
Happy reading ...
Mentari yang mulai menampakkan diri, menghangatkan pagi siapa saja yang telah memulai hari. Cicitian burung yang bersahutan, seakan menyemangati para penghuni bumi untuk menyambut datangnya sang mentari. Tak terkecuali Riky.
Riky sudah keluar kamar dan menghampiri Papa Salim yang sedang menikmati teh hangat di teras belakang. Pria paruh baya itu menautkan alisnya, merasa heran melihat Riky yang sudah bangun sepagi ini di akhir pekan.
"Pagi, Pa. Mama kemana?"
"Mamamu ke pasar sama Salma. Katanya udah kangen suasana pasar di sini."
"Den Riky, mau Mbok buatkan kopi?" tawar asisten rumah tangganya yang yang sedang menghidangkan kudapan.
"Nggak usah, Mbok. Ini aja, saya sedang buru-buru." Sahutnya. Riky menuangkan teh kemudian menyuapkan kudapan sambil menunggu panas pada tehnya berkurang.
"Mau kemana, Rik? Udah rapi gitu," tanya Papa.
"Riky mau beli kuda Pa, untuk Fatum. Kebetulan ada kenalan Riky yang tahu tempatnya dan dia ngajak ke sana pagi-pagi."
"Kuda hitam itu? Apa nggak bahaya, Rik?" tanya Papa sembari tersenyum tipis mengingat candaan putranya tadi malam.
"Enggak, Pa. Ini kuda kecil. Kuda apa itu ya namanya, mmm kuda poni. Jadi nggak terlalu susah mengendalikannya."
"Bukannya Rafael yang ditugaskan Maliek untuk membawanya?"
"Hehe dia lama, Pa. Yang ada Fatum keburu ngamuk," sahut Riky yang mulai menyeruput tehnya.
Salim menatap wajah Riky sambil tersenyum tipis. Ia tahu benar perangai putranya. Bukan karena takut Fatima mengamuk, melainkan karena rasa sayangnya pada putri Maliek itu yang membuat Riky selalu mencari cara agar bisa memenuhi setiap keinginannya.
"Riky pergi sekarang ya, Pa." Pamitnya.
"Iya, hati-hati." Riky beranjak sambil mengangguk pelan.
Salim menatap punggung putranya sesaat, kemudian kembali menyesap tehnya. Ingatannya kembali pada pertemuan keluarga tadi malam. Dalam pertemuan itu, mereka memutuskan pernikahan Aldo dan Salma akan dilaksanakan pada minggu pertama di bulan depan. Ada waktu tiga minggu dari sekarang sampai hari pernikahan.
***
Sementara itu di kediaman Meydina ....
"Pi! Mana kudaku? Kok belum datang? Aku kan mau ke rumah Opa. Papi!" pekik Fatima sambil merengek. Gadis kecil Maliek itu mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya dengan tidak sabar.
Di dalam kamar, Maliek baru saja terbangun oleh pekikan Fatima. Suami Meydina itu terduduk, berusaha untuk sadar sepenuhnya.
"Sialan Rafael! Nyusahin gue aja." Umpatnya pelan.
Maliek menoleh ke arah kamar mandi ketika terdengar suara pintunya yang dibuka Meydina. Melihat ekspresi kesal pada wajah maliek, Meydina hanya bisa mengulumkan senyuman.
"Pi!" Pekikan Fatima terdengar lagi, bersamaan dengan pintu yang diketuk cepat.
"Iya, Sayang. Sebentar!" Meydina berlalu menuju pintu kamar dan membukanya. Wajah cantik Fatima yang sedang cemberut terlihat menggemaskan.
"Kenapa, pagi-pagi kok cemberut?" tanya Meydina berpura-pura tidak tahu.
"Aku marah, Mi. Kesel! Katanya Uncle mau bawa kuda ke sini, tapi belum ada. Aku marah, Mi." Gerutunya, seakan menegaskan sambil berjalan mendekati tempat tidur.
__ADS_1
"Oh, oke," ucap Meydina setengah bergumam.
"Papi, telpon Uncle-nya ...."
"Ini masih pagi, Sayang," sahut Maliek sambil mengusap wajahnya. Pria itu berusaha untuk tersenyum pada putrinya.
"Ayo dong, Pi. Uncle bohongin aku," rengek Fatima yang mulai naik ke atas tempat tidur.
"Kok Papi nggak pakai baju? Emangnya nggak dingin?" tanya Fatima sembari menoleh sebentar pada AC di kamar itu.
"Papi kuat, Fatum. Jadi nggak kedinginan. Iya kan, Mi?" Kilahnya. Meydina yang sudah menyodorkan kaos oblong milik Maliek hanya mengangguk pelan.
"Hmm kalau aku aja, pasti dimarahin." Deliknya.
"Pi ... mana Uncle-nya?" Fatima kembali merengek. Putri Maliek dan Meydina itu seakan tak memberi kesempatan pada kedua orang tuanya untuk berkilah.
"Iya-iya, Papi telepon nih ya."
Maliek dengan enggan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia merasa ragu untuk menghubungi Rafael sepagi ini di akhir pekan.
"Fatum, gimana kalau sekarang kita sarapan, mandi, terus siap-siap ke rumah Opa. Hmm?" Meydina mencoba mengalihkan.
"Nggak mau. Aku mau naik kuda dulu. Aku sama kakak kan mau nginep, Mi. Jadi bisa nanti aja perginya," sahut Fatima dengan gaya khasnya yang agak bossy.
"Gimana, Pi?" tanya Meydina pada Maliek yang terdengar membuang napas kasar. Bisa dipastikan suaminya itu tidak mendapatkan kabar yang diinginkan.
"Uncle baru bangun, Sayang." Ujarnya pelan.
"Uncle bohong ...." Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Maliek beranjak dari tempatnya sembari mengacak kasar rambutnya sendiri. Sementara itu Meydina berusaha membujuk Fatima.
Sebuah notifikasi pesan diterima Maliek. Raut wajah pria itu awalnya terlihat malas membuka pesan tersebut, namun kemudian senyuman lebar terukir di wajahnya. Cepat-cepat ia mendekati Fatima sambil memperlihatkan foto yang baru saja dikirimkan Riky.
"Sayang, lihat deh. Uncle Riky sudah mendapat kudanya." Ujarnya riang.
"Really? Mau lihat, Pi!" Fatima mengambil ponsel Papinya.
Raut wajah Fatima seketika terlihat bahagia. Putri Maliek itu langsung berlari keluar dan menyeru kedua kakaknya sambil membawa ponsel Maliek.
"Hati-hati, Sayang!" pekik Maliek yang mengikuti dan menatap khawatir pada putrinya yang sedang menuruni tangga. Setelah melihat Fatima sampai di lantai bawah dan berlari ke kamar Zein dan Amar, ia pun kembali ke kamar.
"Pak Riky dapat darimana, Pi?" tanya Meydina yang kini sedang merapikan tempat tidur.
"Entahlah. Dia selalu punya jalan untuk mendapatkan sesuatu." Sahutnya sambil menjatuhkan tubuh di tempat tidur.
"Pak Riky akan ke sini?"
"Iya. Mau apa nanyain Riky?" tanya Maliek sambil menarik lengan Meydina agar berbaring di sampingnya.
"Ya mau berterima kasih dong, Pi." Ujarnya sambil menarik ujung hidung Maliek.
"Oh, kirain mau apa." Ucapnya datar. Maliek mengeratkan lingkaran tangannya di punggung Meydina.
"Ish, jangan bilang Papi mikir yang aneh-aneh," decih Meydina sambil menepuk pelan lengan suaminya.
__ADS_1
"Hehe, aneh tapi nyata. Aneh juga ya kalau sampai aku cemburu sama mereka atau salah satunya. Tapi kadang memang perasaan itu ada loh, Yang. Kadang aku nggak suka kalau kamu terlalu dekat sama Alvin, atau kamu selalu bercanda setiap kali bertemu Riky. Ya ... walaupun perasaan itu cuma sekilas. Tapi memang sempat ada," tutur Maliek apa adanya.
Meydina tersenyum tipis dan mengangkat wajahnya. Ia menatap gemas pada Maliek yang juga sedang menatap wajahnya.
"I love you," lirih Meydina sembari mengusap-usap bibir Maliek dengan ujung telunjuknya.
"I love you more than anything," ujar Maliek pelan dengan tatapan menggoda.
"Aah, Papi. Tadi kan udah."
Meydina yang menyadari arti tatapan suaminya berniat untuk beringsut dan turun dari tempat tidur. Namun sayang, Maliek sudah terlebih dulu mengeratkan pelukannya dan membuat Meydina mau tak mau menyerah juga.
"Nanti ada anak-anak, Pi," bisik Meydina sembari membalas tatapan Maliek.
"Nggak akan. Mereka pasti sedang menunggu Riky."
"Dengar tuh," ucap Meydina dengan ekspresi mendengarkan suara-suara di luar kamar mereka.
"Oh My God. Kenapa dia selalu datang mengganggu? Aah, gagal deh." Maliek mencium sekilas bibir Meydina.
Benar saja, Fatima membuka pintu dan masuk ke kamar dengan seenaknya. Tak hanya Fatima, kedua kakakknya pun mengikuti di belakangnya.
"Pi, Amar juga mau kuda."
"Kakak juga, Pi," ujar Zein tak mau kalah. Ketiganya pun berjalan mendekati tempat tidur.
"Hmm gara-gara kuda, gagal deh kuda-kudaan." Gumamnya sambil tersenyum kecut. Meydina mendelik dengan senyuman yang terkulum.
"Pi, bilang sama Uncle, Kakak mau satu yang warna hitam juga," pinta Zein.
"Amar yang putih, Pi. Ya, please."
"Oke-oke. Sini, ponsel papi mana? Kita bilang sama Uncle sebelum kudanya di bawa ke sini."
Fatima memberikan ponsel yang dipegangnya pada Maliek. Meydina sampai terkekeh melihat ekspresi ketiga anaknya yang menunggu penuh harap.
Ketiganya bersorak saat mendengar titah Papi mereka pada Riky yang meminya memilihkan kuda yang bagus untuk mereka. Tidak hanya itu, Maliek bahkan meminta Riky mendatangkan pekerja untuk membuat kandang di salah satu sisi di tanah milik Tuan Salman tersebut.
"Yee! Thank you, Papi! Thank you, Uncle! Muach, muach." Fatima tidak hanya bersorak, bahkan ia mencium ponsel Maliek sebagai tanda terima kasih pada Riky.
"Terima kasih, Uncle," ujar kedua putra Maliek bersamaan.
"Yuk, Kak! Kita ke bawah. Asik! Jadi bisa balapan deh."
Maliek menatap nanar langkah anak-anaknya.
"Jadi bau kuda deh rumah kita." Gumamnya tersenyum kecut. Meydina terkekeh melihat raut wajah Maliek.
"Kita tempatkan di salah satu ujung aja, Pi." Hiburnya.
"Tetap aja bau, Sayang. Angin kan bisa berhembus dari sana sampai ke sini." Ujarnya lemas dan kembali berbaring.
"Nanti kita pikirkan cara agar baunya tidak sampai sini. Oke?" Meydina mengecup pipi Maliek, kemudian berlalu dari kamarnya.
__ADS_1