dia."


"Baik, Bos."


Andri meminta seorang security wanita untuk memapah Risa. Mereka membawa Risa ke ruang kesehatan.


Sementara itu, Riky merasa bingung. Ia masih benar-benar tidak mengira Risa akan memfitnahnya.


"Sana kamu, jauh-jauh dari Alena! Istri sedang hamil kok malah main serong," hardik Mama.


"Tidak seperti itu, Ma. Sayang, kamu percaya aku kan? Aku nggak seperti itu," ujar Riky yang berjongkok di depan Alena. Ia mencoba meraih tangan Alena walau terus saja mendapat penolakan dari istrinya tersebut.


Melihat hal itu, Widiya merasa kasihan. Bagaimanapun juga Riky adalah putranya. Ia tahu benar bagaimana perangai Riky.


"Kita selesaikan hari ini juga. Bawa dia ke ruangan kamu. Kita akan bicara di sana," ujar Mama Widiya.


Riky mengangguk pelan, lalu menelepon Andri. Ia meminta Andri membawa Risa ke ruangannya juga meminta asistennya itu memesankan makanan untuk mereka.


Ajeng menggandeng Mama Widiya menuju lift. Sedangkan Riky masih mendapatkan penolakan dari Alena saat ia berusaha untuk menggandeng istrinya tersebut.


"Yaang ..."


"Awas ih." Tepisnya.


"Sayaang ...." Rayunya.


"Apa? Sana ah," tolak Alena namun terdengar manja.


Mereka masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Riky memaksa untuk memeluk Alena. Ia ingin menenangkan dan meyakinkan wanitanya tersebut.


"Sayang, aku nggak mungkin mengkhianati kamu. Kamu segalanya bagiku. Kamu percaya kan sama aku? Yang, udah dong ngambeknya. Aku kangen," bujuk Riky.


Melihat usaha putranya, Widiya mengulumkan senyuman. Begitu juga dengan Ajeng, gadis itu menahan tawa mendengar nada suara Riky yang sangat berbeda bila sedang bersama Alena. Mereka berpura-pura tidak melihat pantulan Riky yang sedang merayu Alena.

__ADS_1


__ADS_2