My Love My Bride

My Love My Bride
melepas rindu


__ADS_3

Happy reading...


Langit kota D nampak muram dengan angin yang membawa awan kelabu melintas di atasnya. Hawa terasa panas, mungkin karena tingginya kelembapan udara.


Rasa gerah membuat siapa saja merasa kurang nyaman dan ingin keluar tuk sekedar merasakan angin segar. Namun nampaknya itu tidak berlaku bagi dua insan yang tengah melepas rindu.


Butiran keringat yang menetes dari kening juga nafas yang terengah seolah pertanda betapa si empunya merasa lelah. Namun bukannya berhenti, ia justru memacu dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tentunya dengan diiringi rintihan kenikmatan yang terlontar dari bibir sang istri.


"Lagi sayang?" tanya Riky dengan nafas terengah. Ditatapnya wajah Alena yang memperlihatkan rasa lelah. Setelah pelepasan yang kesekian kalinya, Riky masih bertahan sampai istrinya benar-benar terpuaskan.


"Katanya Kak Riky mau ke kantor?"


"Lagi atau udah?" Tanyanya sambil terus menggerakkan pinggulnya perlahan.


"Udah," sahut Alena sambil tersipu.


"Yakin mau dikeluarkan sekarang? Aku pulang malam lho." Ujarnya dengan nada menggoda. Alena mengangguk pelan dengan wajahnya yang merona.


Satu hentakan keras membuat kedua manik Alena membulat sempurna. Riky menyeringai dengan tatapan matanya yang nakal.


Sambil menggenggam kedua tangan Alena, Riky mempercepat tempo permainannya. Ia merasa puas melihat Alena yang juga mendapatkan pelepasannya lagi bersamaan dengan dirinya.


"Terima kasih sudah datang ke sini, Sayang." Bisiknya sambil mengecup telinga dan berlanjut ke bagian wajah Alena.


Alena seolah kehabisan tenaga. Ia tak sanggup menjawab kecuali seulas senyum kekalahan dari pergulatan yang baru saja mereka lakukan.


"Mandi sekarang?" tanya Riky mengecup gemas bibir istrinya yang terlihat mulai membengkak karena ulahnya.


"Kak Riky saja dulu, kan mau ke kantor lagi."


"Akan kuusahakan pulang cepat." Ujarnya dan diangguki oleh Alena.


Riky beranjak dari posisinya. Sebelum menuju kamar mandi, pria itu menyelimuti tubuh istrinya. Alena terkekeh pelan melihat gaya berjalan Riky yang dibuat-buat seolah sedang menggodanya.


"Udah, cepetan sana! Nanti burungnya terbang baru tahu rasa," delik Alena gemas.


Riky terkekeh menertawakan tingkahnya sendiri. Hilang sudah penat yang dirasanya selama sepekan ini. Kehadiran Alena membuat mood-nya membaik. Aah, seandainya saja istrinya itu ada setiap hari...


***


"Selamat sore, Pak." Risa menyapa atasannya yang baru saja tiba setelah hampir dua jam meninggalkan ruangan.


"Sore. Risa, tolong panggilkan Pak Andri," pinta Riky.

__ADS_1


"Baik, Pak."


Sambil melangkah menuju ruangan asisten CEO, diam-diam Risa memperhatikan penampilan Riky. Selain rambut basahnya, pria itu mengenakan pakaian yang berbeda dari yang dikenakannya tadi. Tanpa sadar lengan Risa mengepal menyadari apa yang baru saja terjadi.


"Ternyata memang benar wanita tadi istrinya Pak Riky. Heh, ternyata semua pria sama saja. Suka pada daun muda. Dia belum tahu bahwa yang berpengalaman jauh lebih bisa memuaskan." Batinnya.


"Hei, Risa. Kamu sedang apa di sini?" tanya Andri sambil menjentikkan dua jarinya di depan wajah Risa.


"Eh, Pak Andri. Maaf, Pak. Bapak dipanggil oleh Pak Riky," ujar Risa tergagap.


"Pak Bos ada di ruangannya?"


"Iya, Pak." Sahutnya.


"Syukurlah dia kembali. Jika tidak, bisa stress aku memikirkan penyelesaiannya. Risa, tolong bawakan berkas yang ada di atas mejaku," pinta Andri sambil berlalu ke ruangan atasannya. Risa mengangguk lalu meneruskan langkahnya ke ruangan Andri.


Dengan senyum tipis yang tak lepas dari wajahnya, Riky dengan cekatan menggerakkan pena di setiap lembar berkas yang dipegangnya. Ia seolah tidak perduli akan tatapan heran dari dua orang yang berdiri di depan meja kerjanya.


"Risa, tolong buatkan salinan kerjasama kita dengan perusahaan XN. Dan Andri, satu jam lagi kita akan rapat dengan staf inti yang menangani proyek hotel S Tower. Jadi minta mereka siapkan laporannya," titah Riky.


"Baik, Pak," sahut keduanya hampir bersamaan.


Setelah kedua orang bawahannya itu berlalu, sejenak Riky menghentikan pekerjaannya. Dirogohnya ponsel dalam saku dan menelepon istrinya.


"Ada yang tertinggal, Kak?" tanya Alena heran karena Riky yang baru pergi sudah menghubunginya lagi.


"Apa? Biar nanti Alena yang antarkan ke kantor."


"Hatiku." Sahutnya sambil tersipu.


"Ish, Kak Riky. Alena serius."


"Aku serius, Sayang. Aku ingin segera pulang mengambil yang tertinggal." Ujarnya lembut.


"Katanya mau lembur, gimana sih? Lembur nggak? Kalau enggak, Alena mau belanja untuk nanti makan malam."


"Mmm, lembur jangan ya?"


"Terserah. Alena juga di sini lama kok, satu minggu."


"Beneran, Yang? Asiik, bisa tempur tiap hari dong." Ujarnya dengan raut wajah yang bahagia.


"Iya deh, tiap hari. Gempur terus sampai gempor. Malam ini lembur nggak?"

__ADS_1


"Lembur aja deh. Biar cepat selesai kerjaanku. Nanti kupesankan makan malam ya, kamu nggak usah masak."


"Oke. Thanks, Hubby."


"I love you, Wifey."


"I love you too. Muach, muach!"


Lagi-lagi senyum bahagia itu terpancar dari wajah Riky. Terlepas dari banyaknya pekerjaan yang menanti, yang terpenting ada istrinya yang juga menantinya pulang malam ini.


***


Suasana sore di kediaman Salim terasa sangat hening. Pasangan paruh baya itu pergi ke luar entah ke mana. Meninggalkan Ajeng yang kini terduduk di kursi teras belakang sambil membawa buku bacaan.


"Mau saya buatkan sesuatu, Non?" tawar seorang pelayan pada Ajeng.


"Kalau sore begini biasanya Alena minta dibuatkan apa?" tanya Ajeng ketus.


"Non Alena jarang minta dibuatkan apa-apa, Non. Asalkan ada susu dan buah di lemari pendingin," sahut pelayan itu.


"Kalau begitu ambilkan susu dan buah untukku." Pintanya.


"Baik, Non."


Ajeng menoleh pada Paijo yang sedari tadi bergerak kesana kemari seperti gelisah. Ia beranjak dan mendekati sangkar Paijo.


Ajeng merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus sigaret juga pematiknya. Ia mengeluarkan satu batang sigaret dan menyalakannya.


Gadis itu menyesap dalam dan mengepulkan asap sigaretnya pada burung itu. Sambil menyeringai Ajeng mengulanginya berkali-kali.


"Ini hukuman karena kamu tidak mau bicara padaku. Dasar besar kepala, burung bodoh. Tidak ada bedanya dengan wanita manja itu." Ujarnya pelan namun penuh penekanan.


"Non, ini susu dan buahnya."


Ajeng cukup terhenyak dengan kehadiran pelayan itu di belakangnya. Ia mendelik tajam pada wanita paruh baya yang menatap sesaat padanya.


"Maaf, Non. Mbok mau memberitahu, Paijo tidak suka dengan asap. Bapak juga suka menegur Den Riky kalau merokok di teras ini." Ucapnya ragu.


"Memangnya siapa Paijo itu, dia kan cuma burung. Apa perduliku dia suka atau tidak." Decihnya sambil menjatuhkan sisa sigaret yang tadi dihisapnya.


"Kata bapak, asap bisa membuat Paijo menjadi stress."


"Heh, manjanya. Benar-benar sama dengan Alena," decih Ajeng pelan.

__ADS_1


Ajeng melirik tajam pada pelayan yang berdiri sambil tertunduk itu.


"Awas kalau berani mengadu pada Om Salim atau Tante Widiya." Ancamnya.


__ADS_2