My Love My Bride

My Love My Bride
ikut...


__ADS_3

Happy reading...


Angin sore yang terasa sejuk, sedikit banyaknya mendinginkan perasaan Riky. Saat ini pria itu berboncengan dengan istrinya menuju rumah orang tuanya.


Sesekali ia mengusap punggung tangan Alena yang melingkar di pinggangnya. Seulas senyum tersungging saat menyadari tatapan pengendara lain karena Alena yang memeluknya sangat erat.


Sesampainya di halaman rumah, pasangan itu mancari-cari orang tua mereka. Mendengar suara Paijo yang berceloteh, dapat di pastikan orang tua mereka ada di teras belakang.


"Rik, kapan datang?" Mama Widiya nampak senang melihat putranya datang. Namun raut wajahnya terlihat heran saat melihat ada sedikit memar di wajah Riky.


"Kamu kenapa, jatuh?" tanya Widiya khawatir sambil menoleh pada Alena yang menarik kursi di samping Salim.


Salim yang sedang menyeruput tehnya melirik dan mengerutkan kening. Ia dan Widiya saling menatap sesaat.


"Bukan apa-apa, Ma." Sahutnya.


"Kamu berkelahi dengan siapa?" tanya Salim santai.


"Kamu berkelahi, Rik? Di mana? Dengan siapa?" Mama Widiya mencecar putranya dengan pertanyaan sambil memeriksa wajah Riky.


"Dengan teman kampus Kak Alena, Tante." Ajeng yang baru sampai diantar ojek online menjawabnya.


"Kamu tahu, Jeng? Di mana, sama siapa?" tanya Widiya heran. Wanita paruh baya itu juga menoleh pada menantunya.


"Sama Agam, di restoran Kak Laura," sahut Ajeng.


"Kok Bisa?" tanya Salim mengerutkan dahinya.


"Dia orang gila, Pah," sahut Riky asal.


"Teman kamu ada yang gila, Len?" Mama Widiya heran. Ia tak habis pikir dengan jawaban putranya.


"Dia tergila-gila sama Alena, Ma," sahut Riky.


Salim dan Widiya membulatkan bibir mereka tanpa suara. Kini mereka mengerti alasan dibalik memar di wajah Riky.


"Kamu kok pulang?"


"Memangnya tidak boleh? Riky pulang mau menjemput istri Riky kok."


"Kamu nggak kangen sama mama, hmm?"


"Kalau kangen sama mama, bisa-bisa ada yang cemburu," delik Riky pada papanya.

__ADS_1


"Memangnya kamu," sahut Salim.


Riky menyeringai menanggapi ucapan papanya. Pasangan muda itupun berpamitan ke kamar mereka. Salim dan Widiya yang merasa penasaran pun meminta Ajeng menceritakan semua yang terjadi. Raut wajah geram nampak dari keduanya saat mendengar sikap lancang pria bernama Agam itu.


***


Hawa dingin di kamar berpendingin udara itu, nyatanya berbanding terbalik dengan aktivitas pemiliknya. Pergumulan panas sedang terjadi di atas sofa di dalam kamar tersebut.


Jika tadi siang emosi Riky menggebu saat menghajar lawannya, kini giliran hasratnya yang menggebu dalam permainannya dengan Alena. Pria itu bahkan menebar tanda kepemilikan di setiap bagian tubuh istrinya. Seolah ingin mengungkapkan bahwa wanita yang sedang mend*sah dalam kungkungannya itu hanyalah miliknya seorang.


Satu lenguhan yang keluar bersamaan menjadi akhir permainan. Bersamaan dengan itu, ponsel Riky berbunyi.


Masih dengan posisi tubuhnya di atas Alena, Riky mencoba meraih ponselnya. Sesaat kemudian ia berbicara dengan Alvin yang meneleponnya.


"Ada apa, Kak?"


"Alvin memintaku datang ke club. Maliek dan Rafael juga akan ke sana." Sahutnya sambil mengecup kening dan bibir Alena.


"Ikut..." rengek Alena.


"Aku akan ke club, Sayang. Bukan ke mall," sahut Riky yang akan beranjak dari posisinya namun tertahan oleh lingkaran kaki Alena di pinggangnya.


"Pokoknya ikut. Kalau tidak boleh, Kak Riky jangan ke sana." Ujarnya dengan wajah yang ditekuk.


Riky tersenyum miring menatap gemas wanitanya. Sambil menggerakkan pinggulnya perlahan, ia pun berucap, "Kalau aku di sini, berarti kita main lagi."


"Oke, kamu boleh ikut. Tapi jangan coba-coba minuman beralkohol di sana, hmm?" ucap Riky pada akhirnya dan diangguki oleh Alena.


Saat ini masih pukul setengah sembilan malam. Alena merasa malu pada Ajeng dan mertuanya yang di temuinya di ruang keluarga. Pasalnya, tadi Ajeng mengetuk pintu meminta mereka makan malam. Namun tidak dijawabnya karena mulutnya sedang dibekap mulut suaminya.


Lain halnya dengan Riky. Pria itu berjalan cuek ke arah meja makan sambil memegangi perutnya yang lapar. Melihat hal itu, Widiya meminta ARTnya menghangatkan sayur untuk putra dan menatunya.


"Sudah pada makan, Ma?" Tanyanya.


"Sudah, dari tadi ditungguin. Kalian mau pergi?"


"Iya. Mau ke club bertemu Maliek cs," sahut Riky sambil menyuapkan lauk.


"Sama Alena?" Riky yang sedang mengunyah itupun mengangguk.


"Lena, makan dulu jangan cuma minum susu. Apalagi kamu mau keluar malam. Jangan terlalu larut ya pulangnya. Kamu jangan mabuk, Rik." Nasihatnya.


"Siap, Ma," sahut Riky yang mulai menyendokkan nasi.

__ADS_1


"Mama ini, Alena kan pergi sama suaminya. Pake segala banyak aturan," ujar Salim yang mendekati mereka.


"Yee, Papa. Kapan lagi mama bisa begini. Biar aja, nanti dia kangen sama omelan mama. Biar sering pulang. Jangan mentang-mentang tinggal sama Riky, kita dilupakan." Deliknya.


Alena merasa terharu mendengarnya. Dipeluknya Mama Widiya sambil tersenyum tipis.


"Akan Riky usahakan agar Alena sering pulang, Ma."


"Janji ya." Widiya membalas pelukan Alena. Baginya, Alena tidak hanya sebagai menantunya tapi sudah seperti anak bungsunya. Entah bagaimana nanti hari-hari yang akan dilewatinya tanpa Alena.


***


Dari ruang VIP sebuah club ternama, samar-samar terdengar hentakan musik di luar sana. Tiga pria berpenampilan maskulin nampak sedang mengobrol ringan sambil diselingi tawa.


"Yang benar, Vin? Gila ya itu orang. Tapi jujur gue salut sama keberaniannya. Nggak kebayang gimana marahnya itu si Riky. Beuh, bayangin aja ada cowok lain nembak bininya. Masih untung dia nggak bunuh itu orang," ujar Rafael.


"Loe nggak kasih peringatan sama orang itu, Vin? Loe tahu kan Riky gimana? Jangan sampai dia gelap mata," ujar Maliek.


"Nggak lah. Dia nggak akan nekat. Hari Minggu juga Alena mau dibawa ke sana," sahut Alvin sambil menyesap sigaretnya.


"Bukannya minggu depan? Dasar si Riky..."


"Apa loe, Raf? Nyebut-nyebut nama gue," sahut Riky yang baru memasuki ruangan itu.


Ketiga pria itu menoleh dan terkesiap melihat Riky menggandeng mesra seorang wanita.


"Liek, gue nggak salah lihat kan? Itu benar Alena kan?" Rafael menatap heran pada pasangan yang mendekat pada mereka.


"Memangnya loe pikir siapa, heh? Memangnya gue pernah bawa cewek selain Alena?" delik Riky pada Rafael.


"Nggak pernah. Aneh aja, loe bawa bini loe ke tempat begini." Sahutnya.


"Dari pada bawa bini orang, berabe urusannya." Seringainya.


"Kak Alvin," sapa Alena menghampiri dan menyandarkan kepalanya di pundak Alvin.


"Kamu nggak apa-apa?" Alvin menatap sambil tersenyum tipis pada adiknya.


"Enggak," geleng Alena.


"Hai, Kak Maliek! Kak Rafael!" sapa Alena pada dua pria yang juga kerabatnya.


"Sayang, di sini duduknya." Riky menepuk tempat kosong di sisinya. Alena beranjak dan menurutinya. Sementara itu ketiga pria di sana mengulumkan senyum sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


🌿


Hai, Readers🤗🤗 Happy weekend ya. Sehat selalu untuk kalian😊


__ADS_2