My Love My Bride

My Love My Bride
rencana Alvin - part 1


__ADS_3

Happy reading ....


Pekikan Fatima yang kegirangan terdengar hingga ke dalam rumah. Maliek yang baru saja menuruni tangga tersenyum tipis mendengar celotehan nyaring putrinya.


"Pak Riky sepertinya sudah datang," ujar Meydina yang menghampiri tangga sambil membawa secangkir kopi untuk suaminya.


"Iya. Mami mau naik kuda juga?"


"Nggak lah. Pi, Mami mau ke butik Amie ya. Mau pesan gaun," ujar Meydina sambil menyodorkan cangkir yang dibawanya pada Maliek.


"Oke. Pergi jam berapa?"


"Mami dijemput Kak Laura. Nanti jam sepuluh," sahut Meydina.


"Ooh." Maliek terduduk di kursi teras untuk menikmati kopinya. Sementara Meydina berjalan menghampiri Riky yang berada diantara ketiga anaknya.


"Sudah bilang terima kasih belum sama Uncle?" Tanyanya.


"Sudah, Mi," sahut mereka hampir bersamaan.


"Terima kasih, Pak Riky," ujar Meydina.


"Sama-sama, Mey." Sahutnya.


"Mami! Kakak Queen sebentar lagi mau ke sini," seru Fatima sebelum kemudian memekik sambil tertawa. Meydina dan Riky terkekeh melihat Fatima yang kegirangan namun juga ketakutan.


Meydina menatap ketiga anaknya yang terlihat sangat senang menunggangi kuda berukuran lebih kecil dari kuda pada umumnya tersebut. Masing-masing mereka ada yang mendampingi. Sehingga tak perlu khawatir terjadi apa-apa.


Berada tak jauh dari mereka, sebuah truk masih terparkir. Kening Meydina berkerut saat mendengar suara kuda dari dalamnya.


"Masih ada, Pak Riky?" tanya Meydina sambil menunjuk ke arah truk itu.


"Ada, satu lagi. Untuk Queena," sahut Riky.


"OMG, Mey kok bisa lupa. Untung Pak Riky ingat. Sekali lagi terima kasih ya."


"Sama-sama, Mey. Aku tadi sebelum kesini telpon Rendy dulu, nanya Arka mau kuda warna apa? Tapi katanya nggak usah masih terlalu kecil. Bisa pinjam punya kakak-kakaknya," tutur Riky.


"Oh gitu. Kalau truk yang di sana, para pekerja yang mau buat kandangnya ya?" Meydina menunjuk sebuah truk yang berada jauh di salah satu sisi tanah milik ayahnya.


"Iya. Nggak cuma kandang, Mey. Tapi juga rumah sederhana untuk para pekerja yang nantinya akan mengurus kuda-kuda itu." Meydina mengangguk-angguk pelan.


"Pak Riky, ngopi yuk sama Papinya Zein!" Ajaknya.


"Ayo. Kebetulan aku belum ngopi." Mereka pun menghampiri Maliek yang sedang berbalas pesan dengan seseorang.


"Rik, thanks ya." Ujarnya menyempatkan menoleh pada Riky.

__ADS_1


"Sama-sama. Gimana rencana si Alvin. Jadi nggak?"


"Nggak tahu juga tuh. Jadi deh kayanya," sahut Maliek.


"Kak Alvin merencanakan apa?" tanya Meydina heran sambil menggeser kue yang dihidangkan pelayannya. Ia juga meminta pelayan membuatkan kopi untuk Riky.


"Ada deh. Rahasia," sahut Riky.


"Ish, main rahasia-rahasiaan segala. Apa sih, Pi? Mami kepo nih." Meydina semakin penasaran melihat reaksi suaminya yang hanya memberinya seringaian.


Beberapa saat kemudian, Alvin dan keluarga kecilnya pun datang. Bisa dipastikan Queena sudah tak sabar ingin segera menunggangi kudanya.


Queena menarik lengan Daddy-nya menuju kuda yang sudah diturunkan dari truk. Sementara Laura terlihat bergidik sambil berjalan menghampiri Meydina yang sudah berdiri untuk menyambutnya.


Setelah Queena berlalu dengan kuda dan pendampingnya, Alvin menuju teras. Ia tersenyum lebar melihat Laura yang mendelik karena tak suka Queena didampingi orang lain dan bukan dirinya.


"Queen nggak akan kenapa-napa. Fatum aja senang. Lihat tuh, mereka malahan ketawa-ketawa," ujar Alvin mencoba menjelaskan.


"Untung kudanya kecil. Kalau besar, nggak deh." Gerutunya.


Alvin tersenyum, lalu menoleh pada Maliek.


"Liek, lagi ngapain Lo? Eh, by the way mau dimana? Tempat biasa atau di tempat lain?" tanya Alvin.


"Gue sih terserah. Cuma ngikut aja. Lo, gimana Rik?" Maliek menoleh pada Riky.


"Enakkan di tempat Rafael. Suasananya lebih private," sahut Riky.


"Udah dong. Dia sih oke-oke aja. Justru paling semangat," sahut Riky.


"Awas gilanya kambuh," canda Alvin.


Mereka tidak menyadari sedari tadi kedua wanita yang ada di sana mendengarkan dengan tanda tanya besar di benak mereka.


Laura beranjak hendak membuat minuman. Meydina menyusul di belakangnya.


"Kak, Kakak ngerti nggak sih, mereka lagi ngomongin apa?"


"Idih, kakak juga tadinya mau nanya kamu, Mey."


"Kak Alvin ngerencanain apa sih?" Meydina terlihat bingung.


"Nggak tahu. Dari tadi pagi telponin Sami, Mike, dan yang lainnya. Nggak tahu mau ngapain."


"Kalau mau rapat perusahaan di sini, kayaknya nggak mungkin deh. Kok Papinya Zein sama Pak Riky juga ikut-ikutan?" Meydina semakin bingung.


"Udahlah, biarin aja. Sekarang kita mulai fokus sama acara pernikahan. Nanti Tante Resty sama Tante Widi datang kan ke butik?"

__ADS_1


"Iya. Katanya sih mau."


"Oke deh kalau begitu. Setelah anak-anak sarapan, kita ke butik."


"Siap, Kak. Mey mandi dulu ya, hehe."


"Dasar kamu, Mey. Ya udah sana, biar kakak yang nyiapin sarapan anak-anak," ujar Laura sambil mengulumkan senyuman.


"Terima kasih, Kak." Meydina terlihat riang berlalu meninggalkan Laura di ruang makan.


Tidak hanya menanggung biaya pernikahan, Meydina juga memutuskan, ia dan keluarga besarnya akan mendampingi Aldo. Walaupun Aldo tidak meminta hal tersebut saat mengutarakan niatnya di ruang kerja Tuan Salman.


Hari ini, mereka berencana menyusun semuanya di butik Amiera. Mulai dari persiapan, sampai acara di hari-H. Beruntung keluarganya selalu kompak. Setelah Tuan Salman tiada, Resty dan Bramasta yang dituakan. Mereka selalu dimintai pendapatnya oleh Meydina dan Amiera.


***


Menjelang sore, kediaman Evan kedatangan Baby Mima untuk pertama kalinya. Evan yang sedari tadi sudah menunggu di teras, langsung berdiri saat melihat mobil Riky memasuki halaman rumah.


"Pa."


"Hai, cucu Opa yang cantik. Sini, Opa mau gendong. Bisa nggak ya?" Evan langsung menyambut cucunya dengan dengan kedua tangan yang terbuka. Alena tersenyum lebar melihat raut wajah papanya yang bahagia.


"Kamu lama kan di sini?" tanya Evan pada Alena.


"Lama, Pa. Sampai acara Tante Salma selesai." Sahutnya.


"Maksud papa, nginep di sini."


"Ooh. Lama nggak, Kak?" tanya Alena sambil menoleh pada Riky. Hal itu dilakukan hanya untuk menggoda papanya.


"Boleh, Sayang. Selama yang kamu mau," sahut Riky yang sedang mengeluarkan beberapa tas yang dibawanya.


Evan yang sedang menggendong cucunya pun tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Mereka pun masuj ke dalam rumah. Rumah yang sudah lama dirindukan Alena.


"Kok nggak bareng sama Laura? Bukannya kalian dari butik?" tanya Evan dengan raut wajah heran.


"Kak Laura ke rumah Kak Mey dulu. Queena kan ada di sana. Sekalian mau bawa anak-anak Kak Mey, kan mau menginap di sini."


"Oh iya ya. Opa lupa. Pantesan Auntie tadi minta kamar tamu juga diberesin. Senengnga, rumah ini bakalan rame," ucap Evan berlagak mengajak bicara pada Baby Mima.


"Pernikahan Pak Aldo mau digelar dimana, Len?"


"Di ballroom hotel Al-Azmi, Pa. Kalau nggak salah, papa deh yang jadi kontraktor hotel itu."


"Yang di Jalan RX?" tanya Evan pada Riky yang menghampirinya.


"Iya, Pa," sahut Riky mengangguki.

__ADS_1


Evan mengangguk kecil. Diantara sekian banyak hotel Al-Azmi, memang hotel itu yang mendapat julukan hotel bintang enam pertama di negara ini.


"Sini, Sayang. Mimik susu dulu. Nanti kalau kakak-kakak itu udah pada datang, hmm jangan harap kamu bakal tenang," seloroh Alena pada Zemima.


__ADS_2