My Love My Bride

My Love My Bride
extra-part (pernikahan Andri-Ajeng), bagian 2


__ADS_3

Happy reading ....


Gelak tawa terdengar di halaman depan. Mempelai pria dikelilingi rekan-rekannya. Pernikahan Andri dan Ajeng yang mengusung tema garden party membuat kedua mempelai dan para tamu lebih leluasa menikmati pesta. Meski jauh dari kesan mewah, tak mengurangi keintiman orang-orang yang hadir di sana.


Anak-anak dengan leluasa bermain sambil sesekali berlarian saling menggoda. Para wanita berkumpul sambil menceritakan banyak hal sembari diselingi kekehan manja.


Dari salah satu sisi, Ajeng memperhatikan semuanya. Ia sangat bersyukur dengan semua yang kini dimilikinya.


"Ehhem. Manten jangan melamun, malam pertama masih lama." Ajeng menoleh ke arah suara. Kamil tersenyum tipis sembari menghampiri dengan dua mangkuk zuppa soup di tangannya.


Kamil memberikan satu mangkuk kepada Ajeng. Ia pun mempersilahkan Ajeng duduk di kursi yang ditariknya.


"Apa kamu bahagia?" Tanyanya.


"Tentu," sahut Ajeng sambil menyuapkan supnya.


"Syukurlah. Kalian pasangan yang cocok, semoga samawa."


"Aamiin. Terima kasih, Kak. Semoga kakak secepatnya menyusul," ujar Ajeng.


"Kamu itu kakak iparku, Jeng. Jangan memanggilku kakak. Tuh kan aku juga salah nyebut. Mbak Ajeng ...." Selorohnya.


"Kalau bukan kakak, apa dong? Nggak ah, begitu aja. Atau mau Ajeng panggil Abang? Abang tukang bakso," canda Ajeng yang ditanggapi senyuman lebar oleh Kamil.


Melihat Pras yang menghampiri mereka, Kamil segera beranjak dan mempersilakan Pras untuk duduk di kursinya. Ia pun berpamitan pada Ayah dan anak tersebut.


"Terima kasih supnya, Kak." Kamil hanya tersenyum sambil berlalu.

__ADS_1


"Papa mau, lumayan enak. Coba deh, Pa. Aaa ...." Ajeng tak menerima penolakan. Pras mau tak mau membuka mulutnya.


Satu persatu para tamu mulai berpamitan. Termasuk juga keluarga Salman dan Atmadja yang datang ke kota itu dengan pesawat yang sama.


Selalu ada drama di setiap kepulangab mereka dari rumah Salim. Jika dulu Fatima yang sulit di bujuk, kini giliran King yang menangis karena tak mau berpisah dengan Alena. Alhasil, mereka baru bisa pulang setelah King tertidur.


***


Bukan di rumah Salim, ataupun di rumah orang tua Andri. Pasangan pengantin baru-Andri dan Ajeng, menikmati malam pertama di apartemen baru mereka.


Hujan yang mengguyur langit kota D, turut menyaksikan pertemuan dua insan yang baru saja mengikat janji pernikahan. Pasangan pengantin baru itu menikmati peraduan dikeheningan malam yang syahdu.


Gaun pengantin itu telah ditanggalkan. Tergeletak di lantai begitu saja, ditinggalkan pemiliknya yang sedang berc*mbu dengan napas yang memburu.


Keduanya nampak terengah saat tautan bibir itu terlepas. Andri menatap wajah Ajeng yang merona dengan sorot mata dipenuhi gairah.


"Aakh ... pelan-pelan, Kak. Sakit," rintih Ajeng.


"Ma-maaf, Sayang." Andri yang merasa bersalah langsung diam mematung.


Ajeng manautkan keningnya, merasa heran dan jadi tak enak hati. Diusapnya rahang Andri sambil mengecup lembut bibirnya. Kedua kakinya ditautkan di bokong Andri, kemudian dieratkan untuk mendorong lebih dalam.


"Jangan dipaksakan, Sayang. Itu pasti sangat sakit," ujar Andri saat melihat Ajeng menggigit bibirnya sendiri seperti sedang manahan sakit.


"Terus, apa berhenti begitu saja? Ajeng kan mau, Kak." Ujarnya merengek manja.


"Yakin mau diteruskan?" tanya Andri yang langsung diangguki oleh Ajeng.

__ADS_1


Andri mengulumkan senyuman dan mulai meraup kembali bibir Ajeng. Saat keduanya mulai larut dalam pertukaran saliva, Andri tak tinggal diam dan mencoba menggerakkan pinggulnya.


Perlahan namun pasti, tempo permainan mulai naik. Andri tak bisa menahan diri untuk merasakan sensasi kenikmatan lebih dalam lagi.


"Masih sakit, Sayang?" tanya Andri lirih sembari menatap lembut manik istrinya yang tadi sempat berkaca-kaca, kini menatap penuh gairah di setiap hentakan yang dirasakannya.


"Sss aah, lebih cepat, Kak." Ajeng tak menghiraukan Andri. Ia ingin menikmati lebih dari yang terasa saat ini.


"Tentu, Sayang. Sesuai keinginanmu," sahut Andri yang meneruskan aksinya dengan menyusuri leher jenjang istrinya.


Aroma yang terhirup membuatnya semakin bersemangat sembari menambah tempo permainan.


Malam masih panjang. Kamar pengantin itu menjadi saksi setiap rint*han kenikmatan yang terlontar dari keduanya.


Kini Ajeng dan Andri telah terikat janji suci. Mereka akan memulai laju bahtera yang bernama rumah tangga di luasnya samudra kehidupan dunia.


***


Hari-hari berikutnya ....


Rintik air hujan mulai membasahi tanah yang masih merah dengan taburan bunga di atasnya. Setelah memastikan identitas korban yang ditemukan di hotel beberapa hari yang lalu, Pras meminta temannya mengurus segalanya sampai menguburkan jenazah.


Risa. Hanyalah wanita yang menjadi masa lalu Pras. Meski kehadirannya sempat menjadi duri dalam kehidupan rumah tangganya bersama Hesty, tetap saja ia ingin Risa mendapatkan tempat peristirahatan yang layak.


Semua demi Zee. Anak yang kini dalam asuhannya. Setidaknya, jika suatu hari nanti Zee bertanya dimana ibunya, Pras bisa membawanya ke tempat ini.


"Angkat tangannya, Zee! Kita mendoakan mama sebelum pulang," ujar Pras.

__ADS_1


Zee menurut. Pras yang menggendongnya sambil memegang payung melapalkan doa yang diaminkan Zee.


__ADS_2