
Happy reading ....
Beberapa hari kemudian, semua berjalan seperti biasanya. Ajeng disibukkan dengan tugas-tugas kampusnya yang sempat tertinggal, begitu juga dengan Alena dan Riky yang kembali ke rutinitas pekerjaan mereka.
Cuaca pagi yang cerah menjadi penyemangat bagi siapa saja yang hendak keluar rumah. Setiap orang akan disibukkan dengan aktivitas paginya. Namun tidak dengan Alena Atmadja.
Rasanya tak ada hal yang lebih menyenangkan bagi calon ibu muda itu, selain memperhatikan suaminya yang sedang memasak untuk dirinya.
Sejak kehamilannya, Alena suka sekali dengan masakan buatan Riky. Meskipun menurut Riky masakan itu tidak enak, tetap saja Alena menghabiskannya.
Alhasil, Riky rela berkeringat dan berkutat dengan peralatan dapur demi istrinya. Ia pun mengasah kemampuan memasaknya dengan menonton video di youtube tanpa sepengetahuan Alena.
"Kak Riky kalau sedang masak mirip oppa Korea," ujar Alena sambil menatap punggung suaminya.
"Gantengan siapa? Oppa Riky apa oppa Korea?"
"Kak Riky dong."
"Kok Kak sih, bukan Oppa." Protesnya.
"Op-pa," ujar Alena manja dengan raut menggoda. Riky terkekeh dan cepat-cepat menyajikan nasi goreng buatannya.
"Hmm, harum. Masakan Oppa semakin enak. Bisa-bisa makan siang juga Lena minta dibuatkan nih," ucap Alena sambil mengibas-ngibaskan tangan agar uap makanan terhisap oleh hidungnya.
"Geli ih aku dengarnya. Kalau libur ya, Sayang. Aku kan harus kerja," sahut Riky dengan tatapan mengiba.
"Iya. Alena tahu. Makan yuk! Kok Kak Riky cuma buat satu piring sih? Temani Lena makan."
"Ini juga sedang menemani. Kan spesial hanya untuk kalian."
"Kalian?" Alena mengernyitkan keningnya.
"Kamu dan bayi kita, Sayang." Riky memijit gemas ujung hidung Alena.
"Oh iya, ya. Lupa, hehe."
Alena mulai menyuapkan nasi goreng seafood buatan Riky. Sementara itu, Riky menemani sambil meminum kopi. Menghirup bau bumbu selama memasak, ditambah melihat istrinya yang lahap sudah membuat Riky merasa kenyang. Namun tetap saja mulutnya terbuka, jika Alena menyuapkan makanan untuknya.
__ADS_1
***
Setibanya di kantor, pasangan itu menggunakan lift yang sama. Selama berada dalam lift, berkali-kali Riky mengecup kening istrinya. Namun mereka harus berpisah saat tiba di lantai gedung tempat ruangan Alena berada.
Keluar dari lift, Riky disambut senyum bahagia sekretarisnya. Risa bahkan mengikuti langkah kaki Riky sampai di ruangan atasannya tersebut.
"Risa, tolong panggilkan Andri."
"Baik, Pak."
"Ada yang ingin kamu sampaikan?" Riky merasa heran melihat Risa tidak bergeming dari tempatnya.
"Tidak ada, Pak. Permisi," pamit Risa ragu. Membuat Riky menggeleng pelan.
***
Hari-hari berlalu begitu cepat. Alena sudah mulai menyusun tugas akhir perkuliahannya. Istri Riky itu berharap bisa menyelesaikan lebih cepat. Ia ingin menikmati masa kehamilan dengan beban pikiran yang tidak terlalu berat.
Di sisi lain, Riky juga disibukkan dengan pekerjaannya. Jadwal meeting yang rapat membuatnya kesulitan meluangkan waktu istirahat.
Di bawah kepemimpinannya, Bramasta Corp cabang kota D maju pesat. Berkat kepiawaiannya meyakinkan klien, banyak tender yang dimenangkan. Namun dengan begitu, Riky harus rela waktunya dengan Alena dikorbankan.
"Pak, sebaiknya anda istirahat. Anda terlihat sangat lelah," saran Andri.
Riky memang nampak kusut. Keningnya berkerut memperhatikan setiap detil angka pada anggaran proyek barunya tersebut.
"Aku ingin semua ini benar-benar teraudit sebelum kita pulang besok," sahut Riky tanpa menoleh.
Kalau sudah begitu, Andri tak mampu berkata-kata. Mereka kembali menyelesaikan pekerjaan sampai senja datang menyapa.
"Andri, pukul berapa acara akan di mulai?" tanya Riky saat mereka memasuki lobi hotel.
"Pukul delapan, Pak."
"Baiklah, masih ada waktu. Aku ingin tidur sebentar. Bangunkan aku satu jam lagi."
"Baik, Pak," angguk Riky.
__ADS_1
Riky mendahului masuk ke dalam lift. Sementara itu, Andri menoleh pada Risa yang sedang melihat-lihat area sekitar.
"Kamu nyari apa, Ris?"
"Saya mencari salon, Pak. Biasanya kan ada pelayanan spa atau semacamnya ya kalau di hotel mewah begini. Saya kan ingin terlihat cantik di acara nanti malam. Pak Andri duluan saja, saya mau tanya dulu sama pegawainya," pamit Risa. Andri hanya menggelengkan kepalanya pelan dan berlalu menuju lift untuk sampai ke kamarnya.
Sementara itu, di kamarnya Riky sedang video call dengan istrinya. Ia merasa lega karena Mama Widiya sigap menemani Alena saat ia tidak ada. Setidaknya ada yang menemani Alena. Ia tidak ingin istrinya itu sampai terlewat makan karena kesibukan.
"Kak Riky besok pulang jam berapa?"
"Penerbangan sore, Sayang." Melihat wajah Alena sedikit menghapus rasa lelahnya. Namun begitu, ia bisa melihat gurat kelelahan itu ada di wajah istrinya.
"Sayang, istirahat dong."
"Tinggal sedikit lagi, Kak. Tanggung ...."
"Yang ..." kalimat Riky urung dilanjutkan. Ia terkekeh melihat Alena yang memamerkan perutnya yang mulai terlihat membesar. Pria itu sangat tahu, hal itu dilakukan Alena karena tak ingin mendengar omelannya.
Maniknya berbinar melihat Alena yang juga menggodanya dengan memperlihatkan bagian lain.
"Yang, udah dong. Masa iya aku harus solo." Keluhnya. Riky berusaha tersenyum melihat raut wajah Alena yang sendu saat menatapnya yang terlihat sangat lelah.
"Kak Riky katanya mau tidur. Tidur dulu aja, sebentar lagi kan ada acara. Suami Alena kok mukanya kusut begitu."
Riky menggerakkan telunjuknya di layar ponsel. Mengusap wajah Alena hampir di setiap bagian. Ia sudah teramat rindu, pada wajah cantik itu. Seandainya ini di apartemen mereka, ia akan memasakkan sesuatu untuk Alena meski lelah mendera.
Tak berbeda jauh dari atasannya, Andri juga menggunakan waktu luang untuk beristirahat. Jika Riky mengobrol dengan istrinya, maka Andri mengobrol dengan adiknya, Kamil.
"Please, Kak. Bantu bicara pada papa dan mama." Bujuknya.
Andri mendengus kasar.
"Kamu sudah tahu kan bagaimana papa. Apalagi mama, dia nggak akan setuju kalau kamu ngelangkahin kakak."
"Aku janji akan belajar mandiri dan bertanggung jawab."
"Mana ada yang akan percaya janji anak cengengesan seperti kamu. Buktikan dulu dengan bekerja. Memangnya menikahi anak orang itu perkara gampang? Mau dikasi makan apa istrimu nanti? Jangan bikin malu orang tua, De. Bekerja dulu, mapan dulu, jodoh kan memang sudah ada, nanti juga datang sendiri."
__ADS_1
"Omong kosong. Kalau memang seperti itu, kok jodoh Kak Andri belum datang juga? Padahal kerja udah, mapan juga udah. Mau beli rumah tinggal beli, apa aja tinggal beli. Kok belum nikah?"
Andri kalah telak. Pria itu mengepalkan tinju pada ponselnya. Merasa geram mendengar kekehan adiknya.