My Love My Bride

My Love My Bride
mau adik ...


__ADS_3

Happy reading ....


Beruntung Evan menyadari kilatan emosi dari raut wajah menantunya. Pria itu mendahului langkah Riky yang menghampiri Alena dan teman-temannya.


"Sayang, sudah belum kangen-kangenannya?" tanya Evan ramah. Teman-teman Alena membalas senyumannya.


Agam menoleh dan beringsut mengetahui kehadiran Riky dan juga ayah Alena. Namun ia menyempatkan untuk menyapa, "Siang, Om."


Evan tersenyum dan mengangguk pelan. Dengan berat hati, Agam pun berpamitan. Alena memperlihatkan wajah berserinya yang mau tak mau memaksa Riky tersenyum juga.


"Nih, buat kamu aja." Alena memberikan bunga pemberian Agam pada salah satu temannya. Sementara itu, ia menerima buket indah dari suaminya.


"Kak Riky kapan belinya?" tanya Alena heran sambil tersenyum bahagia.


"Rahasia," bisik Riky dan membuat Alena tersipu.


"Kak Riky, boleh minta foto nggak?" tanya Nindy dan diangguki teman-temannya. Alena menoleh pada Riky dengan tatapan memohon. Riky pun mengangguk.


"Sini, Om yang fotokan," tawar Evan.


"Om nggak ikut difoto?"


"Enggak dong, nanti merusak pemandangan. Ayo, mau pakai ponsel siapa?"


"Punya Nindy, Om. Nanti bisa dishare di grup."


"Sip deh. Posenya yang oke ya."


Dengan sabar Evan menuruti beberapa permintaan teman-teman Alena. Begitu juga dengan Riky yang merasa canggung dengan beberapa pose yng diminta mereka. Sebaliknya, Alena sangat menikmati dan terlihat bahagia.


Dari kejauhan, Alvin melambaikan tangan. Alena pun akhirnya berpamitan pada teman-temannya. Mereka berpisah dengan saling mendoakan.


Di depan gedung, mobil yang dikendarai papa Salim juga sudah ada. Dari dalam mobil, mama dan Ajeng sudah menyapa. Di mobil lain, ada Laura dan Queena.


Tiga mobil itu satu persatu meninggalkan area gedung. Mereka menuju studio foto dari seorang fotografer ternama.


Setibanya di sana, mereka di sambut langsung pemiliknya. Setelah basa-basi sebentar, mereka pun mulai diarahkan untuk bergaya.


Kilatan blitz kamera beberapa kali terarah pada pose yang berbeda. Setelah selesai, mereka pun meneruskan kebersamaan dengan makan siang bersama.


"Selamat ya, Sayang. Satu tanggung jawab kamu sudah selesai. Papa yakin kamu bisa melewati setiap fase dalam kehidupan kamu. Menjadi istri, ibu, dan pribadi yang lebih baik lagi. Papa bangga sama kamu," ujar Evan sambil mengecup punggung tangan Alena yang terduduk di sampingnya.


"Pa, Alena pasti bakalan kangen banget sama papa. Janji ya harus sering datang," sahut Alena yang memeluk papanya.


"Iya, Sayang. Papa akan usahakan. Sama Queen juga, iya kan? Queen udah minta loh, katanya 'Opa, kalau udah ada Baby-nya Auntie, Queen mau sering main ke rumah Oma Widi'."


"Hmm. Kalau bisa, pengen deh nyulik Queena. Gemes, Oma," ujar Widiya yang diangguki oleh Queena.


"Boleh, Oma. Tapi, Queen kan sekolah. Kalau Queen tinggal sama Oma, nanti nggak bisa ketemu Fatum dan yang lainnya. Yaaa, nggak jadi deh." Queena terlihat lesu.


"Kalau kamu sama Oma, terus Mommy sama siapa?" tanya Laura.


"Punya adik lagi aja. Ya kan Queen? Biar nanti adik bayinya ada dua," sahut Alena cepat.


"He-em. Mommy, mau adik. Kakak Zein punya, Queen udah besar kok belum punya? Mau, Mom." Rengeknya.

__ADS_1


"Memangnya adik bayi seperti roti, bisa dibuat," sahut Laura pelan.


"Bisa," sahut Alvin dengan tatapan menggoda membuat Laura mendelik manja.


"Udah tumpul kali, Vin. Buat terus tapi nggak jadi-jadi," kelakar Riky.


"Enak aja. Masih tajam, Bro. Lihat aja nanti," timpal Alvin.


"Oh ya? Gimana kalau kita berlomba-lomba nyetak anak? Siapa yang bisa melebihi Maliek, dia pemenangnya," tantang Riky.


"Boleh," sambut Alvin tak mau kalah.


"Setuju. Papa setuju, Papa dukung kamu, Rik. Pak Evan dukung Alvin juga ya," imbuh Papa Salim dan dijawab senyuman tipis oleh besannya itu.


"Apaan, lomba kok begitu? Kalian aja yang hamilnya, mau?" ujar Alena ketus.


"Enggak. Kamu dong Sayang, masa aku."


"Enggak mau." Riky pun hanya bisa tersenyum masam


"Mommy setuju kan?" tanya Alvin pada Laura.


"No. Big No," tegas Laura.


"Yaaa, gagal punya adik dong kamu, Queen," gumam Alvin. Evan sampai menggelengkan kepala berkali-kali melihat tingkah anak dan menantunya itu.


***


"Mami! Kita mau kemana? Kok Amar disuruh mandi? " tanya Amar yang menolak saat diminta mandi sore oleh seorang pelayan atas permintaan Maminya.


"Ke rumah Uncle Riky," sahut Meydina.


"Mau ngapain, Mi? Males ah, pasti ketemu Auntie Lena." Zein yang duduk di sofa lucu milik Fatima pun bertanya dengan tatapan tetap fokus pada game di ponselnya.


"Ya ketemu dong, Kak. Itu kan rumah Auntie Lena juga," sahut Fatima yang sedang didandani oleh Maminya.


"Kenapa nggak mau ketemu sama Auntie?" tanya Meydina.


"Auntie suka cium-cium Kakak. Sekarang kakak udah gede, Mi."


"Auntie itu gemes banget sama kamu, Kak. Lagian keluarga Oma Widi itu mau pindah, masa nggak mau ketemu dulu?"


"Pindah ke mana, Mi?" tanya Fatima.


"Ke kota tempat kerjanya Uncle Riky."


"Oh. Kita pindah juga yuk, Mi," ajak Zein.


"Loh? Katanya nggak mau ketemu Auntie Lena, tapi kok mau ikut pindah?"


"Mau aja. Memangnya nggak boleh?" Ujarnya santai.


Meydina mengulumkan senyum, sedangkan Fatima menatap heran pada sang kakak.


"Amar. Mandi, Nak. Kakak sama Fatima udah, tinggal kamu."

__ADS_1


"Sebentar lagi, Mi. Tiduran di sini enak. Fatum, ini siapa sih namanya? Kakak lupa lagi." Amar memainkan boneka kucing sambil berguling pelan.


"Ah, kakak pelupa," delik Fatima.


"Amar udah tua, haha," ujar Zein asal dengan tatapan tetap tertuju pada ponselnya


"Kakak yang udah tua." Amar melemparkan boneka itu pada Zein. Tanpa di duga, boneka itu mengenai ponsel Zein yang langsung terjatuh ke lantai.


"Ups, sorry."


"Amar! Kakak jadi kalah. Mami, Amar-nya ...." rengek Zein.


"Hihi, kabur ah," gumam Amar yang mulai mengendap turun dari tempat tidur.


Amar berlari ke kamar mandi yang berada di kamar itu.


"Awas ya, Amar! Kakak udah susah-susah main, gara-gara Amar jadi kalah," geram Zein.


"Mami, Amar mandi ya!" seru Amar dari dalam kamar mandi.


"Kok mandi di sini sih? Di kamar kakak dong."


"Nggak mau ah. Mi, tolong ambilkan handuknya ya."


"Iya," sahut Meydina yang sudah selesai menata rambut Fatima.


"Mi, Kakak matiin lampu! Gelap!" Pekiknya.


"Kak, jangan dong."


"Amar bohong. Ini kan masih sore, di atas juga kan ada ventilasi," kilah Zein.


"Mi!" Tak lama Amar membuka pintu dan menyembul dari dalam.


"Idih, nggak malu."


"Kakak nyalain!"


"Nggak mau. Nyalain aja sendiri," sahut Zein sambil berlalu kembali ke sofa.


"Aah, Mami!"


"Iya, iya." Meydina mendekati sambil membawakan handuk bersih yang masih terlipat.


"Wlee." Amar segera masuk ke kamar mandi dan meneruskan mandinya. Sementara itu Zein kembali bermain ponsel.


"Kak, temani Papi di depan. Sambil nunggu Oma sama Opa. Jangan main ponsel terus," tegur Meydina.


"Yuk, Kak," ajak Fatima.


"Oke deh." Sahutnya malas. Zein mengikuti langkah Fatima, namun sebelum keluar dari kamar, ia kembali mematikan lampu kamar mandi.


"Mi!" pekik Amar.


"Kabuur!" seru Zein. Berlari ke luar kamar diikuti oleh Fatima.

__ADS_1


Meydina hanya bisa mengulumkan senyum sambil menghela nafas pelan.


__ADS_2