
Happy reading ....
**Tatapan Riky tak teralihkan dari lenggok gemulai wanita yang tengah berjalan ke arahnya. Wanita bergaun seksi dengan belahan dada yang terbuka.
Wanita itu mendudukkan bokongnya di pangkuan Riky. Melingkarkan tangan sambil mengusap lembut rahangnya. Dengan senang hati ia membalas aksi Riky yang meraup bibirnya dengan lahap. Pagutan bibir mereka begitu kuat, seiring pelukan keduanya yang semakin erat.**
"Aaah, enggak! Nggak mungkin Kak Riky berbuat begitu," pekik Alena sambil menggelang-gelengkan kepalanya. Membayangkan Riky menyelingkuhinya membuat Alena merasa gelisah.
Tadi, untuk sesaat perasaan Alena teralihkan. Kehadiran Ajeng membawa keceriaan tersendiri di apartement-nya. Namun saat ia kembali ke kamar, kegundahannya datang lagi. Terlebih Riky tidak mengangkat panggilannya.
Tiba-tiba saja Alena merasa sedih. Air matanya menetes tanpa diminta. Sambil mengusap perutnya, Alena naik ke pembaringan. Meringkukkan tubuh lelahnya setelah seharian ini bekerja di kantor dan juga menyusun tugas akhirnya.
Di tempat lain, Riky yang merasa benar-benar lelah pun melakukan hal yang sama. Merebahkan tubuh lelahnya dan berusaha untuk terlelap sambil membayangkan wajah istri tercinta.
Riky bahkan tidak perduli dengan pakaiannya yang belum diganti. Ia hanya ingin cepat tidur agar esok saat bertemu Alena lelahnya sudah tak terlihat lagi.
Riky sengaja undur diri lebih awal dari acara itu karena ingin menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa. Sebelumnya, ia meminta Andri mengubah jadwal kepulangan mereka.
Diciuminya bantal yang berada disampingnya. Membayangkan wajah Alena membuatnya merasa gemas sendiri. Akhirnya, Riky pun tertidur sambil memeluk bantal dengan seulas senyum di wajahnya.
***
Mentari pagi ini terlihat cerah. Deru kendaraan yang terdengar pertanda hari di luar sana sudah dimulai.
Widiya dengan semangatnya menyiapkan sarapan di meja. Sesekali ia menoleh ke pintu kamar Alena. Ia pun kemudian melihat jam dinding yang ada di ruang makan.
"Sepertinya belum bangun," gumam Widiya.
Ceklek.
"Pagi, Tante."
"Selamat pagi, Jeng. Bagaimana tidurmu?"
"Nyenyak, Tante. Tidur dengan Tante, membuat Ajeng jadi rindu mama."
"Kamu tinggal bilang kalau mau ditemani Tante." Ujarnya sambil tersenyum tipis.
"Waah, nanti bisa-bisa Om Salim marah kalau Tante menemani Ajeng tidur." Sahutnya. Widiya terkekeh pelan dan berlalu hendak membangunkan Alena.
Dengan lembut Widiya mengusap pipi menantunya berkali-kali. Alena menggeliat dan tersenyum padanya. Bukannya terbangun, Alena justru meletakkan kepalanya di pangkuan Widiya.
__ADS_1
Entah mengapa, Widiya selalu suka dengan sikap manja Alena. Menemani Alena menjadi keseharian yang menyenangkan baginya. Seandainya bisa, ingin secepatnya ia pindah ke kota ini. Namun ia harus bersabar sampai pembangunan rumah mereka selesai.
"Bangun, Sayang. Ini sudah siang." Alena menjawabnya dengan anggukan malas.
"Kamu semalam tidur jam berapa?" selidik Widiya saat melihat kantung mata Alena.
"Nggak tahu, Ma. Lupa," sahut Alena manja.
"Kalau seperti ini terus, kamu berhenti saja dari magang itu. Kamu bisa menyusun tugas tanpa harus magang. Banyak kok mahasiswa yang melewatkannyanya. Bahkan tidak sedikit yang membayar orang untuk menyusun skripsinya."
"Aah, itu nggak jujur Ma. Kalau Alena seperti itu nanti papa kecewa." Sahutnya sambil bangun dari tidur dan terduduk di samping Mama Widiya.
"Tapi kamu terlalu lelah, Len. Mama nggak mau kalau kamu sampai sakit."
"Enggak kok, Ma. Sebentar lagi juga selesai," sahut Alena yang memasang wajah ceria.
"Oke, deh. Mama bisa apa? Yang penting anak mama ini sehat. Cucu mama juga sehat. Sekalipun kamu nggak lulus, mama nggak masalah. Asalkan kamu tidak terbebani dengan skripsi, sidang akhir, dan tek-tek bengek lainnya."
"Jangan begitu dong, Ma. Masa iya Alena nggak lulus."
Mama Widiya mengulumkan senyumnya melihat wajah cemberut Alena. Ia pun meminta Alena segera bersiap dan juga sarapan sebelum berangkat kerja.
Sementara itu, Ajeng sedang berbicara dengan Kamil.
"Dih, Kak Kamil kan harus kerja. Bisa-bisa nanti dimarahi lagi. Udah ya, Ajeng mau sarapan dulu. Malu ada Tante, bye."
Melihat Widiya keluar dari kamar Alena, Ajeng cepat-cepat mengakhiri panggilannya. Sambil menunggu Alena, Ajeng sudah mulai mencicipi dan tanpa terasa perutnya sudah kenyang.
"Kak, nanti makan siang bareng yuk." Ajaknya.
"Ayo. Mama juga ya."
"Boleh. Jadi gimana nih? Makan siang aja atau belanja juga?"
"Alena kan kerja, Ma. Mama sama Ajeng aja yang belanja, sekalian jalan-jalan. Selama di sini mama sama sekali nggak kemana-mana."
"Mama ke sini kan mau menemani kamu, Sayang."
"Ayo sarapan, Jeng."
"Sudah kenyang, Kak. Ajeng siap-siap dulu ya. Ada mobil Kak Riky kan? Ajeng yang akan antar kakak ke kantor." Ujarnya sambil beranjak.
__ADS_1
"Asik, terima kasih."
Ajeng berlalu ke dalam kamar yang ditempatinya bersama Tante Widiya. Sejujurnya, sejak menginjakkan kaki di kota ini, ingatannya tentang papanya pun hadir kembali.
Ingin rasanya Ajeng berbicara dengan sang papa. Namun entah mengapa, terasa berat untuk memulainya. Masih terasa tamparan j*lang itu di pipinya. Ajeng tidak yakin bisa memaafkan papanya begitu saja.
***
Siang ini matahari cukup terik. Ajeng memarkirkan mobil yang dikemudikannya di depan gedung Bramasta Corp. Ajeng dan Widiya keluar dari mobil dan hendak menunggu Alena di lobi.
Di sisi lain security yang berjaga di depan gedung memperhatikan dua wanita yang sedang melangkah mendekatinya.
"Ada keperluan apa, Non?" tanya security.
"Mau menunggu Kak Alena di dalam, Pak. Boleh? Di luar panas." Sahutnya.
"Alena? Alena siapa ya?"
"Alena menantu saya, istri Riky," sahut Widiya ketus. Pikirnya, memangnya ada berapa Alena di kantor ini, sampai-sampai security itu tidak mengenalnya.
"Oh, Non Alena. Silahkan masuk, sebentar lagi waktu istirahat. Silahkan menunggu di dalam." Ujarnya sambil membukakan pintu.
Ajeng dan tantenya merasa heran dengan sikap security itu. Namun mereka tak ingin ambil pusing dan menunggu Alena di dalam lobi.
Tak lama, beberapa karyawan terlihat berlalu lalang. Ajeng dan Widiya bersiap menunggu Alena datang. Beberapa karyawan terlihat berbisik. Beberapa lainnya menggangguk hormat pada orang yang baru datang.
"Tante, itu Kak Riky," tunjuk Ajeng.
"Riky?" Widiya langsung menoleh. Ia menatap tak percaya pada sosok yang berlalu menuju lift itu. Karena setahunya, Riky baru akan datang nanti sore.
"Rik! Riky!"
Seruan Widiya sontak membuat orang-orang menoleh padanya. Tak terkecuali Riky yang sangat mengenal suara mamanya.
"Mama?" gumam Riky.
Riky berbalik arah dan mendekati mamanya. Di belakang, Risa dan Andri mengikutinya.
"Mama di sini?"
"Iya. Mama sedang menunggu Alena," sahut Mama Widiya dengan raut wajah yang bahagia. Riky yang tak kalah senang memeluk mamanya. Sementara itu, Ajeng menatap lekat dua orang yang berada tak jauh dari kakak sepupunya tersebut.
__ADS_1
"Itu kan teman Kamil yang waktu itu menginap di rumah," batin Andri.
"Ajeng. Kenapa dia ada di sini? Ada hubungan apa dia dengan Pak Riky?" batin Risa dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.